EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Faperta Unpad) menghadirkan sejumlah gagasan inovatif untuk menjawab tantangan sektor pertanian. Mereka memamerkan solusi mulai dari peningkatan ketepatan penyemprotan pestisida, pemanfaatan limbah pertanian, hingga pemantauan salinitas lahan sawah berbasis teknologi Internet of Things (IoT).
Berbagai inovasi tersebut muncul dalam ajang Bayer Satria Campus Challenge 2026 yang berlangsung di Faperta Unpad pada Senin (12/10/2026). Kompetisi hasil kolaborasi Faperta Unpad dan PT Bayer Indonesia ini mendorong mahasiswa mengembangkan solusi berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi petani.
Melalui kompetisi tersebut, mahasiswa tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga belajar menghubungkan gagasan dengan kebutuhan di lapangan. Pendekatan ini membuka peluang bagi mereka untuk merancang inovasi yang memiliki manfaat praktis sekaligus potensi ekonomi.
Tiga Tim Mahasiswa Unpad Tawarkan Solusi untuk Petani
Bayer Satria Campus Challenge 2026 menghadirkan beragam gagasan yang berangkat dari tantangan dalam kegiatan usaha tani. Para peserta mengangkat persoalan penggunaan pestisida, pengelolaan limbah, serta kondisi lahan pertanian di wilayah pesisir.
Topik yang beragam itu memperlihatkan bagaimana mahasiswa mencoba menjawab persoalan pertanian melalui pendekatan yang berbeda. Sebagian gagasan memanfaatkan teknologi digital, sedangkan lainnya berfokus pada perbaikan proses kerja yang dekat dengan kebutuhan petani.
Kompetisi ini menetapkan tiga tim sebagai pemenang. Masing-masing menghadirkan solusi dengan fokus yang berbeda, mulai dari ketepatan penggunaan input pertanian hingga dukungan informasi untuk pengambilan keputusan.
Juara 1: SPRAYGUARD Bantu Tingkatkan Ketepatan Penyemprotan Pestisida

Tim Shifa Nur Fadhilah Ramadhan, Berliana Dwi Putri Asari, dan Syaima Fitriya meraih juara pertama melalui inovasi bertajuk SPRAYGUARD: Kit Retrofit Berbasis Umpan Balik Flow–Pressure untuk Menjaga Ketepatan Volume Pengaplikasian Pestisida pada Knapsack Sprayer bagi Petani Skala Kecil.
Inovasi ini menyoroti pentingnya ketepatan volume pestisida saat petani melakukan penyemprotan. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai kebutuhan dapat memengaruhi efisiensi usaha tani dan meningkatkan risiko penggunaan input secara berlebihan.
SPRAYGUARD menawarkan pendekatan berbasis umpan balik aliran dan tekanan untuk membantu menjaga ketepatan volume aplikasi pada knapsack sprayer. Alat semprot punggung tersebut banyak digunakan petani skala kecil karena praktis untuk berbagai kegiatan budidaya.
Gagasan ini berfokus pada peningkatan ketepatan proses penyemprotan. Dengan pengembangan dan pengujian lebih lanjut, pendekatan tersebut berpotensi mendukung penggunaan pestisida yang lebih terukur dalam kegiatan pertanian.
Juara 2: AgriWaste Hubungkan Limbah Pertanian dengan Peluang Pemanfaatan

Posisi kedua diraih Puspa Ratna Juwita, Siti Raysa Nur Rahmania, dan Robi Krisna melalui inovasi AgriWaste: Digitalisasi Rantai Pemanfaatan Limbah Pertanian melalui Integrasi Marketplace dan Pemetaan Geospasial.
Tim ini mengangkat persoalan pemanfaatan limbah pertanian yang masih membutuhkan pengelolaan lebih terarah. Melalui AgriWaste, mereka mengusulkan integrasi marketplace dan pemetaan geospasial untuk mempertemukan informasi limbah dengan peluang pemanfaatannya.
Pendekatan digital tersebut dapat membantu pengguna menemukan informasi mengenai potensi limbah pertanian sekaligus mengidentifikasi peluang pengelolaan berdasarkan lokasi. Integrasi data geografis juga dapat mendukung proses pemetaan sumber daya dan kebutuhan pemanfaatan limbah.
Gagasan AgriWaste menempatkan limbah pertanian sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna. Jika dikembangkan lebih lanjut, sistem ini berpotensi membuka peluang pemanfaatan yang lebih efektif sekaligus mendukung praktik pertanian yang memperhatikan efisiensi sumber daya.
Juara 3: SIGAP Pantau Salinitas Sawah Pesisir Berbasis IoT

