Bukan Pilih Salah Satu! Nabil Jalani Kuliah Kedokteran Sambil Jadi Pemain Persebaya

Must read

EDUCARE.CO.ID – Menjadi mahasiswa kedokteran sekaligus atlet sepak bola bukan perkara mudah. Jadwal kuliah, praktikum, tugas, hingga latihan harus berjalan beriringan.

Hal itu kini dijalani Nabil Loverino Misab, pemain Persebaya U-20 yang juga tercatat sebagai mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Pagi hingga siang, Nabil menjalani aktivitas akademik. Ia harus berhadapan dengan materi kedokteran, buku, dan praktikum. Sementara sore hari, waktunya beralih ke lapangan untuk berlatih sepak bola.

Dua dunia tersebut memang berbeda. Namun, Nabil memilih untuk tetap menjalani keduanya selama masih memungkinkan.

Berdasarkan sumber NU Online Jatim, Nabil mengaku tidak ingin terburu-buru meninggalkan salah satu minat yang sudah ia tekuni.

Dari Hobi hingga Masuk Persebaya

Nabil mulai bermain sepak bola sejak berusia 9 tahun. Awalnya, olahraga tersebut hanya menjadi kegiatan bersama teman-temannya.

Empat tahun kemudian, ia mulai menekuni sepak bola dengan lebih serius. Nabil bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya untuk mengembangkan kemampuannya.

Perjalanan itu kemudian membawanya ke Persebaya. Ia bergabung dengan klub tersebut sejak berusia 13 tahun.

“Saya kemudian masuk Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya dan terus mengembangkan kemampuan hingga akhirnya bergabung dengan Persebaya dari umur 13 tahun,” ujar Nabil, dilansir NU Online Jatim, Kamis (10/9/2026).

Kini, Nabil bermain sebagai sayap kanan. Ia juga mampu mengisi posisi penyerang ketika dibutuhkan tim.

Keluarga Dorong Nabil Kuliah Kedokteran

Pilihan Nabil mengambil jurusan kedokteran tidak muncul begitu saja. Keluarganya memang memiliki latar belakang yang dekat dengan bidang kesehatan.

Ayah Nabil bekerja sebagai analis kesehatan. Dua kakaknya juga berprofesi sebagai dokter.

“Kakak pertama itu dokter spesialis kandungan, kakak kedua dokter umum, sedangkan kakak ketiganya menjadi guru,” ucap Nabil.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki, Nabil memahami harapan keluarganya terhadap masa depannya.

Keluarga kemudian mengarahkannya untuk menempuh pendidikan kedokteran.

Awalnya, Nabil mengaku menjalani pilihan tersebut karena dorongan keluarga. Namun, pandangannya terhadap kedokteran perlahan berubah.

“Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola,” tuturnya.

Seiring waktu, Nabil mulai menemukan alasan sendiri untuk menjadikan profesi dokter sebagai salah satu tujuan masa depannya.

Sadar Karier Atlet Tak Selalu Panjang

Nabil memahami bahwa karier sebagai atlet memiliki batas waktu. Kondisi fisik juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberlangsungan seorang pemain sepak bola.

Karena itu, pendidikan kedokteran ia lihat sebagai bekal untuk masa depan yang lebih panjang.

“Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang,” kata Nabil.

Meski begitu, Nabil tidak melihat sepak bola dan kedokteran sebagai dua pilihan yang harus saling mengalahkan.

Ia tetap ingin mengembangkan karier sepak bola selama kesempatan masih terbuka. Di saat yang sama, ia terus menjalani pendidikan kedokteran sebagai persiapan untuk masa depan.

Bagi Waktu Jadi Tantangan Utama

Menjalani dua aktivitas dengan tuntutan tinggi membuat manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri.

Nabil harus membagi waktu antara perkuliahan, tugas, belajar, dan latihan. Apalagi, pendidikan kedokteran memiliki jadwal akademik yang cukup padat.

Untuk mengatasinya, Nabil mulai membuat jadwal belajar sendiri.

“Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu,” ujarnya.

Cara tersebut membantu Nabil menjaga kewajiban akademiknya tanpa meninggalkan latihan sepak bola.

Jadwal latihan yang berlangsung pada sore hari juga cukup membantu. Untuk saat ini, jadwal latihan Nabil tidak terlalu sering bertabrakan dengan aktivitas perkuliahan.

Tetap Kejar Mimpi Jadi Atlet Senior

Dalam waktu dekat, Nabil akan menghadapi latihan yang lebih intensif sebagai persiapan menuju pertandingan.

Ia ingin tetap menjalani sepak bola selama olahraga tersebut tidak mengganggu kewajibannya sebagai mahasiswa.

Nabil bahkan masih membuka peluang untuk melanjutkan karier hingga level atlet senior.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan dan karier olahraga tidak selalu harus berjalan secara terpisah. Dengan pengaturan waktu yang baik, Nabil berusaha membangun keduanya secara bersamaan.

Di satu sisi, ia mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia kedokteran. Di sisi lain, ia masih mengejar kesempatan untuk berkembang sebagai pesepak bola profesional.

Bagi Nabil, dua mimpi tersebut masih bisa berjalan beriringan. Selama mampu menjaga keseimbangan, ia ingin terus belajar di kampus sekaligus berjuang di lapangan hijau.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article