EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan EquiTask AI, platform kecerdasan buatan (AI) yang membantu guru menyusun asesmen sesuai kebutuhan siswa. Inovasi ini mengutamakan pendidikan inklusif dengan menjaga kompetensi yang ingin diukur, meski guru perlu menyesuaikan bentuk soal bagi siswa dengan kebutuhan belajar tertentu.
Tim Ctrl+Alt+Elite membawa EquiTask AI ke kategori Inovasi Teknologi Digital Pendidikan dalam Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 tingkat nasional.
Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Airlangga, tim ini terdiri atas Velisa Dwi Agustin, Mairisa Rahma Zainia, Rafalen Labibsani Farisqha, dan Rafida Arsya Wardani. Velisa, Rafalen, dan Rafida menempuh studi D4 Teknik Informatika di Fakultas Vokasi UNAIR. Sementara itu, Mairisa berasal dari program S1 Keperawatan Fakultas Keperawatan UNAIR.
Melalui EquiTask AI, mereka ingin membantu guru menyusun asesmen bagi siswa reguler maupun siswa dengan gangguan kognitif. Platform ini mendukung penyesuaian soal tanpa menghilangkan kompetensi yang hendak diukur.
EquiTask AI Jawab Tantangan Pendidikan Inklusif
Guru perlu mempertimbangkan kebutuhan setiap siswa saat menyusun asesmen. Siswa dengan kebutuhan belajar tertentu terkadang memerlukan bentuk soal yang berbeda agar dapat memahami instruksi dengan lebih baik.
Namun, penyesuaian soal juga perlu mempertahankan tujuan pembelajaran. Jika guru menyederhanakan soal secara berlebihan, asesmen berisiko mengukur kompetensi yang berbeda dari target awal.
Tim Ctrl+Alt+Elite melihat tantangan tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan EquiTask AI. Mereka ingin menghadirkan teknologi yang membantu guru menyusun soal sekaligus memeriksa kesesuaiannya dengan kebutuhan siswa.
“Untuk siswa dengan gangguan kognitif, terkadang soal yang diberikan perlu disesuaikan. Tetapi penyesuaian tersebut juga tidak boleh membuat kompetensi yang diukur menjadi lebih rendah,” jelas Mairisa.
Prinsip itu menjadi dasar pengembangan EquiTask AI. Tim ingin membantu guru memberikan akses asesmen yang lebih sesuai bagi siswa tanpa mengurangi tujuan pembelajaran.
Empat Agen AI Mendukung Proses Penyesuaian Soal
EquiTask AI menggunakan sistem Sequential Multi-Agent Pipeline. Sistem ini melibatkan empat agen AI dengan fungsi berbeda untuk membantu proses penyusunan dan pemeriksaan soal.
Keempat agen tersebut mencakup:
- Agen kurikulum, yang membantu menjaga kesesuaian soal dengan tujuan pembelajaran.
- Agen psikologi ABK, yang mempertimbangkan kebutuhan siswa dengan kebutuhan dukungan kognitif.
- Agen penyetara bobot, yang membantu menjaga tingkat kompetensi dalam proses penyesuaian soal.
- Agen validator, yang memeriksa hasil penyesuaian.
Tim merancang keempat agen tersebut agar dapat mendukung tahapan kerja yang saling berkaitan. Dengan pendekatan ini, EquiTask AI tidak hanya berfokus pada pembuatan soal, tetapi juga pada kesesuaian hasilnya dengan target pembelajaran.
Mairisa menjelaskan bahwa tim ingin mengembangkan AI yang membantu guru menjalankan proses tersebut secara lebih terarah.
“Kami ingin membuat sebuah sistem yang bukan hanya menghasilkan soal menggunakan AI, tetapi juga membantu proses penyesuaian dan pengecekan soal tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, tanpa menghilangkan kompetensi yang ingin dicapai,” tambah Mairisa.
Pengembangan EquiTask AI Berawal pada Mei 2026
Tim Ctrl+Alt+Elite memulai pengembangan EquiTask AI pada Mei 2026. Mereka terlebih dahulu mengidentifikasi masalah, merumuskan konsep, dan menyusun proposal inovasi.
Setelah itu, tim membuat prototipe untuk mengikuti seleksi internal UNAIR. Keberhasilan melewati seleksi tersebut mendorong mereka melanjutkan pengembangan aplikasi untuk kompetisi LIDM 2026 tingkat nasional.
Tim mengunggah karya pada tahap penyisihan pada 17 Juli 2026. Kemudian, pada 1 September 2026, mereka menerima kabar kelolosan ke babak final LIDM 2026.
Kini, tim berfokus menyempurnakan aplikasi menjelang babak final yang dijadwalkan pada November 2026. Mereka mengembangkan fitur, melakukan validasi, dan menguji penggunaan aplikasi bersama guru serta siswa di sekolah inklusif.
Masukan dari calon pengguna membantu tim menilai kemudahan penggunaan dan mengidentifikasi bagian yang perlu mereka perbaiki. Proses ini juga memberi kesempatan bagi tim untuk mengevaluasi kesesuaian aplikasi dengan kebutuhan pembelajaran di lapangan.
Tim Targetkan Asesmen yang Lebih Adil bagi Siswa
Bagi Ctrl+Alt+Elite, LIDM 2026 bukan sekadar ajang untuk meraih prestasi. Mereka juga ingin menggunakan kompetisi tersebut untuk mengembangkan EquiTask AI agar mampu menjawab kebutuhan guru dan siswa secara lebih luas.
Tim berharap platform ini dapat membantu guru menyiapkan asesmen yang lebih adaptif, terutama di lingkungan pendidikan inklusif. Meski demikian, guru tetap perlu memeriksa hasil AI dan memastikan setiap soal sesuai dengan tujuan pembelajaran serta kebutuhan siswa.
Pengembangan EquiTask AI mengangkat gagasan bahwa keadilan dalam pendidikan tidak selalu berarti memberikan perlakuan yang sama kepada semua siswa. Guru juga perlu mempertimbangkan kebutuhan individu agar setiap siswa memperoleh kesempatan belajar dan menunjukkan kompetensinya secara tepat.
Mairisa menegaskan prinsip tersebut melalui pernyataannya.
“Pendidikan yang adil bukan selalu tentang memberikan hal yang sama, tetapi memberikan kesempatan yang sesuai bagi setiap siswa,” pungkasnya.
Melalui EquiTask AI, tim Ctrl+Alt+Elite berharap dapat berkontribusi pada pengembangan teknologi pendidikan yang lebih inklusif. Tahap pengembangan, validasi, dan pengujian selanjutnya akan membantu mereka menilai kemampuan platform dalam mendukung pekerjaan guru serta kebutuhan siswa.