Tim Kevin Troy Soelistyo, Indira Nur Andini, dan Sheni Badra Inayah menempati posisi ketiga melalui inovasi SIGAP: Sistem Informasi Guna Analisis dan Pemantauan Salinitas Terintegrasi IoT sebagai Platform Monitoring dan Pengambilan Keputusan Pengelolaan Sawah Pesisir di Desa Eretan Wetan, Indramayu.
SIGAP berfokus pada pemantauan salinitas atau kadar garam di lahan sawah pesisir. Kondisi salinitas menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lahan karena dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman dan produktivitas pertanian.
Tim ini mengembangkan konsep sistem pemantauan yang mengintegrasikan teknologi IoT untuk menyediakan informasi mengenai kondisi lahan. Data tersebut diharapkan dapat membantu petani memahami perubahan salinitas dan mempertimbangkannya saat menentukan langkah pengelolaan sawah.
Fokus pada wilayah Desa Eretan Wetan, Indramayu, menunjukkan upaya mahasiswa menghubungkan pengembangan teknologi dengan tantangan pertanian di lokasi tertentu. Meski demikian, penerapan sistem semacam ini tetap memerlukan pengujian dan penyesuaian dengan kondisi lahan serta kebutuhan petani setempat.
Kolaborasi Kampus dan Industri Dorong Inovasi Pertanian
Ketiga pemenang mengangkat persoalan yang berbeda, tetapi memiliki tujuan serupa: mendukung kegiatan pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan. SPRAYGUARD menyoroti ketepatan penggunaan pestisida, AgriWaste mengembangkan pendekatan digital untuk pemanfaatan limbah, sedangkan SIGAP berfokus pada pemantauan kondisi lahan sawah pesisir.
Bayer Satria Campus Challenge 2026 juga membuka ruang interaksi antara lingkungan akademik dan dunia industri. Mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan yang mereka peroleh di kampus menjadi gagasan yang lebih dekat dengan kebutuhan sektor pertanian.
PT Bayer Indonesia merupakan bagian dari Bayer, perusahaan global di bidang ilmu hayati yang mencakup sektor pertanian. Melalui bidang pertanian, Bayer mengembangkan solusi terkait perlindungan tanaman, benih, dan praktik budidaya.
Kolaborasi dengan Faperta Unpad dalam kompetisi ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan dunia industri dalam mendorong pengembangan gagasan mahasiswa. Keberlanjutan inovasi tersebut selanjutnya memerlukan pengujian, pengembangan, dan penyesuaian agar solusi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan petani.
Sejalan dengan SDGs dan Pertanian Berkelanjutan
Bayer Satria Campus Challenge 2026 juga berkaitan dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Pertama, SDG 2 (Zero Hunger) menekankan upaya mengakhiri kelaparan serta mendorong ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan. Inovasi yang berorientasi pada peningkatan efisiensi usaha tani dapat mendukung tujuan tersebut.
Kedua, SDG 4 (Quality Education) menyoroti pentingnya pendidikan berkualitas. Kompetisi ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan, menyusun solusi, dan mengembangkan gagasan berdasarkan persoalan nyata.
Ketiga, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) berkaitan dengan penguatan inovasi serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri. Sementara itu, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) relevan dengan upaya meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mengelola limbah pertanian, dan mendorong penggunaan input pertanian secara bertanggung jawab.
Berdasarkan sumber laman resmi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran mengenai pelaksanaan Bayer Satria Campus Challenge 2026, kompetisi ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan solusi inovatif bagi persoalan pertanian. Prestasi tiga tim pemenang memperlihatkan beragam pendekatan yang dapat terus dikembangkan melalui riset, pengujian, dan kolaborasi agar memberi manfaat nyata bagi sektor pertanian Indonesia.

