EDUCARE.CO.ID – Warga Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, memiliki jaringan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang mengalir ke rumah-rumah. Namun, musim kemarau tetap membawa kekhawatiran karena ketersediaan air bisa menurun.
Di tengah kondisi tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) Ngablak Akara menemukan sumber air alternatif di kawasan lereng Gunung Merbabu. Warga mengenalnya sebagai “air Merbabu”.
Sumber air itu cukup melimpah karena berada di lokasi yang lebih tinggi. Sayangnya, kandungan belerang membuat warga lebih sering menggunakannya untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan.
Kini, mahasiswa KKN UGM bersama warga mencoba mengolah sumber air tersebut melalui teknologi penyaringan. Langkah ini membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan air Merbabu sebagai tambahan pasokan air bersih saat musim kemarau.
Berdasarkan informasi di laman resmi UGM (20/8/2026), Tim KKN UGM Ngablak Akara menggagas pengadaan filter air bersama masyarakat Dusun Deles.
Air Merbabu Jadi Sumber Air Alternatif
Selama ini, warga mengandalkan jaringan Pamsimas untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Jaringan tersebut sudah menjangkau rumah-rumah sehingga masyarakat tidak perlu mengambil air dari sumber yang jauh.
Meski begitu, kondisi musim kemarau membuat warga perlu menyiapkan sumber air tambahan. Tim KKN UGM kemudian melihat potensi air Merbabu yang selama ini belum banyak dimanfaatkan warga untuk kebutuhan rumah tangga.
Anggota Tim KKN UGM Ngablak Akara, Agustina Herawati, mengatakan filter tersebut dapat membantu menyediakan cadangan air ketika pasokan utama mengalami keterbatasan.
Tim juga menempatkan filter di dekat bak Pamsimas yang sudah ada. Dengan cara itu, warga dapat memanfaatkan jaringan distribusi yang tersedia untuk menyalurkan air hasil penyaringan.
“Air hasil penyaringan dapat langsung mengalir ke rumah-rumah melalui infrastruktur distribusi yang sudah ada tanpa harus membangun dari nol,” kata Agustina dalam laman resmi UGM.
Tim Periksa Kualitas Air Sebelum Digunakan
Tim KKN UGM tidak langsung mengarahkan air hasil penyaringan ke rumah warga. Mereka lebih dulu memeriksa kualitas air melalui pengujian laboratorium.
Tim mengambil sampel air sebelum dan sesudah proses penyaringan. Selanjutnya, Labkesmas Kesehatan Lingkungan Salatiga melakukan sejumlah pemeriksaan.
Pengujian tersebut mencakup E. coli, coliform, kondisi fisik air, serta parameter kimia air.
Pemeriksaan ini penting karena air yang terlihat jernih belum tentu aman untuk konsumsi. Hasil laboratorium menjadi dasar untuk menilai kualitas air setelah melewati sistem filter.
“Langkah ini kami lakukan untuk memastikan air hasil penyaringan benar-benar layak dikonsumsi, bukan sekadar terlihat bersih secara kasat mata,” jelas Agustina.
Warga Ikut Terlibat dalam Program
Pengadaan filter air Merbabu tidak hanya melibatkan mahasiswa. Warga Dusun Deles, pengurus Pamsimas, dan Pemerintah Desa Jogonayan turut mengambil bagian dalam program tersebut.
Kolaborasi ini membantu tim menyesuaikan teknologi dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Selain itu, keterlibatan warga dapat mendukung keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir.
Agustina menilai persoalan air bersih membutuhkan kerja bersama karena masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya.
“Air bersih merupakan kebutuhan bersama. Karena itu, kita harus mengupayakannya bersama-sama,” katanya.
Dosen KKN UGM Apresiasi Inovasi Mahasiswa
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Ngablak Akara, Dr. Ir. Endy Triyannanto, S.Pt., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., mengapresiasi kerja mahasiswa bersama masyarakat.
Menurut Endy, program tersebut memperlihatkan penerapan sains dan teknologi tepat guna untuk menyelesaikan persoalan yang masyarakat hadapi sehari-hari.
“Sinergi yang terjalin antara mahasiswa, warga, dan pemerintah desa menjadi bukti bahwa sains hadir memberikan solusi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.
Program tersebut juga memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dari kampus dalam situasi nyata. Dengan begitu, kegiatan KKN tidak berhenti pada aktivitas sosial, tetapi dapat menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan warga.
Kepala Desa: Air Belerang Bisa Jadi Harapan Baru
Kepala Desa Jogonayan, Tumarno, menyambut baik program filter air tersebut. Ia mengaku sebelumnya tidak menyangka sumber air yang mengandung belerang dapat melalui proses pengolahan untuk kebutuhan rumah tangga.
Kini, filter air Merbabu memberi alternatif baru bagi masyarakat, terutama ketika musim kemarau datang.
“Kami sebelumnya tidak menyangka air belerang ini bisa diolah sehingga bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga. Kami sangat bersyukur atas inovasi Tim KKN UGM ini,” ungkap Tumarno.
Bagi warga Dusun Deles, pemanfaatan sumber air tersebut juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber ketika ketersediaan air menurun.
Teknologi Tepat Guna Bantu Warga Hadapi Kemarau
Inovasi Tim KKN UGM Ngablak Akara menunjukkan bahwa sumber daya di sekitar masyarakat dapat memberikan manfaat lebih besar ketika mendapat pengolahan yang tepat.
Warga sebelumnya lebih banyak menggunakan air Merbabu untuk pertanian. Kini, mereka juga dapat memanfaatkannya sebagai sumber air bersih tambahan. Tim tetap mengedepankan pengujian kualitas agar pemanfaatannya memiliki dasar yang jelas.
Pada saat yang sama, keberadaan jaringan Pamsimas membuat proses distribusi air lebih mudah. Warga juga ikut terlibat sejak tahap pengadaan filter sehingga program memiliki dukungan dari masyarakat setempat.
Kolaborasi antara mahasiswa, warga, pengurus Pamsimas, dan pemerintah desa menjadi bagian penting dalam menjalankan inovasi tersebut.
Ke depan, warga Dusun Deles dapat memanfaatkan air Merbabu sebagai sumber tambahan untuk menghadapi keterbatasan air saat musim kemarau. Program ini sekaligus menjadi contoh bahwa teknologi tepat guna dapat hadir dari persoalan sederhana yang masyarakat temui dalam kehidupan sehari-hari.


