AI Mulai Kuasai Rumah Sakit Indonesia, Nakes Bisa Hemat Waktu hingga 88 Jam Setahun

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kecerdasan buatan atau AI mulai mengubah cara tenaga kesehatan bekerja di Indonesia. Teknologi ini membantu mempercepat diagnosis, memperlancar akses data pasien, hingga mengurangi pekerjaan administratif.

Temuan tersebut muncul dalam laporan Future Health Index (FHI) 2026 Indonesia dari Philips. Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan memaparkan hasil laporan itu dalam Media Briefing Philips Future Health Index 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Dalam survei tersebut, Philips melibatkan lebih dari 2.000 responden. Lebih dari 200 di antaranya merupakan tenaga kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan laporan FHI 2026, penggunaan AI di institusi kesehatan Indonesia terus meningkat. Tenaga kesehatan pun mulai merasakan dampaknya dalam pekerjaan sehari-hari.

Mayoritas Nakes Mulai Gunakan AI

Sebanyak 63 persen tenaga kesehatan mengatakan penggunaan AI di institusi mereka meningkat dalam satu tahun terakhir.

Lebih dari separuh responden juga sudah menggunakan AI generatif untuk membantu pekerjaan.

Pemanfaatannya mencakup analisis dokumentasi klinis, pencitraan radiologi, pemantauan pasien, hingga perawatan.

“Lebih dari separuh juga telah menggunakan AI generatif untuk membantu pekerjaan, seperti menganalisis dokumentasi klinis, pencitraan radiologi, pemantauan pasien, dan perawatan,” ungkap Astri.

Dari sisi produktivitas, manfaat AI terlihat cukup kuat. Sebanyak 88 persen nakes Indonesia menilai AI membuat alur kerja mereka lebih efisien.

Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada rata-rata global yang mencapai 71 persen.

Selain itu, 87 persen nakes merasakan akses hasil diagnosis yang lebih cepat. Sebanyak 82 persen lainnya menilai AI membantu mempercepat pengambilan keputusan klinis.

AI Bantu Nakes Tangani Lebih Banyak Pasien

AI juga membantu meningkatkan kapasitas layanan tenaga kesehatan.

Sebanyak 69 persen nakes Indonesia mengatakan perangkat berbasis AI membantu mereka menangani lebih banyak pasien. Angka ini berada di atas rata-rata global sebesar 50 persen.

Nakes yang merasakan peningkatan kapasitas tersebut rata-rata dapat menangani empat pasien baru tambahan setiap minggu.

AI juga mempermudah tenaga kesehatan mengakses informasi pasien. Sebanyak 75 persen responden di Indonesia merasakan kemudahan dalam mengakses data lintas tim medis.

Sebagai perbandingan, angka global hanya mencapai 57 persen.

Akses data yang lebih cepat membantu nakes mengurangi waktu pencarian informasi. Mereka pun dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk kebutuhan pasien.

AI Selamatkan 88 Jam Waktu Kerja dalam Setahun

Salah satu temuan FHI 2026 yang menarik berkaitan dengan penghematan waktu.

Sebanyak 59 persen tenaga kesehatan mengatakan AI membantu mereka menghemat waktu setidaknya 88 jam dalam setahun.

Jumlah tersebut setara dengan lebih dari dua minggu waktu kerja penuh.

Tenaga kesehatan kemudian dapat menggunakan waktu tersebut untuk menelaah kasus pasien dan mengerjakan tugas klinis yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Selain itu, 67 persen nakes merasa AI membantu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Persentase yang sama juga mengaku mengalami penurunan tingkat stres.

AI bahkan membantu sebagian tenaga kesehatan memeriksa kembali pekerjaan mereka. Sebanyak 34 persen profesional kesehatan mengatakan teknologi tersebut membantu menemukan kesalahan medis lebih awal.

Meski manfaatnya terus berkembang, Astri menegaskan bahwa AI tidak menggantikan tenaga kesehatan.

“AI tidak boleh dipahami sebagai pengganti manusia. Namun AI akan memberi nilai yang lebih besar lagi jika bisa memberikan manfaat untuk penguatan klinis,” ujar Astri.

