EDUCARE.CO.ID – Kompetisi keterampilan tingkat dunia tidak hanya menjadi tempat untuk menguji kemampuan teknis. Bagi delegasi Indonesia di WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026, ajang tersebut juga membuka kesempatan untuk belajar budaya dan membangun jejaring internasional.
Kesempatan itu hadir melalui program One School One Member (OSOM). Dalam program tersebut, delegasi Indonesia mengunjungi Jinshang Haitang Primary School, Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok, pada Selasa (22/9/2026).
Berdasarkan sumber Ditjen Dikmen Diksus Kemendikdasmen, OSOM mempertemukan delegasi negara dan wilayah anggota WorldSkills dengan sekolah di wilayah tuan rumah.
One School One Member Libatkan 62 Sekolah
OSOM menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam penyelenggaraan WSC 2026. Program ini menghubungkan sekolah lokal dengan delegasi dari berbagai negara dan wilayah anggota WorldSkills.
Tahun ini, OSOM melibatkan 62 sekolah mitra yang tersebar di kawasan Delta Sungai Yangtze.
Program tersebut tidak sekadar menghadirkan kunjungan antarsekolah. Para peserta juga mendapat ruang untuk bertukar budaya, mengenal kehidupan pelajar di negara lain, serta membangun hubungan antargenerasi muda.
Selain itu, OSOM memperkenalkan dunia keterampilan dan berbagai profesi kepada para murid sekolah.
Delegasi Indonesia Kenalkan Keterampilan Lewat Pertukaran Budaya
Jinshang Haitang Primary School menyambut delegasi dengan pertunjukan seni dan berbagai aktivitas pengenalan budaya lokal.
Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi edukasi. Para delegasi melihat langsung pendekatan pembelajaran yang digunakan sekolah untuk memberikan pengalaman belajar kepada murid.
Salah satu kegiatan menarik berupa simulasi jual beli menggunakan tiket sebagai alat tukar.
Dalam aktivitas tersebut, murid memilih barang lalu melakukan pembayaran menggunakan tiket. Mereka juga belajar memahami alur transaksi melalui praktik langsung.
Metode ini menghubungkan materi pembelajaran dengan aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kompetitor Indonesia Kagum dengan Metode Pembelajaran
Kompetitor Indonesia bidang mekatronika, Rouf Aufa Rifqi, ikut merasakan pengalaman tersebut.
Menurut Rouf, simulasi transaksi menunjukkan cara guru menggabungkan pembelajaran dengan kegiatan sehari-hari.
“Kami diberi tiket dan diajak untuk praktik transaksi langsung, mulai dari memilih barang, melakukan pembayaran, hingga memahami bagaimana proses perdagangan berlangsung. Menurut saya, ini merupakan metode pembelajaran yang sangat menarik. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung yang dapat mengembangkan keterampilan dan jiwa kewirausahaan sejak dini,” ucap Rouf.
Pengalaman itu memberi perspektif baru bagi delegasi Indonesia. Mereka melihat bahwa pendidikan keterampilan dapat hadir melalui aktivitas sederhana dan interaktif.
Selain memahami budaya lokal, peserta juga dapat melihat cara sekolah membangun keterampilan praktis sejak usia dini.
OSOM Perkuat Kompetensi Nonteknis
Pengalaman selama OSOM memiliki kaitan dengan pengembangan kompetensi dalam pendidikan vokasi.
Kemampuan teknis memang menjadi bagian penting. Namun, peserta juga membutuhkan kemampuan komunikasi, kerja sama, adaptasi, dan pemahaman lintas budaya.
Interaksi dengan siswa dan sekolah di Shanghai memberi kesempatan kepada delegasi Indonesia untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Pengalaman ini juga dapat menjadi inspirasi bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Indonesia. Kompetensi yang kuat dapat membantu generasi muda menghadapi lingkungan kerja yang semakin terhubung secara global.
Sekolah Mitra Akan Saksikan Kompetisi WSC 2026
Program OSOM tidak berhenti setelah kunjungan delegasi ke sekolah.
Perwakilan sekolah mitra dijadwalkan mengunjungi arena WorldSkills Competition. Mereka akan menyaksikan pertandingan secara langsung sekaligus memberikan dukungan kepada delegasi negara pasangan masing-masing.
Kesempatan tersebut membuat para murid dapat mengenal dunia keterampilan dari sisi yang lebih luas.
Mereka tidak hanya berinteraksi dengan kompetitor. Para murid juga dapat melihat secara langsung bagaimana peserta menjalankan keterampilan dalam kompetisi berstandar internasional.
Indonesia Kirim 20 Kompetitor di 17 Bidang
Indonesia mengirimkan 20 kompetitor untuk berlaga pada WSC 2026.
Para kompetitor tersebut bertanding dalam 17 bidang keahlian. Mereka mendapat pendampingan dari 17 expert serta tim pendukung.
Persiapan kompetisi menjadi fokus utama para peserta. Namun, delegasi Indonesia juga menjalankan peran sebagai duta keterampilan.
Melalui berbagai kegiatan selama WSC 2026, mereka membawa kesempatan untuk memperkenalkan potensi generasi muda Indonesia kepada masyarakat internasional.
WorldSkills Shanghai 2026 Jadi Ruang Belajar Global
Program One School One Member menunjukkan bahwa WorldSkills Competition memiliki dimensi yang lebih luas daripada pertandingan keterampilan.
Delegasi Indonesia dapat belajar dari sistem pendidikan di negara lain. Mereka juga dapat mengenal budaya lokal dan membangun hubungan dengan generasi muda dari berbagai negara.
Dari ruang kelas di Jinshang Haitang Primary School hingga arena kompetisi WSC 2026, pengalaman tersebut mempertemukan pendidikan, keterampilan, dan pertukaran budaya.
WorldSkills Shanghai 2026 pun menjadi momentum bagi generasi muda Indonesia untuk menunjukkan kompetensi sekaligus memperluas wawasan.
Keterampilan akhirnya tidak hanya menjadi modal untuk meraih prestasi. Keterampilan juga dapat menjadi jembatan untuk membangun komunikasi, kerja sama, dan persahabatan lintas negara.

