Jangan Cuma Suruh Anak Diam! Begini Cara Orangtua Mengajarkan Anak Mengelola Emosi

Must read

EDUCARE.CO.ID – Anak tidak langsung mampu mengendalikan emosi sejak lahir. Mereka perlu belajar mengenali perasaan, memahami penyebabnya, hingga menemukan cara yang tepat untuk merespons emosi.

Proses tersebut berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua dan orang dewasa di sekitar anak memiliki peran besar karena anak belajar dari apa yang mereka lihat.

Psikolog perkembangan anak Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus anggota ECED Council Indonesia, Marisa F. Moeliono, mengatakan regulasi emosi menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak.

Kemampuan regulasi emosi juga menjadi salah satu fondasi bagi proses belajar dan hubungan sosial anak.

“Anak tidak lahir dengan kemampuan untuk mengelola emosinya secara matang. Seiring bertambahnya usia, anak belajar mengenali apa yang dirasakan, memberi nama pada emosi, memahami penyebabnya, mengungkapkannya dengan cara yang dapat diterima, lalu perlahan mengatur dirinya,” jelas Marisa.

Menurutnya, kemampuan tersebut bukan hanya berkaitan dengan cara anak berhenti menangis atau mengurangi tantrum. Regulasi emosi membantu anak berkomunikasi, menghadapi konflik, meminta bantuan, membangun hubungan, dan beradaptasi dengan berbagai kondisi.

Anak Belajar Mengelola Emosi dari Contoh

Nasihat orangtua bukan satu-satunya cara anak belajar mengelola emosi. Justru, perilaku orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari menjadi contoh yang sangat kuat bagi anak.

Marisa menjelaskan, anak mengamati bagaimana orang dewasa menghadapi rasa lelah, marah, kecewa, maupun konflik.

“Cara orang dewasa menghadapi lelah, marah, kecewa, konflik, hingga meminta maaf menjadi bagian dari pengalaman belajar emosi anak. Dengan demikian, orang dewasa menjadi salah satu ‘sekolah emosi’ pertama bagi anak,” terangnya.

Misalnya, orangtua meminta anak tidak berteriak ketika marah. Namun, pada situasi tertentu, orangtua justru berteriak atau membanting benda.

Anak akhirnya menerima dua pesan sekaligus. Satu pesan berasal dari perkataan orangtua. Pesan lainnya muncul dari perilaku yang mereka lihat.

Proses belajar melalui pengamatan tersebut dikenal sebagai modeling. Anak meniru dan memahami perilaku melalui contoh dari orang-orang di lingkungan terdekat.

Meta-analisis Zimmer-Gembeck dan rekan-rekan pada 2022 yang mencakup 53 studi juga menemukan hubungan antara regulasi emosi orangtua, pola pengasuhan, dan penyesuaian anak.

Karena itu, orangtua tidak harus selalu tenang. Mereka tetap bisa marah atau kecewa.

Yang lebih penting adalah cara orangtua mengelola emosi tersebut. Anak juga perlu melihat bagaimana orang dewasa memperbaiki keadaan setelah konflik.

“Yang penting adalah bagaimana emosi tersebut dikelola dan apa yang dilakukan setelahnya,” kata Marisa.

Anak Membutuhkan Co-Regulation

Pada usia dini, anak belum mampu mengatur emosinya secara mandiri. Mereka masih membutuhkan bantuan orang dewasa.

Proses ini dikenal sebagai co-regulation. Orangtua membantu anak menenangkan diri sekaligus memahami apa yang sedang mereka rasakan.

Ketika anak marah atau kecewa, orangtua dapat membantu menenangkan anak terlebih dahulu. Setelah kondisi lebih stabil, orangtua bisa mengajak anak membicarakan perasaannya.

Pendekatan tersebut membantu anak memahami bahwa setiap emosi boleh dirasakan. Namun, setiap emosi tetap membutuhkan respons yang aman.

Marisa menekankan pentingnya membedakan antara emosi dan perilaku.

“Emosi boleh dirasakan, tetapi perilaku tetap membutuhkan batas. Anak boleh marah, tetapi tidak boleh memukul. Anak boleh kecewa, tetapi tidak boleh menyakiti temannya,” jelas Marisa.

