EDUCARE.CO.ID – Boneka berwarna pink itu menarik perhatian di lorong gedung DPRD Jember, Senin (7/9/2026). Saat itu, Bupati Jember Muhammad Fawait melintas seusai mengikuti rapat paripurna.
Boneka tersebut masih dipeluk erat oleh sekelompok mahasiswa. Sebuah celemek kecil menempel pada tubuh boneka sehingga tampilannya terlihat berbeda di tengah kesibukan gedung dewan.
Rasa penasaran membuat Gus Fawait menghampiri para mahasiswa. Dari pertemuan singkat itu, ia mengetahui bahwa boneka tersebut bukan sekadar alat peraga.
Boneka bernama Emma itu membawa inovasi pendidikan kesehatan menstruasi untuk anak tunagrahita.
Emma, Media Edukasi Menstruasi untuk Anak Tunagrahita
Emma merupakan singkatan dari Edukasi Menstruasi Mandiri. Empat mahasiswa S1 Keperawatan STIKes Bhakti Al-Qodiri Jember mengembangkan inovasi tersebut.
Mereka terdiri atas Ali Zainal Abidin, Datin Afkarina Zain, Fidya Lail Hidayah, dan Ana Arifatus Sholeha. Dosen pembimbing mereka, Ns. Dwi Indah Lestari, turut mendampingi proses pengembangan Emma.
Tim merancang Emma menyerupai tubuh perempuan lengkap dengan gambaran anatomi. Mereka juga menambahkan mini apron dan smart apron sebagai media pembelajaran.
Konsep tersebut membuat anak dapat mengenali perubahan tubuh melalui media yang lebih konkret. Anak juga dapat mempraktikkan langkah menghadapi menstruasi secara langsung.
Mini Apron dan Smart Apron Punya Fungsi Berbeda
Anggota tim, Datin Afkarina Zain, menjelaskan fungsi kedua perangkat tersebut kepada Bupati Jember.
Mini apron membantu anak mengenali perubahan fisik ketika memasuki masa pubertas. Sementara itu, smart apron mengajarkan keterampilan menghadapi menstruasi.
Smart apron memiliki enam kantong menstruasi. Kantong tersebut membantu anak mengenali kebutuhan dan tahapan yang berkaitan dengan menstruasi pertama.
“Jadi boneka Emma ini terdapat dua item. Yang pertama yaitu mini-apron yang berfungsi untuk membantu anak tunagrahita dalam mengenali perubahan fisiknya saat mengalami pubertas. Dan juga yang kedua berupa smart apron, yang dilengkapi dengan enam kantong menstruasi yang membantu anak tunagrahita menghadapi menstruasi pertamanya,” kata Datin.
Dengan pendekatan tersebut, tim tidak hanya mengajak anak memahami teori. Mereka juga memberikan kesempatan untuk melihat dan mempraktikkan materi secara langsung.
Gagasan Emma Lahir dari Persoalan di Lapangan
Ide Emma muncul setelah mahasiswa melihat persoalan yang mereka temui di lapangan.
Menstruasi memang menjadi bagian alami dari proses tumbuh dewasa. Namun, perubahan tubuh dapat menghadirkan tantangan tersendiri bagi anak tunagrahita.
Keterbatasan kognitif membuat penjelasan yang hanya mengandalkan komunikasi verbal tidak selalu mudah dipahami. Karena itu, tim mencari metode belajar yang lebih konkret.
Ali Zainal Abidin selaku ketua tim menjelaskan alasan mereka memilih media visual dan praktik.
“Memang dikhususkan untuk tunagrahita, ya, karena anak tunagrahita itu mempunyai permasalahan pada kognitifnya sehingga mereka membutuhkan materi secara visual supaya lebih mudah memahaminya,” kata Zainal.
Tim kemudian mengembangkan Emma sebagai media yang memungkinkan anak belajar dengan cara melihat, menyentuh, dan mencoba.
