EDUCARE.CO.ID – Tiga mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) meraih Juara 3 nasional dalam Quarantine Innovation Challenge 2026 yang diselenggarakan Badan Karantina Indonesia (BARANTIN). Mereka menghadirkan Q-GUARD, inovasi berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memantau risiko selama distribusi komoditas beku.
Tim tersebut terdiri atas Muhamad Faridzqi Suryadi dan Andre Wijaya dari Program Studi Teknik Informatika, serta Windu Putra Inarwan dari Program Studi Teknologi Agroindustri. Mereka mengembangkan teknologi yang membantu mendeteksi gangguan pada rantai dingin agar kualitas komoditas tetap terjaga selama perjalanan.
Kompetisi yang berlangsung di Jakarta Smesco Convention Center pada 24 Oktober 2026 itu diikuti 146 tim pada tahap awal. Setelah melewati tahapan seleksi, 137 tim mencapai tahap ketiga. Tim Unusia kemudian berhasil menembus tiga besar nasional melalui inovasi berjudul “Q-GUARD: Continuity-Aware Cold-Chain Risk Monitoring Berbasis IoT dan Multivariate AI untuk Smart Quarantine Komoditas Beku.”
Q-GUARD Pantau Suhu dan Risiko Selama Distribusi
Distribusi komoditas beku membutuhkan pengawasan suhu secara konsisten. Perjalanan antarpulau dapat berlangsung selama 3–14 hari. Dalam periode tersebut, gangguan pendinginan yang tidak segera terdeteksi berpotensi menurunkan kualitas produk, memicu kerugian ekonomi, hingga menyebabkan penolakan ekspor.
Q-GUARD hadir untuk membantu menjawab persoalan tersebut. Sistem ini memantau suhu pada tiga titik, kondisi pintu, guncangan, serta lokasi perjalanan. Berbagai data tersebut membantu pengguna mengamati kondisi komoditas selama proses distribusi.
Keunggulan lainnya terletak pada kemampuan pencatatan data saat koneksi internet terputus. Sistem tetap merekam informasi, lalu menyinkronkannya kembali ketika jaringan tersedia. Dengan demikian, pengguna dapat menjaga kesinambungan data meskipun perjalanan melewati wilayah dengan konektivitas terbatas.
Q-GUARD juga memanfaatkan AI untuk mengenali pola kondisi yang tidak normal. Sistem kemudian mengolah informasi tersebut menjadi penilaian risiko dan laporan digital. Hasilnya dapat membantu petugas karantina mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih terstruktur.
Meski menawarkan sejumlah fungsi tersebut, tim masih perlu menguji prototipe dalam kondisi nyata untuk menilai kinerja dan keandalannya.

Kolaborasi Teknik Informatika dan Agroindustri
Pengembangan Q-GUARD melibatkan keahlian dari dua bidang studi. Muhamad Faridzqi Suryadi dan Andre Wijaya menangani perancangan sistem, pengembangan teknologi, serta perakitan prototipe.
Sementara itu, Windu Putra Inarwan berfokus pada pengumpulan informasi, identifikasi masalah, dan analisis kebutuhan dalam distribusi komoditas beku. Peran tersebut membantu tim memahami persoalan di lapangan sebelum merancang solusi teknologi.
Kolaborasi lintas program studi ini mempertemukan kemampuan teknis dengan pemahaman tentang karakteristik komoditas dan tantangan distribusinya. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam merancang inovasi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata.
Sempat Berada di Peringkat ke-77, Tim Unusia Terus Berbenah
Perjalanan menuju tiga besar nasional tidak berlangsung mulus. Windu mengungkapkan bahwa tim sempat menempati peringkat ke-77 pada tahap pertama dan kedua kompetisi.
Hasil tersebut mendorong mereka mengevaluasi kembali gagasan yang diajukan. Tim memperjelas persoalan utama, menyempurnakan solusi, serta mempertajam judul karya agar lebih mencerminkan fokus dan kebaruan Q-GUARD.
Upaya perbaikan itu akhirnya membuahkan hasil. Tim berhasil meningkatkan kualitas karya hingga masuk tiga besar nasional.
“Setelah mengevaluasi kembali dan menyempurnakan karya, alhamdulillah kami berhasil masuk tiga besar,” ujar Windu.
Tim juga menghadapi kendala teknis selama proses pengembangan. Mereka harus menunggu kedatangan komponen yang dipesan dan mengganti perangkat yang mengalami kerusakan. Namun, berbagai hambatan tersebut tidak menghentikan upaya mereka untuk menyelesaikan prototipe dan mengikuti kompetisi.
Siapkan Pengujian Prototipe Q-GUARD
Saat ini, Q-GUARD telah memiliki bentuk prototipe fisik. Meski demikian, tim masih perlu melakukan pengujian untuk memastikan setiap komponen bekerja sesuai rancangan.
Sebagai langkah berikutnya, mereka berencana menguji sistem menggunakan cool box berkapasitas 40 liter. Pengujian ini akan membantu tim mengevaluasi kinerja sensor dan kemampuan penyimpanan data dalam kondisi yang lebih mendekati penggunaan nyata.
Ke depan, tim berharap Q-GUARD dapat mendukung pemantauan distribusi komoditas beku secara lebih efektif. Mereka juga melihat peluang untuk mengintegrasikan teknologi tersebut dengan sistem karantina digital BARANTIN, meskipun rencana itu masih membutuhkan pengembangan dan evaluasi lebih lanjut.
Dosen Pembimbing Apresiasi Perjuangan Mahasiswa
Dosen pembimbing tim sekaligus Ketua Program Studi Teknik Informatika Unusia, Andi Aljabar, M.T.I., mengapresiasi pencapaian ketiga mahasiswa tersebut. Ia menyoroti keterbatasan teknis yang harus mereka hadapi selama proses pengembangan.
Menurut Andi, ketersediaan komponen menjadi salah satu tantangan utama. Ketika perangkat yang dibutuhkan belum tersedia atau mengalami kerusakan, tim harus memesan alat pengganti dan menunggu hingga pengembangan dapat berlanjut.
“Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan yang kami miliki, semangat dan tekad yang kuat membuat teman-teman mahasiswa berhasil melampaui batas mereka dan meraih Juara 3 di ajang nasional yang bergengsi ini,” ungkap Andi.
Andi berharap pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa Unusia lainnya untuk mengembangkan gagasan dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Ia juga mendorong para anggota tim untuk membagikan pengalaman melalui dialog dan diskusi bersama mahasiswa lain, baik dari tingkat senior maupun junior.
Berbagi pengalaman, menurutnya, dapat membantu menumbuhkan budaya inovasi dan memperkuat semangat berkarya di lingkungan kampus.
Berdasarkan sumber laman resmi UNUSIA, keberhasilan tim Q-GUARD menunjukkan upaya mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan distribusi komoditas beku. Raihan Juara 3 nasional ini sekaligus menjadi dorongan bagi pengembangan inovasi yang berpotensi mendukung pengawasan rantai dingin dan layanan karantina berbasis digital.

