EDUCARE.CO.ID – Limbah ampas tebu tak selamanya berakhir sebagai sampah. Mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) di Aceh Barat mengolah limbah tersebut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Melalui inovasi Kitty Cane, mereka mengembangkan pasir kucing organik berbahan dasar serat ampas tebu. Produk ini menawarkan alternatif pasir kucing sekaligus membawa konsep pemanfaatan limbah yang lebih ramah lingkungan.
Berdasarkan sumber Universitas Teuku Umar (UTU), inovasi Kitty Cane lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K). Program tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Belmawa serta Universitas Teuku Umar.
Berawal dari Limbah Usaha Minuman
Ide Kitty Cane muncul dari persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Usaha minuman di Aceh Barat menghasilkan banyak ampas tebu yang belum termanfaatkan secara optimal.
Tim mahasiswa kemudian melihat peluang dari kondisi tersebut. Mereka mempelajari karakteristik serat ampas tebu dan menemukan daya serap yang dapat dimanfaatkan.
Dari sana, tim mengembangkan serat tersebut menjadi bahan dasar pasir kucing.
Ketua Tim PKM-K Fathul Ula mengatakan gagasan tersebut berangkat dari keinginan untuk mengubah limbah lokal menjadi produk yang memiliki manfaat.
“Kami melihat banyak ampas tebu yang terbuang. Setelah dipelajari, seratnya memiliki daya serap yang baik. Dari situlah muncul ide untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomis,” ujar Fathul.
Kitty Cane Gunakan Serat Ampas Tebu dan Karbon Aktif
Kitty Cane hadir dalam bentuk buliran. Tim menggunakan serat ampas tebu sebagai bahan utama produk.
Selain itu, mereka memadukannya dengan karbon aktif. Bahan tersebut membantu menyerap bau sehingga pasir kucing memiliki fungsi yang lebih sesuai untuk kebutuhan pengguna.
Produk ini juga membawa konsep ramah lingkungan. Material berbahan dasar serat ampas tebu dapat terurai secara alami.
Dengan pendekatan tersebut, Kitty Cane tidak hanya menawarkan produk alternatif untuk kebutuhan hewan peliharaan. Inovasi ini juga mengangkat potensi limbah lokal sebagai bahan yang lebih bernilai.
Kolaborasi Mahasiswa Dorong Potensi Bisnis
Dosen Pembimbing Tim Rusma Setiyana, S.Pd.I., M.Pd., menilai Kitty Cane lahir dari kolaborasi mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang beragam.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan produk. Mahasiswa tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga belajar melihat peluang usaha dari persoalan di sekitar mereka.
Menurut Rusma, inovasi seperti Kitty Cane dapat membuka ruang bagi pengembangan kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan PKM-K tidak berhenti pada penciptaan produk. Mahasiswa juga belajar menghubungkan persoalan lingkungan dengan peluang ekonomi.
Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi
Kitty Cane menunjukkan bagaimana limbah ampas tebu dapat memperoleh nilai baru melalui kreativitas mahasiswa.
Ampas tebu yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal kini menjadi bahan untuk mengembangkan produk pasir kucing organik.
Selain memberi manfaat bagi kebutuhan hewan peliharaan, inovasi tersebut membawa pesan tentang pentingnya memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.
Bagi mahasiswa UTU, Kitty Cane juga menjadi pengalaman dalam mengembangkan kewirausahaan. Mereka belajar mengolah persoalan lokal menjadi gagasan produk yang memiliki peluang ekonomi.
Ke depan, inovasi tersebut diharapkan terus berkembang. Kitty Cane dapat menjadi salah satu contoh bahwa kreativitas mahasiswa mampu membuka peluang usaha sekaligus mendorong pemanfaatan limbah secara lebih optimal.


