EDUCARE.CO.ID – Santri pesantren mulai menunjukkan kiprah dalam pengembangan teknologi untuk pendidikan. Fadhirrahman Azri, santri Pondok Modern Tazakka, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, meraih juara dua atau predikat silver dalam International Science Invention Fair (ISIF) 2026 yang berlangsung di Universitas Indonesia.
Fadhirrahman mengembangkan prototipe robot humanoid berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu santri berlatih bahasa Inggris dan Arab. Inovasi ini menawarkan sarana latihan percakapan yang dapat digunakan santri di lingkungan pondok pesantren.
Robot tersebut dirancang untuk ditempatkan di sejumlah area yang representatif di pondok. Santri kemudian dapat berinteraksi langsung dengan robot melalui percakapan dalam dua bahasa asing tersebut.
“Bisa diletakkan di sudut-sudut ruang representatif di pondok, lalu santri bisa mengajak ngobrol robot prototype humanoid itu, menggunakan dua bahasa tersebut, sehingga bisa mengasah kemampuan berbahasa asing,” terang Fadhirrahman.
Robot AI untuk Latihan Bahasa Antar Santri Raih Predikat Silver
Fadhirrahman mengaku harus menjalani persiapan intensif bersama pembimbing selama dua bulan untuk mengikuti kompetisi tersebut. Upaya itu membuahkan hasil ketika inovasinya meraih predikat silver di tengah persaingan peserta dari berbagai pondok pesantren.
Menurutnya, kompetisi ISIF 2026 menghadirkan sekitar 700 peserta. Ia bersyukur dapat membawa pulang penghargaan setelah melewati proses persiapan dan pengembangan inovasi.
“Ada 700 peserta, persaingannya kompetitif, Alhamdulillah kami bisa meraih predikat silver atau juara dua, berkat latihan intensif dengan pembimbing di pondok selama dua bulan,” ungkapnya.
Prestasi ini menunjukkan bagaimana santri dapat memanfaatkan teknologi untuk menjawab kebutuhan pembelajaran di lingkungan pesantren. Robot humanoid tersebut tidak hanya menjadi produk inovasi, tetapi juga menawarkan alternatif untuk membantu santri membiasakan diri menggunakan bahasa asing melalui percakapan.
Santri Jlamprang Juara Nasional Lewat Film Dokumenter
Prestasi santri Kabupaten Batang juga datang dari bidang kreatif. Tri Nidhom Aziz dari Pondok Pesantren Jlamprang, Kecamatan Bawang, berhasil menjuarai Lomba Film Dokumenter Hari Santri Nasional tingkat nasional.
Tri mengangkat tema lingkungan pondok pesantren yang aman dan nyaman untuk kegiatan belajar. Melalui film dokumenter, ia menunjukkan bahwa santri juga dapat menggunakan teknologi dan media visual untuk menyampaikan gagasan mengenai kehidupan pendidikan di pesantren.
Baginya, penguasaan teknologi menjadi kebutuhan penting agar santri mampu mengikuti perkembangan zaman. Ia menilai santri perlu aktif mempelajari berbagai keterampilan digital, termasuk produksi film dokumenter.
“Santri itu jangan sampai ketinggalan, karena banyak orang di luar sana yang mempelajarinya untuk berbagai kepentingan, makanya kita jangan mau kalah, salah satunya dengan bikin film dokumenter,” ujarnya.
Prestasi Tri memperlihatkan bahwa pemanfaatan teknologi di kalangan santri tidak terbatas pada kecerdasan buatan. Kreativitas dalam mengolah informasi dan menyampaikan pesan melalui media digital juga menjadi ruang pengembangan kompetensi.
Kemenag Batang Dorong Pemanfaatan AI untuk Pendidikan Pesantren
Kasubbag Tata Usaha Kantor Kemenag Kabupaten Batang, Sodikin, mengapresiasi pencapaian para santri di bidang teknologi dan olahraga. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa pesantren mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan.
Ia menilai pemanfaatan AI dapat mendukung kegiatan pendidikan di pondok pesantren. Teknologi tersebut, misalnya, dapat membantu santri mengakses bahan pembelajaran dan melakukan kajian kitab secara digital.
“Itu sangat luar biasa karena pesantren sekarang itu mulai berkembang dan tidak kalah dalam teknologi informasi berbasis kecerdasan buatan. Itu kabar gembira buat mereka dan menyambutnya dengan menekuninya, untuk membantu dunia pendidikan, di dalam pondok,” kata Sodikin.
Meski demikian, Sodikin mengingatkan bahwa penggunaan AI perlu berjalan seiring dengan tradisi pendidikan pesantren. Interaksi langsung dengan kiai dan guru tetap memiliki peran penting dalam pembentukan karakter serta akhlak santri.
“Yang pasti kecerdasan buatan itu tidak lantas menjadikan santri meninggalkan tradisi ‘nyantri’ secara tatap muka karena kelemahan AI, tidak bisa menanamkan akhlakul karimah seperti yang diajarkan para kyai atau guru,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menempatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti pendidik. Teknologi dapat memperluas akses terhadap informasi, sedangkan pembinaan akhlak dan pendampingan langsung tetap menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren.
Deretan Santri Batang Berprestasi di Berbagai Bidang
Selain Fadhirrahman Azri, tiga santri Pondok Modern Tazakka turut mencatatkan prestasi di bidang teknologi. Mereka adalah Musyaffa Taufiqul Hakim, Ahmed Rheyzi Dealova, dan Muhammad Hamzah Falah.
Sejumlah santri lainnya juga meraih pencapaian dalam bidang bahasa dan olahraga. Arfa Virza Saputra berprestasi dalam pidato bahasa Jawa, sedangkan Aflakhul Manan meraih prestasi pada pidato bahasa Arab.
Di bidang olahraga, Queena Luwes mencatatkan prestasi dalam lomba lari. Husna Farah berprestasi pada cabang bulu tangkis putri, Audhy Abdul pada bulu tangkis putra, dan Khanza pada tenis meja.
Prestasi akademik juga datang dari madrasah di Kabupaten Batang. Zahra Firdaus dari MAN Batang meraih prestasi dalam Olimpiade Madrasah Indonesia bidang Biologi. Sementara itu, Akmalia Fitriana dari MA Sunan Kalijaga mencatatkan prestasi pada bidang Geografi.
Para santri dan siswa berprestasi tersebut menerima apresiasi dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui Unit Pengumpul Zakat Kantor Kemenag Kabupaten Batang.
AI Buka Peluang Inovasi Pendidikan di Pesantren
Prestasi para santri Batang memperlihatkan beragam cara peserta didik mengembangkan potensi melalui teknologi, kreativitas, akademik, dan olahraga. Inovasi robot humanoid berbasis AI menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi untuk mendukung latihan bahasa asing di lingkungan pesantren.
Sementara itu, keberhasilan dalam film dokumenter menunjukkan bahwa keterampilan digital juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan dan mengangkat kehidupan pendidikan.
Para santri berprestasi tersebut memperoleh apresiasi atas pencapaian mereka di berbagai bidang. Penghargaan ini sekaligus menyoroti potensi pesantren dan madrasah dalam mengembangkan kemampuan peserta didik di tengah perkembangan teknologi.
Pemanfaatan AI dalam pendidikan tetap memerlukan pendampingan guru serta penggunaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dengan pendekatan tersebut, teknologi dapat mendukung proses belajar tanpa mengesampingkan interaksi manusia, pembentukan karakter, dan nilai-nilai yang menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren.

