EDUCARE.CO.ID – Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) Surakarta menggandeng Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kota Surakarta untuk memperkuat peran bidan dalam edukasi dan deteksi dini kanker pada perempuan. Melalui program SRIKANDI, UNS membekali bidan dengan pengetahuan kesehatan, keterampilan komunikasi, dan strategi pendampingan agar perempuan lebih memahami pentingnya pemeriksaan sejak dini.
FK UNS bersama IBI Kota Surakarta menggelar Workshop SRIKANDI (Skrining dan Edukasi Nutrisi untuk Deteksi Dini Kanker pada Perempuan melalui Penguatan Kompetensi Bidan) pada 2 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan 50 bidan dari 17 puskesmas, Bidan Delima, dan rumah sakit di Kota Surakarta.
Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Sebelas Maret, program tersebut merupakan bagian dari Pengabdian Internasional Mandatory (PIM-UNS) yang memperoleh pendanaan dari RKAT UNS Tahun Anggaran 2026. Kegiatan ini mengacu pada Nomor Perjanjian Penugasan Pengabdian 461/UN27.22/PT.01.03/2026.
SRIKANDI Perkuat Kompetensi Bidan di Layanan Kesehatan

SRIKANDI hadir untuk memperkuat posisi bidan sebagai tenaga kesehatan yang dekat dengan perempuan dan masyarakat. Program ini tidak hanya membahas skrining kanker, tetapi juga membekali bidan dengan keterampilan komunikasi kesehatan, edukasi nutrisi, pengenalan faktor risiko, dan pendampingan pasien.
Melalui pendekatan tersebut, bidan diharapkan mampu menjelaskan informasi kesehatan secara tepat dan membantu perempuan memahami langkah pemeriksaan yang sesuai. Program ini juga menekankan pentingnya mengenali tanda awal kanker serta mengarahkan perempuan ke layanan kesehatan lanjutan ketika mereka membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Tim SRIKANDI merancang program berdasarkan analisis kebutuhan yang melibatkan 20 bidan. Hasil asesmen menunjukkan bahwa 95 persen peserta memiliki sikap sangat positif terhadap upaya deteksi dini kanker pada perempuan. Selain itu, 90 persen peserta menunjukkan kompetensi yang baik.
Meski demikian, hasil asesmen juga memperlihatkan kebutuhan pelatihan yang masih tinggi. Sebanyak 90–95 persen peserta membutuhkan penguatan kapasitas lebih lanjut.
Asesmen Ungkap Kebutuhan Pelatihan Bidan
Tim kemudian memperdalam hasil asesmen melalui Focus Group Discussion (FGD). Forum ini melibatkan Dinas Kesehatan Kota Surakarta, IBI Kota Surakarta, serta para bidan.
Diskusi tersebut mengidentifikasi beberapa kebutuhan utama. Bidan memerlukan penguatan keterampilan komunikasi, pembaruan materi edukasi, dan pemahaman yang lebih terintegrasi mengenai nutrisi serta deteksi dini kanker pada perempuan.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk menyusun materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan di lapangan. Dengan begitu, peserta tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga dapat menerapkannya saat berinteraksi dengan masyarakat.
Materi Mencakup Kanker, Nutrisi, dan Komunikasi Kesehatan
Workshop SRIKANDI menghadirkan materi yang berkaitan langsung dengan pelayanan kesehatan perempuan. Peserta mempelajari epidemiologi kanker dan nutrisi perempuan, serta mitos dan fakta seputar nutrisi, kanker serviks, dan kanker payudara.
Pelatihan juga membahas deteksi dini kanker payudara dan lesi prakanker serviks. Selain aspek klinis, tim memberikan materi komunikasi terapeutik dan strategi edukasi nutrisi yang dapat bidan terapkan dalam pelayanan sehari-hari.
Ketua PIM SRIKANDI sekaligus dosen FK UNS, Vitri Widyaningsih, dr., M.S., Ph.D., menilai kedekatan bidan dengan perempuan dan masyarakat menjadi modal penting dalam upaya pencegahan kanker.
