Dosen Psikologi UNAIR Bahas Fenomena Silent Quitting di Dunia Kerja
educare.co.id, Surabaya – Fenomena silent quitting atau pengunduran diri secara diam-diam tengah menjadi sorotan di dunia kerja. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Fajrianthi, M.Psi., Psikolog, turut memberikan pandangannya terkait tren ini dengan menyoroti peran penting budaya organisasi dalam membentuk perilaku karyawan.
Menurut Fajrianthi, silent quitting merupakan respons terhadap berbagai tekanan di tempat kerja, seperti ketidakpuasan, ketidakseimbangan kehidupan kerja, kelelahan (burnout), serta kepemimpinan yang tidak efektif.
“Fenomena ini muncul ketika karyawan merasa tidak mendapat dukungan, kehilangan keterhubungan dengan organisasi, atau berada dalam lingkungan kerja bertekanan tinggi,” jelasnya.
Melalui pendekatan psikologi, silent quitting dapat dijelaskan melalui beberapa teori, di antaranya engagement theory, yang menunjukkan bahwa kurangnya keterlibatan emosional dapat mendorong perilaku pasif, serta embeddedness theory, yang menggambarkan karyawan tetap bertahan secara fisik dalam pekerjaan, namun menarik diri secara emosional. Selain itu, Model Job Demands-Resources (JD-R) juga menyoroti ketidakseimbangan antara tuntutan kerja yang tinggi dan keterbatasan sumber daya sebagai pemicu kelelahan dan penarikan diri.
Faktor Psikologis Pemicu Silent Quitting
Lebih jauh, Fajrianthi mengungkapkan sejumlah faktor psikologis yang berkontribusi terhadap silent quitting, seperti stres berkepanjangan yang berujung pada burnout, ketidakpuasan kerja karena kurangnya apresiasi, minimnya dukungan organisasi, hingga budaya kerja yang toxic.
Ia juga menyoroti bahwa berdasarkan beberapa studi, fenomena ini banyak ditemukan pada generasi milenial dan Gen Z. Kedua generasi ini dinilai lebih mengutamakan keseimbangan kehidupan kerja dan mencari makna dalam pekerjaan mereka.
“Ketika harapan ini tidak terpenuhi, mereka cenderung menarik diri secara emosi dari pekerjaan,” terangnya.
Fajrianthi menegaskan bahwa budaya organisasi memegang peranan penting dalam mencegah atau memperparah fenomena silent quitting. Budaya yang sehat, dengan komunikasi terbuka dan dukungan nyata terhadap kesejahteraan karyawan, dinilai mampu meningkatkan keterlibatan di tempat kerja.
“Sebaliknya, budaya negatif yang dicirikan oleh hierarki yang kaku, kurangnya transparansi, dan kompetisi internal dapat menjauhkan karyawan, memicu ketidakpedulian, dan pada akhirnya mengarah pada silent quitting,” lanjut Fajrianthi.
Sebagai langkah pemulihan, ia merekomendasikan berbagai strategi, mulai dari memperkuat dukungan organisasi, mengembangkan kepemimpinan yang lebih baik, memperbaiki pola komunikasi, hingga memberikan otonomi dan fleksibilitas kerja bagi karyawan.
