Mahasiswa ITB Kembangkan CarbonBridge, Inovasi Metanol dari Limbah Sawit dan Hidrogen Hijau

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan inovasi pengolahan limbah cair industri kelapa sawit menjadi bahan baku alternatif produksi metanol. Melalui konsep bernama CarbonBridge, mereka memadukan biometana dari limbah sawit dengan hidrogen hijau untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap bahan baku fosil.

Gagasan tersebut mengantarkan tim ITB meraih Juara 1 kategori Paper and Poster Competition (PPC) dalam ajang POISE UGM 2026. Kompetisi yang berlangsung di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Sabtu (24/10/2026) itu juga memberikan penghargaan Best Presentation kepada tim.

Tim pengembang CarbonBridge terdiri atas Nina Khoirunnisa Naila Wijaya, Nasywa Jilan Fashihah, dan Glenn Immanuel Aldevito Marpaung. Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia ITB angkatan 2023.

Kompetisi POISE UGM 2026 yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Teknik Kimia UGM (KMTK UGM) mendorong mahasiswa mengidentifikasi persoalan industri. Peserta kemudian menyusun solusi melalui pendekatan ilmiah dan inovasi teknologi.

CarbonBridge Manfaatkan Limbah Cair Industri Kelapa Sawit

Tim ITB merancang CarbonBridge sebagai konsep modifikasi atau retrofit fasilitas produksi metanol yang sudah beroperasi. Rancangan ini mengintegrasikan biometana dari Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit dengan hidrogen hijau.

Melalui pendekatan tersebut, industri berpeluang menggunakan bahan baku alternatif tanpa harus membangun fasilitas produksi baru. Strategi ini juga membuka peluang pemanfaatan limbah sawit yang selama ini belum optimal menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

Gagasan tersebut berangkat dari sejumlah persoalan industri metanol di Indonesia. Kebutuhan impor metanol, tantangan pasokan gas alam, serta besarnya potensi limbah industri kelapa sawit menjadi pertimbangan utama tim.

Nina menjelaskan bahwa tim ingin menawarkan inovasi yang sesuai dengan potensi sumber daya Indonesia. Sebagai salah satu negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang untuk mengolah limbah organik menjadi sumber energi dan bahan baku alternatif.

“Kami memilih topik ini karena kami ingin mengembangkan inovasi yang relevan dengan kondisi industri di Indonesia. Sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan bahan baku alternatif,” kata Nina.

Gabungkan Biometana dan Hidrogen Hijau melalui Teknologi Reforming

Secara teknis, CarbonBridge mengandalkan teknologi combined reforming. Proses ini mengolah biometana dari POME bersama hidrogen hijau untuk menghasilkan gas sintesis atau syngas.

Gas sintesis tersebut menjadi bahan baku utama dalam proses produksi metanol. Untuk mendukung prosesnya, tim menggabungkan teknologi Sorption-Enhanced Reforming (SER) dan Adaptive Sorption Combined Reforming (ASCR).

Kedua pendekatan tersebut dirancang untuk meningkatkan pemanfaatan bahan baku sekaligus menghasilkan komposisi gas sintesis sesuai kebutuhan unit sintesis metanol.

Namun, tim tidak hanya mempertimbangkan aspek reaksi kimia. Mereka juga memperhitungkan kesiapan infrastruktur pabrik yang sudah ada, kebutuhan energi, biaya produksi, dan dampak lingkungan.

Pertimbangan tersebut penting karena modifikasi fasilitas industri harus memperhatikan keterhubungan setiap tahapan proses. Dengan begitu, konsep teknologi tidak hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan dalam lingkungan industri.

Simulasi Aspen Plus Uji Aspek Teknis dan Ekonomi

Untuk mengevaluasi rancangan CarbonBridge, ketiga mahasiswa menjalankan simulasi empat skenario proses menggunakan perangkat lunak Aspen Plus. Hasil simulasi menjadi dasar untuk menilai sejumlah aspek pengembangan teknologi.

Analisis tersebut mencakup kinerja teknis, proyeksi rantai pasok, kelayakan ekonomi, hingga emisi gas rumah kaca. Tim juga menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA-GHG) untuk mengevaluasi dampak lingkungan sepanjang siklus proses.

Selain itu, mereka menyusun peta jalan implementasi sebagai gambaran tahapan pengembangan teknologi. Langkah ini membantu tim mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan sebelum konsep memasuki tahap penerapan industri.

Salah satu tantangan utama terletak pada integrasi seluruh aspek rancangan. Perubahan konfigurasi proses dapat memengaruhi kebutuhan energi, biaya produksi, serta emisi yang dihasilkan. Karena itu, tim perlu mengevaluasi setiap skenario secara menyeluruh.

Berdasarkan sumber laman resmi Institut Teknologi Bandung, tim juga menemukan bahwa penggunaan bahan baku terbarukan tidak otomatis menurunkan emisi. Kebutuhan energi dan utilitas selama proses produksi tetap memberikan kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

Glenn menjelaskan bahwa temuan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam pengembangan konsep mereka.

“Berdasarkan hasil analisis, penggunaan bahan baku terbarukan ternyata tidak otomatis menghasilkan emisi yang lebih rendah karena masih terdapat kontribusi emisi dari kebutuhan energi dan utilitas proses,” kata Glenn.

Temuan ini menunjukkan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam menilai keberlanjutan industri kimia. Penilaian tidak cukup hanya melihat asal bahan baku, tetapi juga perlu memperhitungkan energi dan seluruh tahapan produksi.

CarbonBridge Buka Peluang Ekonomi Sirkular Industri Sawit

Inovasi CarbonBridge memperlihatkan peluang kerja sama antara sektor perkebunan kelapa sawit dan industri kimia. Melalui integrasi kedua sektor tersebut, limbah cair pabrik sawit berpotensi menjadi sumber bahan baku untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

Jika pengembangan lebih lanjut menunjukkan hasil yang sesuai, konsep ini dapat mendukung diversifikasi bahan baku metanol. Selain itu, pemanfaatan sumber daya lokal berpeluang memperkuat pendekatan ekonomi sirkular dalam kegiatan industri.

Meski demikian, CarbonBridge masih berada pada tahap konseptual dan simulasi. Tim masih perlu melakukan pengujian lanjutan untuk memastikan kinerja teknis, kelayakan ekonomi, dan dampak lingkungannya sebelum penerapan pada skala industri.

Nasywa berharap gagasan tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi pengembangan teknologi produksi metanol yang lebih berkelanjutan.

“Kami berharap CarbonBridge dapat menjadi salah satu referensi pengembangan teknologi produksi metanol yang lebih berkelanjutan, khususnya melalui pemanfaatan limbah industri kelapa sawit,” ujar Nasywa.

Prestasi di POISE UGM 2026 menjadi capaian bagi ketiga mahasiswa Teknik Kimia ITB dalam mengembangkan gagasan berbasis potensi sumber daya nasional. Lebih dari sekadar kompetisi, riset ini menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat mengangkat persoalan industri menjadi peluang inovasi melalui pendekatan teknologi dan analisis ilmiah.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article