Begal di Lumajang Ternyata Bisa Dipetakan dari Tata Ruang, Mahasiswa UNEJ Bongkar Polanya

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kasus begal di Lumajang tidak hanya berkaitan dengan faktor ekonomi atau tindak kriminal. Sekelompok mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) melihat persoalan tersebut dari sudut pandang tata ruang.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) UNEJ menggunakan analisis spasial untuk mempelajari pola kejahatan jalanan di Lumajang.

Pendekatan tersebut membawa tim memperoleh pendanaan nasional dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Riset ini melihat hubungan antara desain jalan, konektivitas wilayah, aktivitas warga, dan potensi kerawanan. Hasilnya menunjukkan bahwa karakter ruang ikut memengaruhi tingkat keamanan sebuah jalur.

Lima Mahasiswa Gabungkan Tata Ruang dan Ilmu Hukum

Lima mahasiswa UNEJ mengerjakan riset tersebut. Mereka terdiri dari Tegar, Milla, Aulia, dan Angel dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.

Satu anggota lainnya, Emrei, berasal dari Program Studi Ilmu Hukum.

Perbedaan latar belakang tersebut memperkaya analisis tim. Mereka menggabungkan perspektif tata ruang dengan pendekatan hukum dalam melihat persoalan begal.

Tim menggunakan dua metode utama. Keduanya terdiri dari Space Syntax dan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED).

Space Syntax membantu tim membaca hubungan dan pola konektivitas antarjalan. Sementara itu, CPTED melihat cara desain lingkungan mendukung pencegahan kejahatan.

Jalan Vital Justru Masuk Wilayah Rawan

Hasil analisis menunjukkan temuan yang cukup menarik. Sejumlah jalan yang sering menjadi lokasi begal memiliki tingkat Integration sedang hingga tinggi.

Artinya, jalur tersebut memiliki posisi penting dalam jaringan pergerakan antarwilayah. Banyak pengguna jalan melintasi koridor tersebut karena jalurnya relatif vital.

Namun, kondisi itu tidak otomatis membuat jalan lebih aman. Tim justru menemukan persoalan pada tingkat Connectivity di sekitar jalur utama.

Keterbatasan koneksi alternatif membuat pengguna jalan memiliki lebih sedikit pilihan ketika melintas. Situasi tersebut dapat menciptakan pola pergerakan yang lebih mudah diprediksi.

Minim Jalur Alternatif Buka Celah Kejahatan

Anggota tim, Tegar, menjelaskan bahwa pola pergerakan di sejumlah jalur rawan cukup mudah dibaca.

Ketika sebuah jalan memiliki sedikit rute alternatif, pelaku bisa lebih mudah memperkirakan arah perjalanan calon korban. Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku untuk melakukan pengintaian sebelum menjalankan aksinya.

Aktivitas warga di sepanjang koridor juga menjadi faktor penting. Kawasan yang sepi membuat pengawasan alami dari masyarakat ikut berkurang.

Interaksi sosial yang rendah turut memperlemah pengawasan lingkungan. Akibatnya, pelaku bisa memiliki lebih banyak ruang untuk menjalankan aksinya tanpa perhatian warga.

Lima Koridor Lumajang Masuk Zona Merah

Tim PKM-RSH UNEJ kemudian memetakan tingkat kerawanan berdasarkan data lapangan dan analisis spasial.

Hasil pemetaan menunjukkan lima koridor utama masuk zona merah dengan tingkat kerawanan tertinggi.

Kelima koridor tersebut meliputi:

  • Jalan Grobogan–Batas Kabupaten Jember, Kecamatan Randuagung.
  • Jalan Grobogan–Wonorejo–Batas Kabupaten Probolinggo, Kecamatan Klakah.
  • Jalan Wonorejo–Batas Kabupaten Jember, Kecamatan Jatiroto.
  • Jalan Lingkar Timur (JLT).
  • Jalan Lintas Selatan (JLS/Pansela).

