EDUCARE.CO.ID – Bahan pangan yang kurang mendapat perhatian ternyata masih bisa memiliki nilai tambah. Tim NGEBUL dari Institut Teknologi Bandung (ITB) membuktikannya lewat POWER PUFF, inovasi filled breakfast cereal yang memanfaatkan sejumlah komoditas food loss Indonesia.
Inovasi tersebut membawa Tim NGEBUL meraih juara 3 Food Product Development Competition (FPDC) 2026, kompetisi pengembangan produk pangan yang berkolaborasi dengan Food Ingredients Asia (Fi Asia).
Berdasarkan sumber laman resmi Institut Teknologi Bandung (ITB), Tim NGEBUL beranggotakan Nesha Thalia Azzahra Ginting, Herawaty Marito Purba, Azka Nurawwali Sakhiyyah, Nadifa Rhoosan, dan Kamila Aulia Zahra.
Mereka mengikuti babak final FPDC 2026 dalam rangkaian pameran di JIEXPO Jakarta pada 16–18 September 2026. Ajang tersebut mempertemukan mahasiswa dengan praktisi serta pelaku industri pangan.
Tak hanya mempresentasikan produk di hadapan juri, para finalis juga memperkenalkan inovasinya secara langsung kepada pengunjung dan menerima berbagai masukan untuk pengembangan produk.
Pisang, Ampas Tomat, dan Beras Menir Jadi Bahan Utama
POWER PUFF hadir dengan konsep yang cukup berbeda. Tim memanfaatkan tiga bahan food loss, yakni pisang hijau yang tidak memenuhi standar tampilan, ampas tomat, dan beras menir.
Tim menggunakan pisang hijau dan ampas tomat sebagai filling, sementara beras menir berperan sebagai shell atau bagian luar sereal.
Herawaty menjelaskan, tim memilih bahan-bahan tersebut karena pemanfaatannya dalam produk pangan masih terbatas. Padahal, bahan tersebut memiliki peluang untuk masuk ke pengembangan pangan bernilai tambah.
Tim kemudian memilih sereal sarapan sebagai bentuk produk karena praktis dan dekat dengan kebiasaan konsumsi masyarakat.
“Karena sarapan merupakan bagian dari pola makan sehari-hari, kami ingin membuat solusi yang praktis,” ujar Herawaty.
Melalui POWER PUFF, Tim NGEBUL tidak hanya ingin mengurangi potensi food loss. Mereka juga berupaya menghadirkan produk yang praktis, bernutrisi, memiliki cita rasa yang menarik, serta membawa manfaat fungsional.
Trial and Error Jadi Bagian Penting Pengembangan Produk
Mengembangkan POWER PUFF tidak berlangsung sekali jadi. Tim harus melewati berbagai percobaan untuk menemukan formulasi yang sesuai.
Nesha menyebut tantangan terbesar muncul ketika tim harus menjaga keseimbangan antara nilai gizi, tekstur, rasa, dan karakteristik produk.
“Ada beberapa tahap ketika kami merasa seperti ‘muter di situ-situ saja’, karena memperbaiki satu aspek justru membuat aspek lain ikut berubah,” katanya.
Kondisi tersebut membuat tim mengevaluasi kembali tujuan awal pengembangan POWER PUFF. Mereka kemudian menentukan parameter utama yang perlu dipertahankan dan mengevaluasi setiap perubahan formulasi secara lebih sistematis.
Proses itu juga mengubah cara pandang tim terhadap trial and error. Mereka tidak lagi menganggap kegagalan percobaan sebagai akhir dari proses, tetapi sebagai cara untuk memahami karakter produk.
“Kami berhenti melihat trial and error sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses memahami produk kami sendiri,” tutur Nesha.
Berbagai penyempurnaan kecil secara bertahap akhirnya menghasilkan formulasi POWER PUFF yang mereka bawa ke ajang FPDC 2026.
Juri Soroti Proses Produksi, Pengunjung Justru Tertarik
Pada sesi tanya jawab, juri menyoroti proses shaping dan filling POWER PUFF yang belum memanfaatkan ekstruder.
Nadifa menjelaskan, keterbatasan akses terhadap peralatan membuat tim masih menjalankan proses pembentukan secara manual pada skala laboratorium.
“Di skala lab sekarang kami belum punya akses ke ekstruder, jadi proses pembentukannya masih manual,” katanya.
Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi tim. Mereka melihat penggunaan ekstruder sebagai salah satu peluang untuk menjaga konsistensi produksi dan mengoptimalkan proses puffing ketika produk masuk tahap pengembangan skala lebih besar.
Di sisi lain, pengunjung pameran memberikan respons yang cukup menarik. Sejumlah pengunjung bahkan menanyakan peluang POWER PUFF masuk ke pasar.
Salah satu pengunjung yang bekerja di pusat kebugaran menilai produk tersebut berpotensi menjadi pilihan sarapan praktis bagi konsumen yang memperhatikan pola makan sehat.
Respons itu membuat Tim NGEBUL mulai melihat peluang POWER PUFF tidak hanya sebagai produk kompetisi. Mereka juga mulai mempertimbangkan pengembangan dan scale-up, meski masih membutuhkan kajian lebih lanjut terkait produksi dan sumber daya.
Sempat Kurang Percaya Diri, Tim NGEBUL Berhasil Naik Podium
Bagi Azka, FPDC 2026 juga memberikan pengalaman penting di luar pengembangan produk. Tim sempat menghadapi rasa kurang percaya diri, terutama karena mereka harus menjalani presentasi dan sesi tanya jawab dalam bahasa Inggris.
Namun, persiapan, diskusi, latihan, dan berbagai percobaan membantu mereka menghadapi tantangan tersebut hingga akhirnya meraih posisi ketiga.
“Kalau kita mau berusaha dan terus mencoba, hal yang awalnya terasa sulit pun bisa dilewati. Tentunya tidak lupa ditambah doa kepada Tuhan YME,” ujar Azka.
Keikutsertaan dalam FPDC 2026 juga memperluas kesempatan Tim NGEBUL untuk bertemu peserta lain, membangun jejaring, serta mendapatkan wawasan baru tentang pengembangan produk pangan.
Ke depan, tim ingin melanjutkan pengembangan POWER PUFF jika memperoleh dukungan berupa waktu, fasilitas, dan pendanaan yang memadai.
“Kalau ke depannya ada kesempatan, waktu, dan dana yang lebih mendukung, kami ingin mengembangkan POWER PUFF lebih jauh supaya bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi orang banyak,” kata Azka.
Raihan juara 3 FPDC 2026 sekaligus memperlihatkan peluang pemanfaatan bahan pangan yang selama ini kurang mendapat perhatian. Pisang hijau yang tidak memenuhi standar tampilan, ampas tomat, dan beras menir dapat masuk ke proses inovasi untuk menghasilkan produk pangan bernilai tambah.
Bagi Tim NGEBUL, capaian tersebut bukan sekadar penghargaan. Pengalaman di FPDC 2026 menjadi bekal untuk terus mengembangkan ide dan menghadirkan inovasi pangan yang lebih luas manfaatnya.

