EDUCARE.CO.ID – Kulit buah naga merah selama ini lebih sering berakhir sebagai limbah. Namun, dua mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin melihat peluang berbeda. Mereka mengolah ekstrak kulit buah naga menjadi kandidat bahan aktif alami untuk produk perawatan kulit anti-inflamasi.
Kedua mahasiswa tersebut ialah Shofhah Raihanasari dari Program Studi Agribisnis dan Muhammad Rizqi Maulana dari Program Studi Peternakan. Di bawah bimbingan Fuzi Maulana Ash’ari, S.Pt., M.P., keduanya mengembangkan inovasi dengan konsep “From Waste to Beauty”.
Menariknya, karya ilmiah berjudul “Hilirisasi Komoditas Hortikultura: Pemanfaatan Ekstrak Antosianin Kulit Buah Naga Merah sebagai Bahan Aktif dalam Produk Perawatan Kulit Anti-Inflamasi” tersebut berhasil meraih Medali Emas (Gold Medal) dan Favorite Poster dalam 3rd International Student Competition (ISC) di Thailand pada 8–9 Agustus 2026.
Dari Limbah Pertanian Menjadi Kandidat Bahan Aktif Skincare
Gagasan mahasiswa UNISKA MAB berangkat dari persoalan limbah kulit buah naga. Bagian kulit dapat mencapai sekitar 30–35 persen dari total berat buah. Karena itu, jumlah limbahnya cukup besar ketika masyarakat hanya memanfaatkan bagian daging buah.
Padahal, kulit buah naga merah menyimpan sejumlah senyawa bioaktif. Di antaranya terdapat antosianin, betalain, dan senyawa fenolik.
Senyawa tersebut memiliki potensi sebagai antioksidan dan penangkal radikal bebas. Selain itu, kandungan bioaktifnya juga berpotensi membantu mengurangi peradangan.
Tim kemudian mengeksplorasi potensi ekstrak antosianin sebagai bahan aktif untuk produk perawatan kulit. Dengan pendekatan tersebut, limbah pertanian tidak lagi sekadar menjadi sisa produksi. Sebaliknya, kulit buah naga dapat menjadi bahan yang memiliki nilai tambah.
Ekstrak Kulit Buah Naga Berpotensi Redakan Peradangan
Dalam pengujian yang dilakukan tim, ekstrak kulit buah naga menunjukkan potensi dalam membantu meredakan peradangan akibat paparan sinar ultraviolet (UV).
Selain itu, ekstrak tersebut juga menunjukkan potensi dalam membantu pemulihan ketebalan lapisan epidermis. Tim juga melihat peluang perlindungan terhadap sel dari kerusakan akibat paparan radikal bebas.
Meski demikian, temuan tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan penelitian. Artinya, ekstrak kulit buah naga belum dapat langsung dianggap sebagai produk skincare siap pakai.
Tim masih membutuhkan pengujian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas, keamanan, formulasi, serta konsistensi bahan aktif sebelum inovasi dapat dikembangkan menjadi produk yang digunakan masyarakat.
Gunakan Teknologi Ekstraksi yang Lebih Ramah Lingkungan
Selain fokus pada manfaat bahan, tim juga memperhatikan proses ekstraksinya. Mereka menggunakan pendekatan Green Extraction Innovation berbasis Natural Deep Eutectic Solvents (NADES) yang dikombinasikan dengan teknologi Microwave-assisted.
Metode tersebut membantu tim mengambil senyawa aktif dari kulit buah naga dalam bentuk ekstrak cair maupun bubuk yang kaya antosianin.
Pendekatan ini juga mendukung upaya mengurangi penggunaan bahan kimia yang berpotensi berbahaya. Karena itu, proses pengembangan tidak hanya mengejar hasil akhir, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan.
Lebih jauh, tim menghubungkan inovasi tersebut dengan konsep circular bio-economy. Melalui konsep ini, limbah pertanian kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan dan menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Selaras dengan Konsep Ekonomi Sirkular
Pemanfaatan kulit buah naga sebagai bahan aktif skincare juga memiliki kaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Pertama, inovasi tersebut mendukung SDGs 3 melalui eksplorasi bahan untuk bidang kesehatan. Kemudian, pengembangan produk bernilai tambah berkaitan dengan SDGs 8 tentang pertumbuhan ekonomi.
