Mahasiswa UMM Ciptakan Game Monopoli Digital, Siswa SD Belajar Sains Sambil Bermain

Must read

EDUCARE.CO.ID – Permainan digital kini bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan konsep sains kepada siswa sekolah dasar. Devino Arkana Razan, mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2026, menghadirkan inovasi pembelajaran melalui game edukasi bernama Metamorphosis Cycle Quest.

Mahasiswa asal Blitar ini menggabungkan konsep permainan monopoli dengan materi siklus hidup makhluk hidup. Melalui game tersebut, siswa dapat mempelajari proses metamorfosis, terutama tahapan kehidupan kupu-kupu, sambil menyelesaikan berbagai tantangan.

Ide ini muncul ketika Devino menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SDN 1 Kauman, Kota Malang. Ia melihat siswa memiliki ketertarikan tinggi terhadap permainan digital. Ketertarikan itu kemudian ia manfaatkan untuk menciptakan media belajar yang lebih dekat dengan keseharian anak.

“Saya ingin menghadirkan media yang dekat dengan hal-hal yang disukai siswa, namun tetap memiliki tujuan pembelajaran yang jelas,” ungkapnya.

Ubah Monopoli Jadi Permainan Belajar Sains

Devino merancang Metamorphosis Cycle Quest khusus untuk siswa kelas III sekolah dasar. Game ini membantu mereka memahami materi metamorfosis yang kerap menimbulkan miskonsepsi.

Salah satu kesalahpahaman yang ia temukan berkaitan dengan siklus hidup kupu-kupu. Sejumlah siswa menganggap proses tersebut berakhir ketika kupu-kupu tumbuh menjadi dewasa. Padahal, kupu-kupu dewasa akan menghasilkan telur dan memulai kembali siklus kehidupannya.

Untuk menjelaskan konsep tersebut, Devino mengadaptasi mekanisme permainan monopoli. Pemain mengocok dadu, menggerakkan pion, lalu mengumpulkan uang untuk membeli rumah.

Namun, pemain harus melewati tantangan terlebih dahulu. Mereka perlu menjawab pertanyaan sains yang muncul selama permainan. Jawaban benar menghasilkan uang, sedangkan jawaban keliru tidak memberikan tambahan uang.

Game ini juga menghadirkan penjelasan setelah pemain menjawab pertanyaan. Dengan demikian, siswa dapat mengetahui alasan di balik jawaban yang benar sekaligus memperkuat pemahaman mereka.

Pemain yang berhasil mengumpulkan rumah terbanyak akan memenangkan permainan. Mekanisme tersebut mendorong siswa untuk memahami materi sekaligus menyusun strategi agar dapat mengembangkan aset dalam permainan.

Kembangkan Game dengan Bantuan AI dalam Dua Hari

Dalam proses pembuatannya, Devino memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia menggunakan asisten AI generatif untuk mematangkan gagasan, menyusun alur permainan, dan merancang instruksi pengembangan.

Setelah menyusun konsep awal, Devino melanjutkan proses pembuatan game melalui platform pengembangan berbasis AI. Teknologi tersebut membantunya mewujudkan ide menjadi permainan digital yang dapat langsung digunakan siswa.

Seluruh proses perancangan awal rampung hanya dalam dua hari. Devino memulai pengembangan pada 20 September 2026. Empat hari kemudian, ia memperkenalkan game tersebut kepada siswa di SDN 1 Kauman, tempat ia menjalani PPL.

Berdasarkan sumber Universitas Muhammadiyah Malang, Devino mengembangkan game ini dengan memanfaatkan teknologi yang dekat dengan kehidupan siswa. Inisiatif tersebut juga memperlihatkan peluang penggunaan AI untuk membantu calon guru merancang media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Bisa Dimainkan Melalui Laptop, Tablet, dan Ponsel

Devino merancang Metamorphosis Cycle Quest agar siswa dapat mengaksesnya melalui berbagai perangkat. Mereka bisa menggunakan laptop, tablet, maupun ponsel pintar untuk menjalankan permainan.

Game ini menyediakan dua pilihan mode. Siswa dapat bermain sendiri melawan komputer atau mengajak hingga empat teman untuk bermain bersama.

Fleksibilitas tersebut membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar secara mandiri maupun berkelompok. Mereka juga dapat berinteraksi, berdiskusi, dan menguji pemahaman materi selama permainan berlangsung.

Saat uji coba di sekolah, para siswa menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka bahkan berebut giliran untuk mencoba permainan tersebut.

Respons itu memperlihatkan ketertarikan siswa terhadap media belajar yang menggabungkan materi pelajaran dengan aktivitas bermain. Pendekatan ini juga memberi guru alternatif untuk menciptakan suasana kelas yang lebih interaktif.

Dorong Kolaborasi Sekolah dan Perguruan Tinggi

Ke depan, Devino ingin memperluas cakupan materi dalam Metamorphosis Cycle Quest. Ia juga berharap sekolah dan perguruan tinggi dapat memperkuat kolaborasi untuk mendorong lahirnya guru yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Menurutnya, guru perlu memahami kebutuhan siswa sebelum memilih atau mengembangkan media pembelajaran. Teknologi memang menawarkan banyak peluang, tetapi penggunaannya tetap harus berangkat dari tujuan pendidikan yang jelas.

“Teknologi memang harus dipelajari. Namun, sebelum mengembangkannya, pahami dulu apa yang benar-benar dibutuhkan siswa, bukan sekadar menuruti apa yang diinginkan oleh guru,” pungkasnya.

Melalui Metamorphosis Cycle Quest, Devino menunjukkan bahwa guru dapat memanfaatkan permainan digital dan AI untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik. Inovasi ini sekaligus membuka peluang bagi pengembangan media pembelajaran sains yang lebih interaktif di sekolah dasar.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article