EDUCARE.CO.ID – Kemampuan memecahkan masalah atau problem solving menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi berbagai situasi sehari-hari. Keterampilan ini tidak harus dilatih lewat kegiatan belajar yang serius.
Anak justru bisa mengembangkan kemampuan tersebut melalui pengalaman sederhana di rumah. Orangtua dapat memberi ruang bagi anak untuk berpikir, mencoba, dan mencari jalan keluar sendiri.
Psikolog berlisensi Dr. Connie McReynolds mengatakan anak perlu memahami bahwa mengalami kebuntuan saat menghadapi masalah merupakan bagian dari proses belajar.
Berdasarkan keterangan yang disadur dari Parade, McReynolds mendorong orangtua untuk tidak terburu-buru memberikan jawaban ketika anak menghadapi kesulitan.
Sebaliknya, orangtua dapat membantu anak berhenti sejenak, menyusun kembali pikirannya, lalu mencari beberapa kemungkinan solusi.
1. Beri Anak Waktu untuk Berhenti Sejenak
Ketika menghadapi masalah, anak tidak selalu bisa langsung menemukan jawabannya. Kondisi tersebut merupakan bagian dari proses belajar.
McReynolds menjelaskan, anak perlu memahami bahwa kebuntuan bukan berarti mereka gagal.
“Mengalami kebuntuan merupakan bagian normal dari proses belajar dan merupakan bagian dari kehidupan,” jelas McReynolds.
Karena itu, orangtua dapat mengajarkan anak untuk mengambil jeda. Anak bisa berhenti sejenak, menenangkan diri, kemudian mencoba melihat masalah dari sudut pandang berbeda.
Kesalahan juga tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Anak justru dapat belajar dari kesalahan yang mereka lakukan.
Menurut McReynolds, mengambil waktu untuk beristirahat juga dapat membantu ketika anak merasa kewalahan.
“Meluangkan waktu untuk beristirahat merupakan bagian dari pemecahan masalah, bukan berarti menyerah,” ujarnya.
Aktivitas fisik juga dapat membantu anak mengatur kembali perhatian. Gerakan tubuh dapat mendukung kemampuan seperti perhatian, memori kerja, dan fleksibilitas mental.
2. Ajak Anak Memikirkan Beberapa Solusi
Setelah anak memahami masalahnya, orangtua dapat mengajak mereka mencari lebih dari satu kemungkinan jawaban.
Jangan langsung mencari solusi yang paling sempurna. Biarkan anak mengeluarkan berbagai ide terlebih dahulu.
McReynolds menyebut proses brainstorming dapat membantu anak memahami bahwa tidak semua gagasan harus langsung berhasil.
“Melakukan brainstorming terhadap beberapa ide mengajarkan bahwa ide yang belum sempurna merupakan bagian dari proses,” jelasnya.
Setelah memiliki beberapa pilihan, anak dapat memilih salah satu solusi untuk dicoba. Proses tersebut melatih mereka berpikir fleksibel dan praktis.
Orangtua juga sebaiknya menahan diri untuk langsung memberikan jawaban.
“Saya juga menyarankan agar orangtua mendorong anak melihat beberapa kemungkinan solusi daripada langsung memberikan jawabannya,” ujar McReynolds.
Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk membangun kemampuan berpikir dan mengambil keputusan.
3. Biasakan Anak Mencoba dan Memperbaiki
Problem solving tidak berhenti ketika anak menemukan sebuah solusi. Mereka juga perlu mendapat kesempatan untuk mencoba solusi tersebut.
Jika hasilnya belum sesuai harapan, bantu anak mengevaluasi kembali. Setelah itu, ajak mereka mencoba cara lain.
McReynolds menilai proses tersebut penting karena anak perlu memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari pembelajaran.
“Melihat hal tersebut diperagakan dalam tayangan televisi membuat mereka melihat kesalahan sebagai sesuatu yang normal dan memahami bahwa kegigihan serta mencoba kembali adalah hal yang memang kita lakukan,” terangnya.
Orangtua dapat menerapkan pola serupa dalam aktivitas sehari-hari. Mulailah dengan membantu anak mengenali masalah.
Setelah itu, beri waktu untuk menenangkan diri. Kemudian, ajak anak mengeksplorasi beberapa kemungkinan jawaban.
Jangan Terburu-buru Menyelesaikan Masalah Anak
Orangtua tentu ingin membantu ketika anak menghadapi kesulitan. Namun, bantuan tidak selalu berarti memberikan jawaban.
Terkadang, anak justru membutuhkan kesempatan untuk mencoba sendiri. Mereka perlu merasakan proses mencari solusi, melakukan kesalahan, dan memperbaiki pilihan.
Pendampingan seperti ini membuat anak tidak hanya belajar menyelesaikan satu masalah. Mereka juga belajar menghadapi masalah berikutnya dengan cara yang lebih mandiri.
McReynolds menilai, memberi anak ruang untuk mengeksplorasi menjadi salah satu bentuk dukungan penting dalam perkembangan kemampuan problem solving.
“Memberikan anak waktu, ruang, dan dukungan untuk mengeksplorasi merupakan hadiah yang luar biasa dan tidak membutuhkan biaya apa pun selain waktu,” ujar McReynolds.
Problem Solving Bisa Dilatih dari Hal Sederhana
Kemampuan memecahkan masalah tidak harus menunggu anak mengikuti aktivitas khusus. Orangtua dapat melatihnya melalui berbagai situasi sehari-hari.
Ketika mainan rusak, misalnya, anak dapat diajak mencari penyebab dan mencoba memperbaikinya. Saat menghadapi konflik dengan teman, orangtua juga bisa mengajak anak memikirkan beberapa cara untuk menyelesaikannya.
Kuncinya adalah memberi ruang bagi anak untuk berpikir dan mencoba. Orangtua tetap mendampingi, tetapi tidak mengambil alih seluruh proses.
Dengan kebiasaan tersebut, anak perlahan belajar bahwa masalah tidak selalu harus langsung memiliki satu jawaban. Mereka dapat berhenti, berpikir, mencoba, mengevaluasi, lalu mencari cara lain jika diperlukan.

