educare.co.id, Surabaya – Setelah libur panjang Idul Fitri, pasar keuangan Indonesia dibuka dengan catatan negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah signifikan, disusul oleh tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor dan memantik analisis dari para ahli ekonomi.
Pakar Ekonomi Internasional dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD, menilai penurunan tajam IHSG merupakan sinyal adanya ketegangan psikologis di pasar.
“Kalau sudah di atas 2 persen itu berarti ada faktor psikologis pasar yang mempengaruhi investor,” tegasnya.
Bukan karena Fundamental Emiten
Menurut Prof Rossanto, gejolak ini tidak berkaitan langsung dengan kondisi keuangan perusahaan di bursa, yang justru masih menunjukkan performa solid. Ia menyebut beberapa emiten besar seperti Bank Mandiri dan BRI tetap dalam kondisi sehat dan rutin membagikan dividen kepada pemegang saham.
“Saat ini, investor yang berorientasi pada capital gain cenderung mengambil langkah cepat untuk menjual saham, meskipun secara fundamental perusahaan masih sehat,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ketakutan investor seringkali menyebar secara global, menciptakan efek domino yang memicu aksi jual massal. Ketika investor dari negara besar seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Tiongkok mulai melepas aset mereka, investor Indonesia cenderung ikut terdorong melakukan hal serupa.
“Investor itu menular. Ketika semua jual saham karena takut rugi, maka harga saham pun akan anjlok secara drastis,” ungkapnya.
Kepanikan Bisa Diredam Lewat Kepercayaan
Dalam situasi seperti ini, peran pemerintah dinilai sangat krusial untuk menjaga stabilitas dan memberikan rasa aman kepada pelaku pasar. Prof Rossanto menekankan bahwa kepanikan lebih sering dipicu oleh ketidakpastian arah kebijakan, bukan semata-mata oleh kondisi ekonomi makro.
“Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan investor adalah rasa aman. Pemerintah harus bisa menunjukkan bahwa kondisi tetap terkendali, dan itu bisa dilakukan lewat komunikasi yang efektif dan kebijakan yang konsisten,” jelasnya.
Ia juga memberikan saran kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan tergesa-gesa. Menurutnya, situasi ini bersifat sementara dan berpeluang pulih dalam waktu satu tahun, seiring dengan penyesuaian dari berbagai sektor ekonomi.
“Bagi masyarakat yang memiliki kelebihan aset dan khawatir terhadap penurunan nilai saham, rupiah, atau aset lainnya, dapat mempertimbangkan untuk mengalihkan dana ke aset yang lebih aman seperti emas, yang dikenal sebagai safe haven, atau ke instrumen deposito yang cenderung bebas risiko,” pungkasnya.
Selain itu, ia mengimbau masyarakat agar berhati-hati dalam mengelola aset, menghindari pembelian properti atau kendaraan yang tidak mendesak, serta berpikir matang sebelum membuka usaha dengan prospek lemah, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.



