EDUCARE.CO.ID – Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih dua penghargaan nasional melalui inovasi layanan stimulasi tumbuh kembang anak bernama Sobat Ceria. Mereka membawa pulang medali perak dan penghargaan Best Poster dalam ajang National Business Plan Competition 9 di Lombok pada 24–26 Oktober 2026.
Tim tersebut terdiri atas Fatimah Azzahroh dan Meisya Haya Anaswa, mahasiswa semester tujuh, serta Ichita Kunca Az Zahra dari semester lima. Ketiganya berasal dari Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS.
Di bawah bimbingan Dr. Choiriyah Widyasari, S.Psi., M.Psi., mereka mengembangkan Sobat Ceria sebagai layanan edukatif yang membantu orang tua mendukung perkembangan anak melalui permainan terarah dan pendekatan inklusif.
Prestasi ini menunjukkan upaya mahasiswa dalam mengembangkan gagasan pendidikan anak usia dini menjadi inovasi yang memiliki potensi manfaat sosial sekaligus peluang usaha.
Sobat Ceria Hadir sebagai Alternatif Aktivitas Edukatif Anak
Gagasan Sobat Ceria berangkat dari perhatian tim terhadap kebutuhan stimulasi anak usia dini, terutama di tengah meningkatnya penggunaan gawai dalam keseharian. Fatimah Azzahroh menjelaskan bahwa anak membutuhkan aktivitas yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendukung perkembangan mereka.
Layanan ini menyasar anak berusia 2–7 tahun, baik yang memiliki perkembangan tipikal maupun anak berkebutuhan khusus. Melalui permainan edukatif, Sobat Ceria ingin menghadirkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik setiap anak.
“Sobat Ceria hadir untuk menjawab kebutuhan orang tua terhadap kegiatan stimulasi tumbuh kembang anak yang edukatif, terarah, dan menyenangkan,” kata Fatimah, Rabu (28/10/2026).
Konsep tersebut menempatkan aktivitas bermain sebagai sarana untuk mendukung perkembangan anak. Orang tua juga mendapat ruang untuk terlibat aktif, sehingga proses stimulasi tidak hanya berlangsung melalui kegiatan anak, tetapi juga melalui interaksi bersama keluarga.
Padukan Standar Perkembangan Anak dan Pendekatan Inklusif
Sobat Ceria mengintegrasikan kegiatan bermain dengan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak. Tim juga menerapkan pendekatan inklusif agar layanan dapat menjangkau anak dengan kebutuhan perkembangan yang beragam.
Selain aktivitas edukatif, mereka menyusun lembar pengamatan yang menghubungkan setiap permainan dengan aspek perkembangan anak. Perangkat ini membantu orang tua mengenali perkembangan awal anak melalui kegiatan sehari-hari.
Namun, lembar pengamatan tersebut bukan alat untuk menetapkan diagnosis. Orang tua tetap perlu berkonsultasi dengan psikolog jika menemukan kondisi atau kebutuhan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pendekatan ini menjadi salah satu unsur penting dalam rancangan Sobat Ceria. Tim ingin membantu keluarga memahami perkembangan anak melalui aktivitas yang terarah, sekaligus mendorong orang tua mengambil langkah lanjutan ketika diperlukan.
Mahasiswa UMS Tantang Diri Lewat Kompetisi Rencana Bisnis
Mengembangkan Sobat Ceria tidak hanya menuntut pemahaman tentang pendidikan anak usia dini. Tim juga harus menerjemahkan konsep pendidikan menjadi model bisnis yang inovatif dan memiliki peluang untuk bertahan dalam jangka panjang.
Mereka mengidentifikasi tantangan dalam merancang layanan yang menawarkan nilai tambah, sekaligus mempertimbangkan kebutuhan operasional dan keberlanjutan finansial. Proses ini mendorong tim untuk memikirkan cara mengembangkan gagasan pendidikan menjadi layanan yang dapat digunakan masyarakat.
Berdasarkan sumber Universitas Muhammadiyah Surakarta, pihak universitas, fakultas, dan program studi turut memberikan dukungan selama persiapan kompetisi. Dukungan tersebut mencakup pendaftaran, pendanaan transportasi, serta pendampingan intensif bagi tim.
Dukungan akademik tersebut membantu mahasiswa mempersiapkan gagasan dan mengikuti kompetisi hingga meraih dua penghargaan nasional.
UMS Dorong Pengembangan Sobat Ceria agar Menjangkau Lebih Banyak Anak
Setelah meraih penghargaan, tim berencana mengembangkan Sobat Ceria agar dapat menjangkau lebih banyak keluarga. Mereka menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari memperluas jangkauan layanan hingga menambah variasi program stimulasi.
Tim juga berencana membuka sistem keanggotaan dan memperkuat kolaborasi dengan lembaga pendidikan serta psikolog. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses layanan sekaligus mendukung pengembangan program yang lebih terarah.
Ketua Program Studi PG-PAUD UMS, Dr. Junita Dwi Wardhani, M.Ed., mengapresiasi pencapaian ketiga mahasiswa tersebut. Ia berharap mereka terus menyempurnakan inovasi agar Sobat Ceria dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Prestasi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat menggabungkan ilmu pendidikan, kreativitas, dan pemikiran kewirausahaan untuk menjawab kebutuhan keluarga. Melalui Sobat Ceria, tim UMS berupaya menghadirkan alternatif stimulasi tumbuh kembang anak yang edukatif, menyenangkan, dan memperhatikan keberagaman kebutuhan anak.

