educare.co.id, Surabaya – Kepedulian terhadap pendidikan anak-anak penderita kanker menginspirasi tiga mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk mendirikan komunitas sosial bernama Colourise. Komunitas ini digagas oleh Muhimatul Khoiriyah bersama Anisa Nanda Shafira dan Haikal Wiranata, sebagai respons atas maraknya penggunaan gawai secara berlebihan di kalangan anak-anak di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya.
“Wali dari anak-anak YPKAI kerap memberi akses gawai tanpa filter durasi untuk tetap menjaga mood anak-anak. Namun, hal ini justru melahirkan permasalahan baru,” ungkap Muhimatul Khoiriyah, atau akrab disapa Hima, saat ditemui dalam kegiatan komunitas, Jumat (8/3/2025).
Melalui Colourise, Hima dan tim memperkenalkan terapi seni lukis berbasis aplikasi storytelling sebagai solusi kreatif. Pendekatan ini dirancang untuk mengedukasi sekaligus menghibur anak-anak penderita kanker agar tidak lagi bergantung pada gawai sebagai satu-satunya sumber hiburan.
“Anak-anak kanker perlu perhatian khusus. Mereka hanya dianggap rentan pada aspek kesehatan, sedangkan aspek lain seperti pendidikan kurang diperhatikan,” ujar Hima.
Aplikasi Colourise, yang juga diambil dari nama komunitas, mengusung metode pembelajaran yang selaras dengan Kurikulum Merdeka untuk jenjang SD dan SMP. Melalui fitur storytelling, anak-anak diajak untuk melukis sebagai media ekspresi emosional dan penguatan pemahaman terhadap cerita yang disampaikan. Uniknya, hasil karya mereka akan dipasarkan di platform e-commerce, dan hasil penjualannya dikembalikan kepada anak-anak sebagai bentuk motivasi ekonomi.
Meskipun sempat mengalami kesulitan dalam hal pendanaan, tim Colourise tidak patah semangat. Mereka aktif mengikuti berbagai kompetisi proyek sosial seperti PFMuda dan Innovillage untuk memperoleh dukungan finansial.
“Kolaborasi mitra kami adalah Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya. Kolaborasi lain dengan PT Telkom Indonesia melalui program CSR Innovillage, juga ada BSO SKI FIB UNAIR dan beberapa komunitas lainnya,” jelas Hima.
Program Colourise pun mulai menunjukkan dampak positif. Anak-anak di YPKAI menikmati aktivitas melukis dan mulai menyadari potensi bakat mereka. Salah satu momen paling menyentuh bagi tim adalah ketika seorang anak perempuan berusia tiga tahun menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kegiatan ini.
“Saat pertama kali kami menjalankan proyek ini, kami belum memiliki banyak fasilitas. Namun, anak tersebut begitu bersemangat hingga membeli alat lukis sendiri dan ingin melukis setiap hari. Sayangnya, sebelum kami bisa memberikan fasilitas yang lebih baik, ia telah berpulang lebih dulu. Kenangan ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus berkembang dan mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak YPKAI,” tutur Hima.
Ke depan, tim Colourise berkomitmen untuk memperluas jangkauan komunitas ini agar lebih banyak anak-anak penderita kanker dapat merasakan manfaat pendidikan inklusif. “Kami ingin menciptakan lingkungan yang lebih suportif dengan fasilitas melukis yang nyaman dan akses pendidikan yang lebih baik,” tutup Hima.