Kemenkes Dorong AI Masuk Transformasi Kesehatan Nasional

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI Prof Asnawi Abdullah turut membahas arah pemanfaatan AI di sektor kesehatan.

Menurut Asnawi, pemerintah perlu menempatkan AI sebagai bagian dari transformasi kesehatan nasional. Teknologi ini tidak cukup hanya digunakan sebagai alat bantu di ruang praktik.

Pemanfaatan AI juga dapat mendukung deteksi dini dan pencegahan penyakit. Selain itu, teknologi tersebut dapat membantu penguatan sumber daya manusia kesehatan dan layanan kesehatan primer.

AI bahkan dapat membantu pemerintah mengambil keputusan berbasis data.

BKPK sendiri telah menggunakan AI untuk mempercepat penyusunan kebijakan di lingkungan Kementerian Kesehatan.

“Karena itu, penguatan fondasi data menjadi penting. Pemerintah antara lain memperkuat screening dan pemanfaatan rekam medis elektronik, dengan tetap memperhatikan perlindungan data pribadi,” ungkap Asnawi.

Pasien Indonesia Juga Mulai Gunakan AI

Perubahan penggunaan AI tidak hanya terjadi di rumah sakit.

Laporan FHI 2026 menunjukkan 57 persen pasien Indonesia sudah menggunakan AI generatif untuk mencari informasi kesehatan melalui internet.

Sebanyak 71 persen pasien juga ingin memahami cara menggunakan AI untuk mengelola kesehatan mereka.

Tren tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap literasi AI semakin besar.

Pasien perlu memahami batas kemampuan AI ketika mencari informasi kesehatan. Di sisi lain, fasilitas kesehatan juga perlu membangun tata kelola yang jelas.

Pengawasan tenaga kesehatan tetap penting, terutama ketika AI membantu proses yang berkaitan dengan keputusan klinis.

FHI 2026 mencatat 90 persen klinisi percaya AI tidak akan menggantikan tenaga kesehatan.

Menurut mereka, keputusan akhir tetap membutuhkan penilaian manusia.

Rumah Sakit Mulai Bangun Strategi AI

Sejumlah rumah sakit di Indonesia mulai menyiapkan strategi pemanfaatan AI untuk jangka panjang.

Presiden Direktur Siloam International Hospitals David Utama mengatakan Siloam mengembangkan konsep Hospital of the Future sejak 2025.

Dalam konsep tersebut, Siloam membangun Enterprise AI Foundation sebagai fondasi transformasi digital.

Siloam juga menyiapkan tiga aplikasi utama. Ketiganya mencakup dokter digital twin, patient digital twin, dan hospital digital twin.

“Pemanfaatan teknologi menjadi penting untuk meningkatkan operational excellence, clinical excellence, dan clinical innovation, sekaligus mendorong kualitas layanan kesehatan agar mampu bersaing di tingkat regional,” ujar David.

AI Kesehatan Butuh Tata Kelola yang Kuat

Perkembangan AI menunjukkan perubahan besar dalam layanan kesehatan Indonesia.

Teknologi tersebut kini mulai masuk ke berbagai aktivitas. Mulai dari pekerjaan tenaga kesehatan hingga pencarian informasi oleh pasien.

Namun, adopsi AI membutuhkan persiapan yang matang.

Rumah sakit dan fasilitas kesehatan perlu menyiapkan pelatihan bagi tenaga kesehatan. Mereka juga perlu memastikan sistem AI dapat terhubung dengan sistem yang sudah berjalan.

Selain itu, pengelola layanan kesehatan perlu memperkuat keamanan dan tata kelola data pasien.

Pemerintah, rumah sakit, tenaga kesehatan, akademisi, serta perusahaan teknologi juga perlu membangun kolaborasi.

Dengan langkah tersebut, AI dapat berkembang sebagai teknologi pendukung layanan kesehatan. Manfaatnya pun tidak berhenti pada peningkatan produktivitas, tetapi ikut mendorong layanan yang lebih cepat, efektif, dan berpusat pada kebutuhan pasien.

 

Penulis: Putri Faathiman Niara

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article