EDUCARE.CO.ID – Pemulihan pendidikan pascabencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus berjalan. Hingga September 2026, sebanyak 4.922 sekolah terdampak sudah kembali menjalankan kegiatan pembelajaran.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebagian besar sekolah sudah kembali belajar di lokasi semula. Sebanyak 4.821 sekolah kembali menggunakan sekolah masing-masing.
Sementara itu, 99 sekolah masih memanfaatkan Ruang Kelas Darurat (RKD). Dua sekolah lainnya sementara menumpang di sekolah lain.
Berdasarkan Siaran Pers Kemendikdasmen Nomor 825/sipers/A6/IX/2026, pemerintah terus menyesuaikan pemulihan pendidikan dengan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Kemendikdasmen Salurkan Rp5,6 Triliun
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan total dukungan Kemendikdasmen untuk pemulihan pendidikan di tiga provinsi tersebut mencapai Rp5,6 triliun.
Anggaran terbesar masuk ke program revitalisasi satuan pendidikan. Kemendikdasmen mengalokasikan Rp3,03 triliun untuk program tersebut.
“Secara keseluruhan total dukungan Kemendikdasmen untuk pemulihan layanan pendidikan di tiga provinsi terdampak bencana Sumatra saat ini mencapai Rp5,6 triliun. Dari jumlah tersebut porsi terbesar kami salurkan untuk bantuan Revitalisasi Satuan Pendidikan dengan total anggaran Rp3,03 triliun,” ungkap Abdul Mu’ti di Jakarta, Rabu (23/9).
3.132 Sekolah Ikuti Program Revitalisasi
Sebanyak 3.132 sekolah telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk program revitalisasi.
Nilai bantuan dalam program tersebut mencapai Rp3,03 triliun. Hingga September 2026, sekolah penerima sudah menerima Rp2,63 triliun.
Kemendikdasmen menyalurkan dana revitalisasi dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup 70 persen dari total bantuan dan sudah selesai untuk seluruh sekolah penerima.
Selanjutnya, sekolah dapat menerima tahap kedua sebesar 30 persen setelah pekerjaan fisik mencapai minimal 50 persen.
Saat ini, 1.267 sekolah masih menjalani proses pencairan tahap kedua. Nilai bantuan yang masuk dalam proses tersebut mencapai Rp400,5 miliar.
Ratusan Sekolah Sudah Rampung Dibangun
Kemendikdasmen juga memantau perkembangan pembangunan fisik sekolah.
Data terbaru menunjukkan 562 sekolah sudah menyelesaikan pembangunan hingga 100 persen.
Kemudian, 1.954 sekolah telah mencapai progres pembangunan lebih dari 50 persen. Sebanyak 616 sekolah lainnya masih menuju progres 50 persen.
Angka tersebut menjadi dasar Kemendikdasmen untuk mempercepat pendampingan dan pencairan bantuan tahap berikutnya.
97 Sekolah Diusulkan Relokasi
Tidak semua sekolah dapat kembali menggunakan lokasi lama. Kemendikdasmen mengusulkan 97 sekolah untuk pindah ke lokasi yang lebih aman.
Dari jumlah tersebut, 34 sekolah sudah memasuki tahap pembangunan di lokasi baru.
Sementara itu, 63 sekolah masih menunggu kepastian serta legalitas lahan.
Proses relokasi membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Kepastian lahan menjadi salah satu faktor penting sebelum pembangunan berjalan.
Mendagri Apresiasi Pemulihan Pendidikan
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengapresiasi perkembangan pemulihan layanan pendidikan di tiga provinsi terdampak.
Menurut Tito, capaian tersebut menunjukkan kerja pemerintah pusat bersama berbagai pihak dalam menangani dampak bencana.
“Capaian dari Kemendikdasmen ini menjadi bukti bahwa pemerintah pusat tidak tinggal diam, kita bekerja keras dan terus berkolaborasi, serta hasilnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat,” terang Tito.
Guru dan Tenaga Kependidikan Juga Mendapat Bantuan
Pemulihan pendidikan tidak hanya menyasar bangunan sekolah. Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan kepada guru, tenaga kependidikan, dan murid.
Untuk guru serta tenaga kependidikan, pemerintah telah menyalurkan Rp315,08 miliar kepada 52.513 penerima manfaat yang terdampak bencana.
