EDUCARE.CO.ID – Aktivitas influenza di Indonesia meningkat sejak September 2026. Kondisi tersebut mengikuti pola musiman yang juga terjadi di sejumlah negara Asia Tenggara.
Di tengah kenaikan aktivitas influenza, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying Oseltamivir.
Oseltamivir merupakan obat antivirus yang penggunaannya memerlukan penilaian tenaga kesehatan. Dokter menentukan pemberian obat berdasarkan kondisi pasien dan hasil pemeriksaan.
Kemenkes menegaskan bahwa sebagian besar kasus influenza dapat sembuh sendiri. Karena itu, masyarakat tidak perlu membeli atau mengonsumsi Oseltamivir sebagai langkah pencegahan tanpa rekomendasi dokter.
Influenza Meningkat, tetapi Masih Mengikuti Pola Musiman
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, menjelaskan bahwa kenaikan influenza mulai terlihat sejak September.
Menurut Kemenkes, pola tersebut juga muncul setiap tahun. Beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand mengalami pola serupa.
Di Indonesia, influenza A(H1N1)pdm09 saat ini menjadi jenis virus yang paling banyak ditemukan.
Kemenkes tetap meningkatkan pemantauan untuk melihat perkembangan kasus dan karakteristik virus.
Data terbaru Kemenkes juga menunjukkan aktivitas influenza masih berada dalam rentang kewaspadaan. Karena itu, pemerintah mendorong masyarakat untuk tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan.
Apa Itu “Super Flu” yang Ramai Dibicarakan?
Selain kenaikan influenza, masyarakat juga ramai membicarakan istilah “super flu”.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa istilah tersebut bukan nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes.
Istilah awam itu merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K. Namun, data Indonesia justru menunjukkan penurunan kasus subclade tersebut.
Berdasarkan sumber rilis Kementerian Kesehatan RI, surveilans ILI-SARI hingga pekan ke-38 tahun 2026 mencatat 1.527 spesimen positif influenza dari 8.757 pemeriksaan.
Angka tersebut menghasilkan positivity rate sekitar 17 persen. Pada periode yang sama tahun 2025, angkanya mencapai 24 persen.
Dengan demikian, data tersebut tidak menunjukkan peningkatan positivity rate dibandingkan tahun sebelumnya pada pemantauan ILI-SARI tersebut.
Kasus Subclade K Justru Menurun
Kemenkes juga mencatat jumlah influenza A(H3N2) subclade K sepanjang 2026.
Hingga pekan ke-38, pemerintah menemukan 22 kasus subclade K. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan 166 kasus pada 2025.
Kemenkes juga tidak menemukan tambahan kasus baru sejak April 2026.
Pemerintah tetap memantau perkembangan virus melalui jaringan fasilitas kesehatan dan laboratorium.
Pemantauan tersebut melibatkan 35 rumah sakit, 39 puskesmas, 13 balai laboratorium kesehatan masyarakat, serta 14 balai karantina kesehatan di berbagai wilayah Indonesia.
Kemenkes Salurkan Oseltamivir ke Rumah Sakit
Kemenkes tetap menyiapkan Oseltamivir untuk pasien yang membutuhkan terapi antivirus.
Hingga 28 September 2026, pemerintah telah menyalurkan Oseltamivir ke 196 rumah sakit.
Selain itu, Kemenkes terus menambah pasokan melalui produksi dalam negeri dan jalur importasi khusus. Langkah tersebut juga bertujuan mengatasi keterlambatan dari produsen lokal.
Lucia Rizka Andalucia menegaskan bahwa pemerintah menggunakan data surveilans untuk menghitung kebutuhan obat.
“Kami menggunakan data surveilans sebagai dasar perencanaan kebutuhan obat, bukan berdasarkan kepanikan. Setiap tablet akan diarahkan kepada pasien yang paling membutuhkan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan,” ujar Lucia.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah mengarahkan persediaan obat kepada pasien yang memang membutuhkan.
Tidak Semua Pasien Influenza Membutuhkan Antivirus
Dokter Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas, Pompini Agustina Sitompul, menjelaskan bahwa sebagian besar pasien influenza tidak membutuhkan antivirus.
Influenza pada umumnya termasuk penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self-limiting disease. Pasien biasanya dapat menjalani pemulihan dengan istirahat dan memenuhi kebutuhan cairan.
