Berbentuk seperti Masker, OrthoBreath Karya Mahasiswa Polinema Bantu Deteksi Risiko Maloklusi

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kebiasaan anak bernapas melalui mulut, terutama saat tidur, kerap luput dari perhatian orang tua. Padahal, pola pernapasan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pertumbuhan rahang dan susunan gigi atau maloklusi.

Melihat persoalan itu, mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengembangkan OrthoBreath. Tim merancang perangkat berbasis Internet of Things (IoT) dan sensor digital untuk membantu mengenali risiko maloklusi sejak dini.

OrthoBreath menggabungkan pemantauan aliran udara pernapasan dengan analisis gambar gigi. Melalui teknologi tersebut, tim ingin membantu orang tua dan tenaga kesehatan mengenali indikasi awal yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Ketua tim penelitian, Gerry Norcahyo Herlino, menjelaskan bahwa kebiasaan bernapas melalui mulut saat anak tidur menjadi salah satu perhatian utama dalam pengembangan inovasi ini.

“Ketika anak tidur biasanya anak mengalami pernapasan dari mulut, ketika itu dibiarkan lambat laun akan menyebabkan gigi itu rusak. Nah, dengan adanya alat ini diharapkan dapat mendeteksi sedini mungkin itu gejalanya dapat dicegah,” ujarnya.

OrthoBreath Satukan Sensor Pernapasan dan Kamera

Pemeriksaan kondisi gigi dan rahang membutuhkan metode yang sesuai dengan kebutuhan setiap pasien. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat menggunakan pencitraan rontgen untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai struktur gigi dan rahang.

OrthoBreath menawarkan pendekatan berbeda untuk membantu pemeriksaan awal. Perangkat ini menggabungkan dua komponen utama, yakni sensor pernapasan dan kamera digital.

Sensor memantau aliran udara yang keluar melalui hidung dan mulut. Sementara itu, kamera mengambil gambar kondisi gigi anak secara langsung.

Selanjutnya, sistem mengolah kedua jenis data tersebut. Sensor membantu mengenali pola pernapasan, sedangkan sistem analisis gambar memeriksa kondisi susunan gigi untuk mencari indikasi maloklusi.

Dengan menggabungkan kedua informasi itu, OrthoBreath berupaya memberikan gambaran awal mengenai kondisi anak. Hasilnya dapat membantu tenaga kesehatan menentukan kebutuhan pemeriksaan lanjutan.

Gerry menjelaskan bahwa sistem juga mengolah foto gigi untuk mengenali tingkat keparahan kondisi yang terindikasi.

“Dari foto tersebut akan diolah datanya dan akan dihasilkan deteksi apakah sudah mengalami maloklusi yang parah atau belum,” sambung Gerry.

Prototype OrthoBreath karya mahasiswa Polinema Malang. (FOTO: Humas for TI)

Desain Menyerupai Masker agar Praktis Digunakan

Tim Polinema merancang OrthoBreath dengan bentuk menyerupai masker. Pengguna menempatkan perangkat pada area hidung dan mulut agar sensor dapat memantau aliran udara dari kedua jalur pernapasan.

Pada bagian tengah perangkat, tim memasang sekat yang memisahkan area hidung dan mulut. Komponen tersebut membantu sistem membedakan aliran udara dari masing-masing bagian.

Selain mempertimbangkan fungsi sensor, tim juga memperhatikan kenyamanan pengguna. Mereka merancang bentuk yang ergonomis dan non-invasif agar anak dapat menjalani proses pemeriksaan tanpa rasa sakit.

“Bentuk alatnya seperti masker. Jadi masker itu akan ditempatkan di bagian mulut dan juga hidung. Di tengahnya ada pemisah antara mulut dan hidung untuk menghitung antara pernapasan yang keluar dari hidung dan juga mulut,” imbuhnya.

Desain tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan perangkat. Sebab, anak membutuhkan alat yang nyaman ketika menjalani proses pemantauan, terutama jika pemeriksaan berlangsung dalam durasi tertentu.

Uji Awal OrthoBreath Catat Galat Sensor di Bawah 1,5 Persen

Saat ini, tim masih mengembangkan OrthoBreath dalam bentuk prototipe. Mereka juga menguji perangkat tersebut kepada sejumlah anak untuk melihat kinerja alat dalam penggunaan langsung.

Berdasarkan sumber Polinema, hasil uji validasi instrumen menunjukkan bahwa para ahli, termasuk dokter, memberikan penilaian sangat layak. Pengujian tersebut juga mencatat tingkat galat sensor di bawah 1,5 persen.

Hasil awal itu menjadi salah satu modal bagi tim untuk menyempurnakan perangkat. Namun, pengujian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan konsistensi pembacaan sensor dan kemampuan sistem dalam menganalisis kondisi gigi.

Gerry menyebut sejumlah dokter memberikan respons positif terhadap pengembangan OrthoBreath. Ia juga melihat peluang inovasi ini sebagai perangkat pendukung pemeriksaan awal.

“Tanggapan dokter excited, jadi ini merupakan salah satu penemuan baru karena selama kami diskusi dan juga jurnal yang kami baca itu belum ada alat yang mendeteksi secara dini untuk maloklusi,” katanya.

Meski memperoleh respons positif, tim belum berhenti pada hasil pengujian awal. Mereka masih perlu menyempurnakan sistem agar perangkat dapat bekerja secara optimal dan memberikan hasil yang konsisten.

Berpeluang Bantu Pemeriksaan Kesehatan Gigi Anak

Gerry menjelaskan bahwa pengembangan OrthoBreath masih membutuhkan sejumlah penyempurnaan. Tim perlu memastikan seluruh komponen bekerja secara terpadu, mulai dari sensor pernapasan hingga sistem analisis citra gigi.

Ke depan, tim ingin memperluas manfaat perangkat ini bagi layanan kesehatan. OrthoBreath berpotensi membantu tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer serta mendukung pemeriksaan kesehatan melalui unit kesehatan sekolah (UKS).

Jika pengujian lanjutan menunjukkan hasil yang memadai, perangkat ini dapat menjadi salah satu pilihan teknologi untuk membantu mengenali risiko maloklusi lebih awal. Orang tua pun dapat memperoleh dorongan untuk memeriksakan kondisi gigi dan rahang anak kepada tenaga kesehatan.

Inovasi tersebut juga memperlihatkan peluang pemanfaatan teknologi digital dalam bidang kesehatan gigi dan mulut. Mahasiswa tidak hanya mengembangkan perangkat elektronik, tetapi juga mencoba menjawab persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

OrthoBreath saat ini masih berada pada tahap prototipe dan belum menggantikan pemeriksaan maupun diagnosis dokter. Namun, pengembangan selanjutnya diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan teknologi untuk mendukung deteksi awal gangguan kesehatan gigi anak.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article