Petani Sorong Punya Inovasi Baru: Ubah Limbah Ternak Jadi Pupuk Granul Slow Release

Must read

EDUCARE.CO.ID – Limbah kotoran ternak dan batok kelapa muda kini memiliki nilai tambah bagi Kelompok Tani Tirta Arum di Kelurahan Makbalim, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Para petani mulai mengolah bahan tersebut menjadi pupuk organik granul dengan teknologi slow release untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga kesuburan lahan.

Inovasi ini hadir melalui Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (KOSABANGSA) 2026. Program tersebut melibatkan Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong dan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Melalui kegiatan ini, tim perguruan tinggi mendorong petani memanfaatkan limbah organik di sekitar mereka sebagai bahan baku pupuk. Selain mengurangi limbah, pengolahan tersebut juga membuka peluang usaha baru bagi kelompok tani.

Kegiatan berlangsung di Kelurahan Makbalim pada Kamis (29/10/2026). Sebanyak 20 anggota Kelompok Tani Tirta Arum bersama mahasiswa UNIMUDA Sorong mengikuti rangkaian pelatihan dan praktik pengolahan pupuk.

Tim pelaksana terdiri atas Aldila Mawanti Athirah, Yoga Andriyan, dan Nofriansyah. Mereka bekerja bersama tim pendamping yang terdiri atas Syamsia, Arniati, dan Darmawati.

Program ini mengangkat tema “Peningkatan Nilai Tambah Pupuk Organik Melalui Inovasi Teknologi Granul Slow Release untuk Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan”.

Olah Limbah Lokal untuk Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

Harga pupuk kimia yang fluktuatif dan penurunan kesuburan tanah masih menjadi tantangan bagi petani. Kondisi tersebut mendorong perlunya alternatif pemupukan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Di sisi lain, lingkungan sekitar menyediakan berbagai bahan organik yang dapat petani manfaatkan. Kotoran sapi dan limbah batok kelapa muda menjadi dua bahan utama dalam inovasi Kelompok Tani Tirta Arum.

Tim KOSABANGSA memperkenalkan teknologi granulasi untuk mengubah pupuk organik curah atau serbuk menjadi butiran yang lebih padat dan seragam. Bentuk granul memudahkan petani menyimpan, membawa, serta menebarkan pupuk ke lahan.

Teknologi slow release juga menjadi bagian penting dari inovasi ini. Teknologi tersebut mengatur pelepasan unsur hara secara bertahap agar tanaman dapat memanfaatkannya dalam periode tertentu.

Dengan mekanisme tersebut, petani diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan mengurangi kehilangan unsur hara akibat pencucian. Pemanfaatan bahan lokal juga memberi peluang bagi kelompok tani untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia anorganik dan pupuk subsidi.

Petani Praktik Langsung Membuat Pupuk Organik Granul

Program KOSABANGSA tidak hanya memberikan penjelasan mengenai teknologi pupuk. Tim juga mengajak peserta mempraktikkan proses produksi secara langsung.

Para peserta mempelajari tahapan mulai dari persiapan bahan baku, pencampuran, pembentukan butiran, hingga pengeringan. Tim pendamping turut memperkenalkan peralatan produksi, seperti mesin pencetak granul, mesin mixer atau pencampur, mesin penyaring, serta mesin grinder atau penepung.

Peralatan tersebut dapat membantu kelompok tani mengembangkan produksi secara mandiri. Dengan keterampilan dan sarana yang tersedia, petani memiliki bekal untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk dalam skala kelompok.

Ketua Kelompok Tani Tirta Arum, Rustamanto, mengapresiasi kehadiran program KOSABANGSA. Menurutnya, kegiatan ini memberi kesempatan bagi anggota kelompok untuk meningkatkan keterampilan mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian.

“Kami dari Kelompok Tani Tirta Arum berterima kasih atas hadirnya program KOSABANGSA. Kami berharap program ini bisa meningkatkan kemampuan kami dalam mengelola limbah kotoran hewan atau ternak dan limbah batok kelapa menjadi pupuk yang aman dan berkualitas bagi tanaman yang kami tanam di kebun,” ujar Rustamanto.

Ia juga berharap keterampilan baru tersebut dapat memberikan dampak ekonomi bagi para anggota kelompok.

“Kami juga berharap program ini menjadi penggerak perekonomian bagi kami, para petani Kelompok Tirta Arum,” tambahnya.

Teknologi Slow Release Tingkatkan Nilai Guna Pupuk Organik

Ketua Pelaksana KOSABANGSA, Aldila Mawanti Athirah, menjelaskan bahwa program ini menggabungkan pemanfaatan limbah lokal dengan pengembangan teknologi pupuk organik. Tim ingin membantu petani menghasilkan produk yang memiliki nilai guna lebih tinggi.

“Program yang kami tawarkan kepada Kelompok Tani Tirta Arum berupa pembuatan pupuk kompos organik granul slow release, dengan memanfaatkan limbah kotoran hewan atau ternak sapi dan limbah batok kelapa sebagai pupuk organik,” jelas Aldila.

Ia menerangkan bahwa teknologi slow release membantu melepaskan unsur hara secara bertahap. Mekanisme ini diharapkan membuat tanaman menyerap lebih banyak unsur hara dan mengurangi bagian yang terbuang.

“Dengan pelepasan unsur hara secara bertahap, diharapkan lebih banyak unsur hara yang terserap oleh tanaman dan lebih sedikit yang terbuang, sehingga tanaman menjadi lebih subur,” lanjutnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program tersebut mengusung pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan nilai tambah limbah organik dan penerapan teknologi tepat guna.

Pupuk Granul Berpotensi Jadi Sumber Pendapatan Baru

Pengembangan pupuk organik granul tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pemupukan. Produk ini juga membuka peluang ekonomi bagi Kelompok Tani Tirta Arum.

Jika kelompok mampu menjaga kualitas dan konsistensi produksi, pupuk granul berpotensi menjadi produk yang dapat mereka kemas dan pasarkan. Dengan begitu, petani tidak hanya menggunakan pupuk untuk lahan sendiri, tetapi juga dapat mengembangkan usaha berbasis sumber daya lokal.

Tim KOSABANGSA berencana melanjutkan pendampingan melalui uji coba pupuk pada tanaman sayuran dan palawija. Tim juga menyiapkan pengembangan kemasan serta strategi pemasaran berbasis teknologi.

Tahap lanjutan tersebut penting untuk melihat kinerja pupuk pada tanaman sekaligus mengukur peluang pasarnya. Hasil pengujian juga dapat menjadi bahan evaluasi sebelum kelompok memperluas produksi.

Kolaborasi UNIMUDA Sorong dan Universitas Muhammadiyah Makassar bersama Kelompok Tani Tirta Arum diharapkan memperkuat kemandirian petani. Program ini juga membuka peluang pengembangan model pengolahan limbah organik yang dapat diterapkan kelompok tani lain di Kabupaten Sorong dan wilayah Papua Barat Daya.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article