Kemendikdasmen juga menyiapkan pelatihan kesiapsiagaan bencana dan pendampingan psikososial. Program tersebut menjangkau 90.962 guru dengan anggaran Rp123 miliar.
PIP Jangkau Lebih dari 1,5 Juta Murid
Kemendikdasmen turut memberikan dukungan melalui Program Indonesia Pintar (PIP).
Program tersebut menjangkau lebih dari 1,5 juta murid di 53 kabupaten/kota terdampak. Total anggarannya mencapai Rp1,16 triliun.
Dana PIP dapat membantu murid memenuhi kebutuhan pendidikan. Kemendikdasmen menyalurkan bantuan tersebut secara bertahap ke rekening penerima.
Sarana Pembelajaran Disiapkan Rp688,8 Miliar
Selain bantuan langsung, Kemendikdasmen menyiapkan Rp688,8 miliar untuk memenuhi kebutuhan sarana pembelajaran.
Bantuan tersebut mencakup:
- 206.317 paket mebel;
- perlengkapan sekolah untuk 260.358 murid;
- 733 paket alat permainan edukatif;
- 1.919 paket alat olahraga;
- 515 paket peralatan laboratorium komputer;
- 259 paket laboratorium IPA;
- 134 unit Ruang Kelas Darurat;
- 2,09 juta eksemplar buku pembelajaran.
Bantuan tersebut mendukung sekolah agar dapat kembali menjalankan pembelajaran dengan fasilitas yang lebih memadai.
Pendidikan Vokasi Ikut Mendapat Dukungan
Pemulihan juga mencakup pendidikan vokasi.
Sebanyak 131 SMK telah menandatangani PKS untuk menerima bantuan peralatan praktik senilai Rp418,5 miliar.
Selain itu, 71 lembaga kursus dan pelatihan menerima bantuan senilai Rp4,18 miliar. Lembaga tersebut kini menjalankan proses pembelanjaan bantuan.
Kemendikdasmen juga menyalurkan biaya operasional pemulihan kepada 822 sekolah. Total anggarannya mencapai Rp17,97 miliar untuk periode Mei hingga Juni 2026.
Lima Langkah Percepat Pemulihan
Kemendikdasmen menyiapkan lima langkah lanjutan untuk mempercepat pemulihan pendidikan di wilayah terdampak.
Pertama, Kemendikdasmen akan memberikan pendampingan intensif kepada 616 sekolah dalam program revitalisasi. Langkah ini juga bertujuan mempercepat pencairan dana tahap kedua.
Kedua, pemerintah mempercepat proses relokasi melalui koordinasi dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait. Koordinasi tersebut mencakup kesiapan dan legalitas lahan.
Ketiga, Kemendikdasmen memperkuat pengawasan penyaluran buku, sarana, dan peralatan. Pemerintah menargetkan distribusi berjalan tepat waktu, tepat sasaran, dan akuntabel.
Keempat, pemerintah akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan kementerian terkait untuk menyediakan akses aman menuju sekolah.
Kelima, Kemendikdasmen akan memperkuat program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sekolah yang lebih aman dan tangguh menghadapi bencana.
Pemulihan Pendidikan Jadi Agenda Jangka Panjang
Pemulihan pascabencana tidak hanya mengejar selesainya pembangunan fisik. Pemerintah juga perlu memastikan murid dapat kembali belajar dengan aman dan nyaman.
Karena itu, Kemendikdasmen menggabungkan revitalisasi sekolah, bantuan untuk warga sekolah, pemenuhan sarana, relokasi, serta penguatan kesiapsiagaan bencana.
“Dengan semangat partisipasi semesta dan gotong royong, kami mengajak kepada seluruh pihak untuk menjadikan pemulihan layanan pendidikan di Sumatra sebagai bagian penting membangun pendidikan yang berkeadilan, berkualitas, tangguh, serta menjadi harapan para murid menjadi generasi Indonesia Emas 2025,” tutup Abdul Mu’ti.
Pemulihan pendidikan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pun terus berlanjut. Kemendikdasmen masih mempercepat pembangunan sekolah, relokasi, pencairan bantuan, dan pemenuhan kebutuhan belajar.