Tim kemudian mengolah hasil analisis dalam bentuk peta kerawanan digital. Peta tersebut dapat membantu masyarakat mengenali jalur yang perlu mendapat perhatian lebih, terutama pada jam rawan.

Data spasial itu juga bisa membantu aparat dan pemerintah daerah menentukan prioritas pengamanan. Contohnya, pemerintah dapat mempertimbangkan lokasi pos keamanan atau pemasangan CCTV berdasarkan titik yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Empat Masalah Utama Jadi Dasar Solusi

Riset UNEJ tidak hanya memetakan lokasi rawan. Tim juga mengidentifikasi empat persoalan utama yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, sistem keamanan di sejumlah kawasan masih lemah. Kedua, aktivitas kawasan belum mampu menciptakan pengawasan alami.

Persoalan ketiga berkaitan dengan infrastruktur lingkungan. Kondisi penerangan dan fasilitas pejalan kaki juga masuk dalam perhatian tim.

Masalah terakhir menyangkut pengelolaan aksesibilitas. Keterbatasan akses alternatif dapat memengaruhi pola pergerakan pengguna jalan.

Berdasarkan temuan tersebut, tim menyusun empat pilar solusi.

Solusinya mencakup penguatan jaringan CCTV, pengaktifan ruang publik melalui konsep mixed-use, peningkatan penerangan jalan, serta perbaikan fasilitas pejalan kaki.

Tim juga mendorong pemerintah memasukkan aspek keamanan ke dalam perencanaan tata ruang daerah.

Riset Melahirkan Tiga Produk Aplikatif

Pendanaan Belmawa Kemendiktisaintek membantu tim mengembangkan hasil riset menjadi produk yang lebih aplikatif.

Produk pertama berupa Peta Kerawanan Digital. Peta ini menampilkan titik dan koridor yang memiliki tingkat kerawanan berdasarkan analisis spasial.

Warga dapat menggunakan informasi tersebut sebagai salah satu pertimbangan ketika menentukan perjalanan. Peta itu juga memberi gambaran mengenai lokasi yang membutuhkan perhatian keamanan lebih besar.

Produk kedua berupa Policy Brief. Tim menyusun dokumen tersebut untuk Pemerintah Kabupaten Lumajang dan Satreskrim Polres Lumajang.

Policy brief itu mendorong perubahan pendekatan. Tim ingin pemerintah dan aparat tidak hanya merespons kejahatan setelah kejadian, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan berbasis karakter ruang.

Produk ketiga berupa rancangan awal mobile app keselamatan. Aplikasi tersebut nantinya dapat membantu pengguna jalan ketika melintasi wilayah yang memiliki potensi kerawanan.

Tata Ruang Bisa Jadi Bagian dari Pencegahan Begal

Riset mahasiswa UNEJ menunjukkan bahwa pencegahan kejahatan dapat melibatkan lebih banyak pendekatan.

Penanganan begal memang membutuhkan peran aparat penegak hukum. Namun, desain dan pengelolaan ruang juga bisa mendukung upaya pencegahan.

Jalan yang memiliki penerangan memadai, aktivitas warga yang hidup, akses alternatif, serta pengawasan lingkungan dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung keamanan.

Pendekatan spasial juga membuka peluang bagi pemerintah untuk menentukan prioritas intervensi berdasarkan karakter setiap kawasan.

Melalui riset ini, mahasiswa UNEJ mencoba memperluas cara pandang terhadap persoalan begal. Keamanan jalan tidak hanya berkaitan dengan siapa yang melakukan kejahatan.

Ruang tempat kejahatan terjadi juga perlu dipahami. Dengan membaca pola tersebut, pemerintah dapat merancang lingkungan yang lebih aman sekaligus mendukung mobilitas masyarakat.

 

Penulis: Putri Faathiman Niara

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article