Selanjutnya, penggunaan teknologi ekstraksi dan pengembangan produk inovatif sejalan dengan SDGs 9 mengenai inovasi dan industri. Sementara itu, pengolahan limbah menjadi produk baru mendukung SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, proyek mahasiswa UNISKA MAB tidak hanya mengangkat isu skincare. Mereka juga membawa persoalan limbah pertanian, teknologi, inovasi, dan keberlanjutan dalam satu gagasan.
Bawa Pulang Dua Penghargaan dari Thailand
Kerja keras tim berbuah prestasi di tingkat internasional. Dalam 3rd International Student Competition (ISC) di Thailand, inovasi tersebut meraih Gold Medal sekaligus penghargaan Favorite Poster.
Ketua tim, Shofhah Raihanasari, mengaku bangga karena karya mereka mampu bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi.
“Ini merupakan kebanggaan bagi kami yang mampu bersaing dengan mahasiswa dari kampus ternama lainnya secara internasional, terlebih lagi kami mendapatkan dua penghargaan sekaligus yakni medali emas dan anugerah poster favorit,” ungkap Shofhah.
Prestasi tersebut menjadi capaian tersendiri bagi Fakultas Pertanian UNISKA MAB. Sebab, mahasiswa dari dua program studi berbeda dapat menggabungkan perspektif Agribisnis dan Peternakan untuk mengembangkan inovasi berbasis komoditas hortikultura.
Shofhah Ikuti Student Mobility di Malaysia
Di tengah pencapaiannya, Shofhah juga memperluas pengalaman akademik melalui program Student Mobility One Semester di Inti International University Malaysia.
Program tersebut berlangsung selama satu semester, mulai Agustus hingga Desember 2026.
Kesempatan itu memberi ruang bagi Shofhah untuk mendapatkan pengalaman akademik di lingkungan internasional. Sementara itu, pengalaman mengikuti kompetisi di Thailand juga menjadi bagian dari perjalanan pengembangan kompetensinya.
UNISKA MAB Dorong Mahasiswa Berani ke Ajang Internasional
Dekan Fakultas Pertanian UNISKA MAB Banjarmasin, Prof. Dr. Ir. Hj. Tintin Rostini, S.Pt., M.P., IPM, Asean Eng., turut mengapresiasi pencapaian tim.
Menurutnya, prestasi tersebut dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk mengembangkan potensi dan berani mengikuti kompetisi internasional.
“Hasil ini semoga bisa memotivasi rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk dapat mencapai prestasi internasional lainnya, selain itu dapat mengikuti program lainnya yang ditawarkan, seperti student mobility one semester dan kegiatan lainnya,” ujarnya.
Dorongan tersebut penting karena kompetisi internasional dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan, memperluas jejaring, sekaligus memperkenalkan inovasi dari kampus Indonesia.
Kulit Buah Naga Jadi Contoh Limbah yang Punya Nilai Tambah
Inovasi mahasiswa UNISKA MAB menunjukkan bahwa limbah pertanian masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Kulit buah naga yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini mereka eksplorasi sebagai sumber senyawa bioaktif.
Namun, perjalanan dari hasil penelitian menuju produk skincare komersial masih panjang. Tim perlu melakukan penelitian dan pengujian lanjutan untuk memastikan keamanan serta efektivitasnya.
Pada akhirnya, konsep “From Waste to Beauty” tidak hanya menawarkan gagasan tentang bahan skincare. Lebih dari itu, inovasi ini memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat melihat persoalan limbah dari sudut pandang baru.
Jika pengembangan terus berlanjut, kulit buah naga merah berpotensi menjadi salah satu contoh pemanfaatan limbah hortikultura menjadi bahan bernilai tambah sekaligus mendukung ekonomi sirkular.
Penulis: Andini Namira Saskirana


