Bukan Sekadar Tempat Ibadah, 3 Pura di Klungkung Ini Mulai Dikembangkan Jadi Wisata Religi

Must read

EDUCARE.CO.ID – Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali, mulai mengembangkan potensi wisata religi dengan mengangkat tiga pura yang memiliki nilai agama, sejarah, dan budaya.

Ketiga pura tersebut ialah Pura Tirta Tadah Uwuk, Pura Pucak Sari, dan Pura Tirta Harum Satria Taman Bali. Masing-masing menawarkan karakter berbeda, mulai dari tradisi melukat, jejak sejarah Kerajaan Nyalian, hingga mata air suci dan relief kuno.

Berdasarkan sumber Kemenag, pengembangan tersebut mendapat dukungan Penyuluh Agama Hindu dalam kegiatan Launching Kemajuan Desa Wisata Nyalian di Wantilan Desa Nyalian, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan itu digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nyalian bersama Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Law Student Creativity Community (LSCC) Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Tiga Pura dengan Daya Tarik Berbeda

Pengembangan wisata religi Desa Nyalian mengangkat tiga pura yang memiliki keunikan masing-masing.

Pura Tirta Tadah Uwuk dikenal sebagai salah satu tempat suci untuk kegiatan melukat atau penyucian diri. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan masyarakat Bali.

Sementara itu, Pura Pucak Sari merupakan Pura Kahyangan Desa yang memiliki nilai sejarah dan spiritual. Kawasan pura juga menyimpan sejumlah peninggalan yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Nyalian.

Adapun Pura Tirta Harum Satria Taman Bali merupakan Pura Kawitan yang juga memiliki tempat penglukatan. Pura tersebut memiliki sumber mata air suci yang menjadi salah satu daya tariknya.

Di kawasan utama mandala Pura Tirta Harum Satria Taman Bali juga terdapat relief kuno. Peninggalan tersebut menambah nilai sejarah yang dapat memperkaya potensi wisata Desa Nyalian.

Kemenag Klungkung Dukung Pengembangan Wisata Religi

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung Ayu Putri Suryaningrat mengatakan pengembangan desa wisata dapat membuka ruang untuk mengenalkan potensi lokal tanpa menghilangkan nilai agama dan budaya.

“Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong pengembangan potensi desa dengan tetap mempertahankan nilai-nilai agama, budaya dan kearifan lokal,” ujar Ayu.

Ia juga menegaskan kesiapan Penyuluh Agama Hindu untuk terus bersinergi dalam kegiatan masyarakat yang memberikan manfaat bagi umat.

Menurut Ayu, pengembangan wisata religi harus tetap menjaga kesucian tempat ibadah. Masyarakat dan pengunjung juga perlu memahami etika ketika berada di kawasan suci.

Penguatan Legalitas Pura Jadi Bagian Dukungan

Dukungan Kemenag Klungkung tidak berhenti pada pendampingan kegiatan.

Kemenag turut bersinergi dalam kebutuhan pengembangan wisata religi, termasuk penguatan administrasi dan legalitas pura yang masuk dalam rencana destinasi wisata.

Kemenag Klungkung juga membantu memfasilitasi rekomendasi Surat Tanda Daftar Pura (STDP) atau Tanda Daftar Pura (TDP).

Atas dukungan tersebut, Kemenag Klungkung menerima sertifikat sebagai mitra pelaksanaan PPK Ormawa LSCC 2026.

Ayu mengatakan desa wisata dapat mengintegrasikan tempat suci, tradisi keagamaan, kegiatan adat, dan kekayaan budaya sebagai bagian dari daya tarik wisata.

Namun, pengelola tetap perlu mengutamakan kesucian, etika, serta penghormatan terhadap nilai agama.

Program MENYALA Dorong Kemajuan Desa Wisata

Pengembangan Desa Wisata Nyalian juga melibatkan perguruan tinggi melalui PPK Ormawa LSCC 2026 Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Tim tersebut menghadirkan Program MENYALA untuk mengoptimalkan potensi pariwisata Desa Nyalian.

Program ini muncul dari kebutuhan untuk memperkuat pengelolaan sektor pariwisata desa. Nyalian memiliki potensi wisata alam, budaya, sejarah, hingga wisata buatan.

Namun, pengelolaan berbagai potensi tersebut masih membutuhkan penguatan.

Tim Pelaksana PPK Ormawa LSCC 2026 Laksmi Septiani menjelaskan bahwa Program MENYALA hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut.

“Desa Nyalian menyimpan potensi wisata yang sangat beragam, mulai dari potensi wisata alam, budaya, sejarah, dan buatan. Namun, hal tersebut masih menghadapi berbagai permasalahan, di antaranya belum optimalnya pengelolaan sektor kepariwisataan,” papar Laksmi.

Lima Program Jadi Penggerak Pariwisata Nyalian

Program MENYALA menjalankan lima program utama untuk memperkuat ekosistem pariwisata Desa Nyalian.

Kelima program tersebut terdiri dari:

  • Nyalian Legal Wisata
  • Nyalian Mandala
  • Nyalian Berdaya
  • Nyalian Sadar Usaha
  • Nyalian Digitour

Nyalian Digitour berfungsi sebagai salah satu sarana promosi untuk memperkenalkan Desa Wisata Nyalian kepada masyarakat yang lebih luas.

Rangkaian program berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Program tersebut mulai menunjukkan dampak terhadap kunjungan wisatawan.

Data yang disampaikan dalam kegiatan menunjukkan kunjungan wisatawan ke destinasi wisata Nyalian meningkat 30,60 persen.

Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Desa Wisata

Peningkatan kunjungan tersebut melibatkan kerja sama banyak pihak.

Pemerintah desa dan masyarakat berperan menjaga serta mengembangkan potensi lokal. Perguruan tinggi memberikan penguatan kapasitas dan gagasan. Sementara itu, berbagai mitra ikut mendukung keberlanjutan program.

Laksmi menyebut dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan Program MENYALA.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Desa Nyalian, masyarakat, Fakultas Hukum, Universitas Udayana, dosen pendamping, serta 18 mitra yang turut mendukung keberlanjutan Program MENYALA,” tambahnya.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata membutuhkan keterlibatan berbagai sektor.

Wisata Religi Tetap Jaga Nilai Kesucian

Potensi wisata religi Desa Nyalian tidak hanya menawarkan tempat untuk dikunjungi. Tiga pura tersebut juga menyimpan tradisi, nilai spiritual, serta jejak sejarah yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

Karena itu, pengembangan wisata perlu berjalan secara hati-hati. Pengelola perlu memastikan aktivitas wisata tetap menghormati fungsi utama pura sebagai tempat suci.

Bagi Kemenag Klungkung, keterlibatan dalam pengembangan Desa Wisata Nyalian juga menjadi bagian dari pembinaan keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, Pokdarwis, Kemenag, dan mitra lainnya, Desa Nyalian memiliki ruang untuk mengembangkan wisata religi sekaligus menjaga kekayaan budaya dan kearifan lokal Bali.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article