EDUCARE.CO.ID – Lingkungan sekolah dapat menjadi ruang belajar yang membantu murid memahami pelajaran melalui pengalaman langsung. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mendorong satuan pendidikan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk mendukung penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning.
Berdasarkan sumber siaran pers Kemendikdasmen, Abdul Mu’ti menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi SMA Negeri 1 Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 10 Oktober 2026. Kunjungan itu sekaligus menjadi bagian dari peninjauan program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026.
Menurutnya, murid dapat mempelajari berbagai hal dari lingkungan sekolah, termasuk mengenali jenis tanaman, memahami karakteristiknya, dan mengetahui manfaatnya. Pengalaman tersebut membantu murid menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

Pohon di Sekolah Bisa Jadi Media Pembelajaran
Salah satu cara yang diusulkan Abdul Mu’ti ialah memasang papan informasi pada pohon-pohon di lingkungan sekolah. Papan tersebut dapat memuat nama pohon, nama ilmiah, karakteristik, hingga manfaatnya.
Dengan informasi itu, murid dapat belajar melalui pengamatan langsung. Mereka juga terdorong untuk bertanya, mencari informasi, dan mengenali lingkungan di sekitarnya.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pemanfaatan lingkungan sekolah sejalan dengan pembelajaran mendalam. Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan kegiatan belajar di kelas, tetapi juga memperhatikan suasana dan pengalaman yang membentuk proses pendidikan.
“Namanya deep learning itu antara lain terintegrasi dengan penciptaan lingkungan sekolah yang disebut dengan hidden curriculum,” ujar Mu’ti.
Konsep hidden curriculum mencakup nilai, kebiasaan, dan pengalaman yang murid pelajari melalui kehidupan sehari-hari di sekolah. Karena itu, lingkungan sekolah dapat ikut membangun karakter, rasa ingin tahu, serta kepedulian murid terhadap lingkungan.
Tinjau Pembangunan dan Rehabilitasi Ruang Sekolah
Dalam kunjungan tersebut, Abdul Mu’ti juga meninjau pelaksanaan program Revitalisasi Satuan Pendidikan di SMA Negeri 1 Patikraja. Pekerjaan di sekolah itu mencakup pembangunan dua ruang baru dan rehabilitasi tiga ruang.
Selain itu, area dak memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang kelas pada masa mendatang. Pengembangan tersebut perlu mempertimbangkan kebutuhan sekolah serta kelayakan teknis bangunan.
Revitalisasi sarana pendidikan perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas. Dengan begitu, ruang dan sarana yang tersedia dapat mendukung kegiatan belajar secara berkelanjutan.
Revitalisasi Sekolah di Jawa Tengah Capai Ribuan Satuan Pendidikan
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan juga menjangkau ribuan sekolah di Jawa Tengah. Pada 2025, program tersebut mencakup 1.783 sekolah atau satuan pendidikan dengan total anggaran Rp1,475 triliun. Pelaksanaannya turut menyerap 23.430 tenaga kerja.
Sementara itu, pada 2026, sebanyak 5.443 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan nilai mencapai Rp4,169 triliun. Hingga periode pelaporan dalam sumber, pemerintah telah menyalurkan dana kepada 4.597 sekolah dengan total Rp2,434 triliun. Program tersebut juga menyerap 62.609 tenaga kerja.
Di Kabupaten Banyumas, program revitalisasi pada 2025 menjangkau 30 sekolah dengan anggaran Rp29,786 miliar dan menyerap 499 tenaga kerja.
Pada 2026, sebanyak 176 sekolah di Banyumas telah menandatangani PKS senilai Rp114,875 miliar. Dari jumlah tersebut, penyaluran dana telah menjangkau 156 sekolah dengan total Rp69,387 miliar. Program ini juga mencatat serapan tenaga kerja sebanyak 1.996 orang.
Data tersebut menunjukkan cakupan program revitalisasi di tingkat provinsi dan kabupaten. Namun, pemanfaatan fasilitas yang telah dibangun tetap memerlukan pengelolaan yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Mendikdasmen Bagikan Tiga Kunci Menghadapi TKA
Selain membahas lingkungan belajar dan revitalisasi sekolah, Abdul Mu’ti mengingatkan murid agar mempersiapkan diri menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Ia menekankan tiga hal utama, yakni penguasaan materi, strategi mengerjakan soal, dan kesiapan mental.
“Pertama, kuasai materi. Kedua, siapkan strategi. Ketiga, persiapkan mental. Ketiga itu adalah kuncinya,” ujar Mendikdasmen.
Ia menjelaskan bahwa ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Penguasaan materi saja belum cukup apabila murid tidak memiliki strategi yang tepat. Sebaliknya, strategi yang baik juga sulit membantu jika murid kehilangan kepercayaan diri ketika menghadapi soal.
“Materi dikuasai tetapi jika strateginya salah, kalian tidak bisa menguasai materinya dengan baik. Tapi strateginya oke, mentalnya down, lihat soal sudah stres dulu, tidak ada hasilnya. Makanya kita membuat moto jujur dan gembira,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan murid agar tidak langsung merasa kesulitan ketika menemukan soal dengan bacaan panjang. Ia menyebut soal TKA mengacu pada standar PISA (Programme for International Student Assessment).
Karena itu, murid perlu membiasakan diri memahami bacaan, menguasai materi, dan memilih strategi pengerjaan yang sesuai. Persiapan mental juga penting agar mereka dapat mengerjakan soal dengan tenang dan menunjukkan kemampuan secara optimal.
Pendidikan Jadi Bekal untuk Berkontribusi kepada Masyarakat
Di akhir pesannya, Abdul Mu’ti mengingatkan murid agar tidak meremehkan pentingnya pendidikan. Menurutnya, sekolah berperan dalam membantu murid mengembangkan kemampuan sekaligus mempersiapkan masa depan.
“Jangan percaya kalau ada orang bilang tidak usah sekolah penting-penting, yang penting pintar. Tidak ada orang pintar tanpa sekolah. Sekolah itu intinya membuat kita sukses. Pendidikan juga bisa membuat kita melakukan lebih baik dan lebih banyak bagi orang lain dan bangsa,” pesan Abdul Mu’ti.
Dorongan untuk memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dan pesan tentang persiapan TKA menempatkan pengalaman belajar, kesiapan akademik, serta pembentukan karakter sebagai bagian yang saling melengkapi.