“Bidan memiliki posisi yang sangat strategis karena berada dekat dengan perempuan dan masyarakat. Melalui SRIKANDI, kami ingin memperkuat kemampuan bidan tidak hanya dalam skrining, tetapi juga dalam komunikasi, edukasi nutrisi, dan pendampingan. Dengan demikian, perempuan dapat memperoleh informasi yang tepat dan terdorong untuk melakukan deteksi dini,” terang Vitri.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa upaya deteksi dini membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan medis. Bidan juga perlu membangun komunikasi yang baik agar perempuan merasa nyaman mencari informasi dan memanfaatkan layanan pemeriksaan.
Gandeng Mitra Internasional untuk Perkuat Program
SRIKANDI turut melibatkan Dr.sc.hum. Melani Ratih Mahanani, MD, MScIH dari Heidelberg University. Kolaborasi internasional ini memperkaya pengembangan kapasitas tenaga kesehatan dengan perspektif yang mendorong penerapan pengetahuan secara praktis.
Melani menekankan pentingnya menghubungkan materi pelatihan dengan kebutuhan pelayanan sehari-hari.
“Penguatan kapasitas bidan akan lebih bermakna ketika materi tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi komunikasi dan tindakan yang aplikatif dalam pelayanan,” ujar Melani.
Melalui kolaborasi tersebut, tim ingin memastikan bahwa bidan dapat menggunakan pengetahuan yang mereka peroleh saat memberikan edukasi dan mendampingi perempuan di komunitas.
IBI Dorong Penguatan Peran Bidan di Masyarakat
Ketua PC IBI Kota Surakarta, Rofiatun Chasanah, S.ST., Bdn., turut mendukung pelaksanaan SRIKANDI. Menurutnya, peningkatan kompetensi dalam edukasi dan deteksi dini kanker sejalan dengan kebutuhan pelayanan kebidanan di masyarakat.
Rofiatun menilai bidan perlu menguasai pengetahuan kesehatan sekaligus mampu menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami. Mereka juga perlu mengenali faktor risiko dan tanda awal, serta membantu perempuan mengakses pemeriksaan lanjutan saat diperlukan.
“Bidan tidak hanya perlu memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk menyampaikan edukasi secara tepat, berkomunikasi dengan baik, mengenali tanda dan faktor risiko, serta membantu perempuan memperoleh pemeriksaan lanjutan jika diperlukan. Hal tersebut merupakan bagian penting dari pelayanan kebidanan,” ungkap Rofiatun.
Dukungan IBI memperkuat posisi SRIKANDI sebagai upaya kolaboratif untuk meningkatkan kualitas edukasi kesehatan perempuan. Program ini menghubungkan perguruan tinggi, organisasi profesi, dan tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
SRIKANDI Dorong Keberlanjutan Edukasi Kesehatan Perempuan
Tim SRIKANDI menyusun program melalui beberapa tahap, mulai dari analisis kebutuhan, pengembangan media edukasi, pelatihan, implementasi, hingga monitoring dan evaluasi. Tahapan tersebut bertujuan menjaga agar penguatan kompetensi bidan tidak berhenti pada satu kegiatan pelatihan.
Melalui proses tersebut, tim ingin membangun model penguatan kapasitas yang dapat mendukung keberlanjutan layanan kesehatan perempuan di tingkat komunitas. Bidan diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam kegiatan edukasi maupun pendampingan.
SRIKANDI juga mendukung sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini sejalan dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 5 tentang Kesetaraan Gender. Kolaborasi FK UNS, IBI, dan mitra internasional turut mencerminkan semangat SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Perkuat Akses Informasi dan Deteksi Dini Kanker
Deteksi dini kanker pada perempuan membutuhkan dukungan tenaga kesehatan, informasi yang akurat, serta akses terhadap layanan pemeriksaan. Perempuan juga perlu memahami faktor risiko dan mengenali kapan mereka harus mencari pertolongan medis.
Melalui SRIKANDI, FK UNS bersama IBI Kota Surakarta dan mitra internasional berupaya memperkuat peran bidan dalam proses tersebut. Peningkatan pengetahuan, komunikasi, dan keterampilan edukasi diharapkan membantu perempuan mengambil keputusan kesehatan secara lebih tepat.
Program ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan, organisasi profesi, dan tenaga kesehatan. Dengan dukungan yang berkelanjutan, bidan dapat memainkan peran lebih besar dalam menyebarkan informasi kesehatan dan mendorong perempuan memanfaatkan layanan deteksi dini kanker.

