FPCI Gelar Pemutaran Film Dokumenter Perdamaian Aceh “The Last Accord” di USK

EduNews

educare.co.id, Banda Aceh – Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) mengadakan pemutaran eksklusif film dokumenter bertema perdamaian Aceh berjudul The Last Accord: War, Apocalypse, and Peace in Aceh di Universitas Syiah Kuala (USK). Kegiatan ini berlangsung di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan disaksikan oleh ratusan mahasiswa.

Film dokumenter ini menampilkan kisah nyata perjuangan menuju perdamaian di Aceh melalui wawancara dengan para tokoh penting dari Pemerintah Indonesia, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mediator dari Crisis Management Initiative (CMI) Finlandia, serta pihak-pihak lain yang berperan langsung dalam proses perdamaian tersebut.

Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan, menyambut positif kegiatan ini dan menilai film tersebut sebagai refleksi penting atas sejarah bangsa. Ia juga menekankan nilai-nilai penting yang terkandung dalam proses perdamaian seperti diplomasi, keberanian berdialog, dan komitmen bersama.

“Dokumenter ini menjadi catatan penting dalam perjalanan bangsa dan sangat relevan untuk ditonton dan didiskusikan, terutama oleh generasi muda,” ucap Rektor.

Mantan Menteri Hukum dan HAM sekaligus tokoh utama dalam perundingan damai dari pihak Pemerintah Indonesia, Hamid Awalludin, turut memberikan sambutan secara daring. Ia mengungkapkan tantangan berat yang dihadapinya kala itu, mulai dari memahami kondisi psikologis para pihak hingga menghadapi tekanan dari dalam negeri.

“Inti perdamaian itu adalah memberi martabat terhadap nyawa dan harapan manusia. Kalau kita damai, masa depan itu bisa kita proyeksikan. Dan memulai kerja apa yang kita impikan di masa depan,” ucapnya.

Sementara itu, perwakilan GAM dalam perundingan, Nur Djuli, yang hadir langsung dalam acara, menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan proses damai tersebut. Ia juga mengingatkan kembali pesan dari mediator utama, Martti Ahtisaari, tentang pentingnya implementasi menyeluruh dari setiap poin perjanjian perdamaian.

BACA JUGA:  Menyulam Masa Depan Anak Bangsa: Fokus Anggaran Pendidikan Rp52,12 Triliun di Tahun 2026

“Jadi kalau kita mau perdamaian itu berkelanjutan. Aman dan damai dan seterusnya, maka kita harus melakukan setiap butir perjanjian yang sudah kita sepakati,” ucap Nur Djuli.

Pemutaran film ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya resolusi konflik yang bermartabat dan keberlanjutan perdamaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *