Mahasiswa UNAIR Raih Juara 1 Lomba Essay Nasional Lewat Inovasi Teknologi DEEPSEA
educare.co.id, Surabaya – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) Nawasena Vol. 2. Pengumuman pemenang disampaikan pada Selasa, 14 Mei 2025. Mahasiswa berprestasi tersebut ialah, Alvyan Ananta Asis dari Program Studi Teknik Elektro (FTMM) dan Nafiesa Zahra dari Program Studi Administrasi Publik (FISIP).
Dalam kompetisi tersebut, tim UNAIR tampil dengan karya berjudul “DEEPSEA: Strategi Digital Berbasis Deep Learning untuk Memperkuat Hilirisasi Rumput Laut dan Mendukung Pembangunan Ekonomi Maritim Berkelanjutan di Indonesia.”
Menurut Alvyan, gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap ketimpangan dalam rantai pasok komoditas rumput laut. “Indonesia memang produsen terbesar kedua di dunia, tapi para petani justru hanya menerima 4-7 persen dari nilai akhir produk,” ungkapnya.
Solusi Teknologi untuk Industri Maritim
Melalui DEEPSEA, tim UNAIR mengembangkan sebuah platform berbasis teknologi deep learning yang terdiri dari empat fitur utama, yakni klasifikasi kualitas rumput laut, prediksi waktu panen optimal, analisis rantai pasok, dan intelijen pasar prediktif. Platform ini dirancang agar mudah diakses oleh para petani, dengan tujuan mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak serta meningkatkan efisiensi distribusi hasil panen.
Inspirasi pengembangan DEEPSEA turut dipengaruhi oleh kisah nyata seorang petani rumput laut asal Sulawesi Selatan, Pa Joko. “Di tengah potensi pasar global yang begitu besar, kehidupan petani seperti beliau justru sangat rentan,” tambah Alvyan.
Proses pengembangan karya ilmiah ini berlangsung selama tiga bulan, melibatkan riset literatur, pengolahan data sekunder dari kementerian dan lembaga internasional, serta eksperimen pada data citra untuk melatih model kecerdasan buatan. Validasi konsep dilakukan melalui diskusi dengan dosen dan pakar dari berbagai bidang.
Keunggulan DEEPSEA tak hanya terletak pada aspek teknologinya, melainkan juga pada pendekatan multidisipliner yang menggabungkan teknik elektro, ilmu kebijakan publik, dan dinamika sosial ekonomi masyarakat pesisir. Tim UNAIR pun menerapkan prinsip Quadruple Helix, yakni sinergi antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.
“Yang paling menantang adalah bagaimana menyampaikan solusi teknis dengan bahasa yang mudah dipahami semua kalangan. Kami percaya teknologi harus menyentuh sisi kemanusiaan agar memberi dampak nyata,” ujar Alvyan.
Prestasi ini menegaskan kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi solutif bagi tantangan pembangunan nasional. Melalui DEEPSEA, tim UNAIR menunjukkan bahwa generasi muda mampu menjadi agen perubahan yang berperan aktif dalam mewujudkan ekonomi maritim yang inklusif dan berkelanjutan.
