EDUCARE.CO.ID – Pendidikan dan perubahan sosial tidak selalu dimulai dari ruang kelas. Dari lingkungan keluarga, kebiasaan sederhana di rumah, hingga kepedulian anak muda terhadap persoalan di sekitarnya, setiap langkah memiliki potensi untuk membentuk masa depan yang lebih baik.
Semangat inilah yang dihadirkan melalui Gaharu Bumi Innovation Challenge (GBIC) 2026. Ashoka menetapkan 12 tim inisiatif terbaik yang dinilai memiliki gagasan inovatif dan potensi nyata dalam menciptakan perubahan positif bagi masyarakat.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Ke Ruang Bersama, Jakarta, Jumat (6/11). Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni, turut hadir bersama perwakilan dari 12 tim terpilih.
Antusiasme terhadap program ini terbilang tinggi. Sebanyak 677 tim mendaftarkan diri, berasal dari 250 kabupaten/kota di 21 provinsi di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, terpilih 12 inisiatif terbaik yang mewakili empat kategori, yakni Keluarga, Guru, Orang Muda, dan Komunitas.
Keempat kategori tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dan perubahan sosial merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk belajar membangun karakter, kepedulian, dan kebiasaan positif. Sementara itu, guru memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang mendorong kreativitas, empati, serta keberanian untuk mencari solusi.
Di sisi lain, generasi muda memiliki ruang luas untuk menghadirkan gagasan segar dalam menjawab berbagai tantangan zaman. Dukungan komunitas juga menjadi bagian penting agar inisiatif yang lahir tidak berhenti sebagai ide, tetapi berkembang menjadi gerakan yang memberikan manfaat lebih luas.
Melalui GBIC 2026, Ashoka ingin memberikan ruang bagi para penggerak perubahan untuk memperkenalkan gagasan, bertukar pengalaman, sekaligus memperkuat inisiatif yang telah mereka jalankan. Program ini juga menjadi wadah untuk menunjukkan bahwa inovasi sosial dapat tumbuh dari berbagai latar belakang dan lingkungan.
Fokus yang diusung adalah menciptakan ruang hidup yang lebih adil, inklusif, dan lestari. Karena itu, sebuah inovasi tidak hanya dinilai dari kebaruan gagasannya, tetapi juga dari kemampuannya menjawab kebutuhan masyarakat dan menghadirkan dampak yang berkelanjutan.
Terpilihnya 12 tim terbaik diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas gerakan perubahan di berbagai daerah. Kolaborasi antara keluarga, tenaga pendidik, anak muda, dan komunitas menjadi kunci agar berbagai inisiatif tersebut dapat terus berkembang.
Pada akhirnya, membangun masa depan yang lebih baik tidak harus menunggu perubahan besar. Semuanya bisa dimulai dari rumah, diperkuat melalui pendidikan, lalu tumbuh menjadi gerakan bersama. Sebab, setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, berinovasi, dan mengambil peran dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik. (*)