Emotion Coaching Bantu Anak Mengenali Perasaan

Orangtua juga dapat menerapkan pendekatan emotion coaching dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini membantu anak mengenali emosinya. Orangtua juga dapat memvalidasi perasaan anak dan menetapkan batas perilaku.

Setelah itu, orangtua membimbing anak mencari cara yang lebih tepat untuk merespons situasi.

Misalnya, ketika anak kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi, orangtua tidak perlu langsung meminta anak berhenti menangis.

Orangtua dapat membantu anak menyebutkan perasaannya. Setelah itu, jelaskan alasan di balik aturan dan tunjukkan pilihan perilaku yang aman.

Dengan cara tersebut, anak perlahan belajar bahwa rasa marah, sedih, atau kecewa merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Guru Juga Punya Peran Penting

Pembelajaran emosi tidak berhenti di rumah. Ketika anak memasuki satuan pendidikan, guru dan teman sebaya ikut membentuk pengalaman sosial mereka.

Guru dapat membantu anak mengenali emosi dan melakukan co-regulation. Konflik yang muncul di kelas juga dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar.

Sementara itu, interaksi dengan teman sebaya mengajarkan berbagai keterampilan sosial. Anak belajar berbagi, menunggu giliran, bernegosiasi, menghadapi kekecewaan, dan menyelesaikan konflik.

Pengalaman tersebut membantu anak membangun kemampuan regulasi emosi secara bertahap.

Karena itu, rumah dan sekolah perlu memberikan pesan yang konsisten. Anak akan lebih mudah belajar ketika lingkungan di sekitarnya menggunakan cara yang serupa dalam menghadapi emosi dan konflik.

Lingkungan Menjadi “Sekolah Emosi” Anak

Menurut Marisa, orang dewasa perlu membangun lingkungan yang mendukung proses belajar emosi.

Tujuannya bukan sekadar membuat anak selalu tenang. Anak juga perlu memahami apa yang mereka rasakan dan belajar mengelolanya.

“Jika anak belajar mengelola emosi dari lingkungannya, maka yang perlu dibangun bukan hanya kemampuan anak untuk ‘tenang’, tetapi lingkungan yang membantu mereka memahami dan mengelola emosi,” ucapnya.

Di rumah, orangtua dapat membiasakan percakapan tentang perasaan. Orangtua juga dapat mendengarkan cerita anak, menetapkan batas, dan memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.

Di sekolah, guru dapat menggunakan kosakata emosi dalam kegiatan sehari-hari. Guru juga dapat membantu anak menenangkan diri dan menjadikan konflik sebagai bagian dari pembelajaran.

Sementara itu, lingkungan sosial yang lebih luas juga memberikan pengaruh. Anak perlu melihat orang dewasa menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan.

Mereka juga perlu melihat orang dewasa berani mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Anak Meniru Cara Orang Dewasa Menghadapi Konflik

Anak yang setiap hari melihat teriakan, ancaman, atau penghinaan dapat menganggap perilaku tersebut sebagai cara menghadapi konflik.

Sebaliknya, anak yang melihat orang dewasa menenangkan diri akan mendapat contoh berbeda.

Mereka belajar bahwa seseorang dapat marah tanpa menyakiti orang lain. Mereka juga belajar bahwa konflik dapat diselesaikan melalui komunikasi, permintaan maaf, dan perbaikan hubungan.

Karena itu, pendidikan emosi tidak hanya berlangsung ketika anak mengalami tantrum. Proses tersebut berjalan setiap hari melalui berbagai interaksi sederhana.

Respons Orangtua Menjadi Bagian dari Pendidikan Emosi

Pada akhirnya, tujuan pendidikan emosi bukan menciptakan anak yang selalu tenang. Orangtua juga tidak harus menjadi sosok yang tidak pernah kehilangan kesabaran.

Yang terpenting adalah bagaimana orang dewasa merespons emosi anak. Setiap respons dapat menjadi pengalaman belajar.

“Saat anak kembali menangis atau berguling di lantai, pertanyaannya bukan hanya bagaimana membuatnya segera diam, tetapi apa yang sedang dia pelajari dari cara kita meresponsnya. Karena setiap respons orang dewasa menjadi bagian dari sekolah emosi anak,” tutup Marisa.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak dapat belajar mengenali perasaan, memahami batas perilaku, dan mengembangkan cara yang lebih sehat dalam menghadapi berbagai situasi.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article