Namun, dokter dapat memberikan antivirus kepada pasien dengan kondisi berat. Kelompok tertentu juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Kelompok rentan tersebut mencakup:
- balita berusia di bawah 5 tahun,
- lansia berusia di atas 65 tahun,
- ibu hamil,
- penderita penyakit penyerta atau komorbid,
- dan pasien dengan sistem imun lemah atau immunocompromised.
Kemenkes juga menegaskan bahwa Oseltamivir bukan obat untuk batuk pilek biasa.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menggunakan obat tersebut tanpa penilaian medis.
Studi Anak Menunjukkan Manfaat Terbatas pada Influenza Tanpa Komplikasi
Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana turut menjelaskan bukti ilmiah mengenai penggunaan Oseltamivir pada anak.
Ia memaparkan hasil meta-analisis terhadap sekitar 2.500 pasien anak rawat jalan yang mengalami influenza tanpa komplikasi.
Hasil studi menunjukkan bahwa Oseltamivir hanya memperpendek durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari dibandingkan plasebo.
Manfaat tersebut terlihat signifikan pada kondisi tertentu. Studi menemukan manfaat ketika pasien menerima obat kurang dari 24 jam setelah gejala muncul.
Temuan itu berlaku pada anak di bawah 6 tahun yang tidak memiliki riwayat asma.
“Secara klinis, belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat bermakna dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi,” terang Dewi Selvina Rosdiana.
Studi tersebut juga menemukan risiko muntah yang lebih tinggi pada anak yang mengonsumsi Oseltamivir. Risikonya mencapai 1,6 kali dibandingkan kelompok pembanding.
Karena itu, penggunaan antivirus tetap membutuhkan pertimbangan medis.
Penggunaan Antivirus Sembarangan Bisa Picu Resistensi
Masyarakat juga perlu memahami risiko penggunaan obat tanpa indikasi yang jelas.
Penggunaan antivirus secara berlebihan dapat meningkatkan risiko resistensi virus terhadap obat. Kondisi tersebut dapat menyulitkan penanganan apabila pasien benar-benar membutuhkan antivirus pada kemudian hari.
Selain antivirus, Kemenkes juga mengingatkan masyarakat mengenai penggunaan antibiotik.
Antibiotik tidak mengobati influenza yang disebabkan virus. Dokter hanya menggunakan antibiotik jika pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi sekunder akibat bakteri.
Kenali Gejala dan Tanda Bahaya Influenza
Kemenkes meminta masyarakat lebih fokus mengenali gejala dan tanda bahaya daripada menimbun obat.
Lucia Rizka Andalucia mengingatkan masyarakat untuk mencari pertolongan pada waktu yang tepat.
“Yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat,” imbau Lucia.
Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi tubuh selama mengalami gejala influenza. Jika kondisi memburuk atau muncul tanda bahaya, pasien sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Kemenkes Dorong Pencegahan Influenza
Selain mengenali gejala, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko penularan influenza.
Kemenkes menganjurkan masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun juga perlu terus dilakukan.
Selain itu, masyarakat perlu menerapkan etika batuk dan bersin. Gunakan masker ketika berada di keramaian atau saat sedang sakit.
Menjaga kondisi tubuh juga menjadi bagian dari upaya pencegahan. Kemenkes turut menganjurkan vaksinasi influenza tahunan.
Pemerintah juga telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan influenza kepada dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai wilayah.
Jangan Panik, Gunakan Obat Sesuai Kebutuhan
Kenaikan aktivitas influenza pada September 2026 mengikuti pola musiman yang juga terlihat di kawasan Asia Tenggara. Pada saat yang sama, data Kemenkes menunjukkan subclade K justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Karena itu, masyarakat tidak perlu melakukan panic buying Oseltamivir.
Obat antivirus tersebut tetap tersedia untuk kebutuhan medis. Namun, dokter perlu menentukan penggunaannya berdasarkan kondisi pasien.
Masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih penting dengan menjaga kebersihan, mengenali gejala, memperhatikan tanda bahaya, dan mencari pertolongan medis ketika membutuhkan.
Dengan langkah tersebut, masyarakat dapat menghadapi peningkatan influenza secara lebih tenang sekaligus membantu penggunaan obat tetap tepat sasaran.
Penulis: Andini Namira Saskirana