Tiga Bulan Diterapkan di SLB Negeri Jember
Emma tidak berhenti pada tahap proposal. Tim mahasiswa juga menguji penerapannya di SLB Negeri Jember selama kurang lebih tiga bulan.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mengenali perubahan tubuh melalui mini apron. Setelah itu, mereka mempelajari cara menghadapi menstruasi menggunakan smart apron.
Enam kantong menstruasi pada smart apron membantu anak berlatih secara bertahap. Pendekatan ini memberi ruang bagi anak untuk membangun keterampilan secara lebih mandiri.
Tim berharap latihan tersebut dapat mengurangi ketergantungan anak terhadap bantuan guru ketika mereka menghadapi menstruasi.
Emma Dorong Kemandirian Saat Menstruasi
Datin menjelaskan bahwa sebagian anak tunagrahita masih membutuhkan pendampingan guru ketika mengalami menstruasi.
“Kadangkala teman-teman masih butuh bantuan gurunya untuk menghadapi menstruasinya itu. Jadi dengan adanya ini harapannya bisa membuat mereka bisa lebih mandiri saat menghadapi menstruasi,” tutur Datin.
Karena itu, Emma tidak hanya berfungsi sebagai media pengenalan anatomi. Alat tersebut juga membantu anak melatih keterampilan personal hygiene dan menghadapi perubahan tubuh.
Harapannya, anak dapat memiliki rasa percaya diri yang lebih baik ketika memasuki masa pubertas.
Gus Fawait Apresiasi Inovasi Mahasiswa Jember
Pertemuan dengan Bupati Jember menjadi salah satu momen penting bagi tim Emma. Muhammad Fawait mengapresiasi mahasiswa yang mampu menghasilkan inovasi berdasarkan kebutuhan kelompok rentan.
Menurut Fawait, prestasi mahasiswa Jember tidak hanya muncul dalam bidang akademik. Mahasiswa juga dapat menunjukkan kemampuan melalui inovasi dan kegiatan sosial.
Ia pun menyampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Jember untuk mendukung mahasiswa berprestasi melalui program beasiswa.
“Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Jember bangga, Jember tidak kehabisan anak-anak yang berprestasi, mulai dari akademik maupun non akademik. Kami akan memfasilitasi, terutama mahasiswa. Yang berprestasi bisa ikut serta mendaftarkan dalam program beasiswa Cinta Bergema,” pungkas Fawait.
Dukungan tersebut menjadi peluang bagi mahasiswa berprestasi untuk terus mengembangkan gagasan yang mereka miliki.
Emma Lolos Pendanaan PKM
Inovasi Emma berawal dari proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Tim mengajukan proposal tersebut dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Program PKM tersebut berada di bawah Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Tim mengusung judul proposal:
“Siklus Mandiri: Pelatihan Personal Hygiene Menstruasi bagi Remaja Putri Tunagrahita di SLB Negeri Jember melalui Media Boneka Edukasi Smart-Apron”.
Proposal tersebut berhasil memperoleh pendanaan PKM. Capaian ini membuat tim mahasiswa STIKes Bhakti Al-Qodiri memiliki kesempatan membawa inovasi mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
Siap Berkompetisi di PIMNAS
Setelah lolos pendanaan PKM, tim Emma kini bersiap mengikuti tahapan menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
Ajang tersebut akan berlangsung di Semarang. Tim mahasiswa STIKes Bhakti Al-Qodiri Jember berharap Emma dapat menunjukkan bahwa inovasi sederhana juga mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Lebih dari sekadar boneka edukasi, Emma membawa pesan tentang pentingnya memberikan akses pendidikan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak.
Pendekatan visual dan praktik langsung dapat membantu anak tunagrahita memahami perubahan tubuh dengan cara yang lebih mudah. Pada akhirnya, inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong kemandirian dan rasa percaya diri anak ketika menghadapi menstruasi.
Penulis: Putri Faathiman Niara


