EDUCARE.CO.ID – Kementerian Kebudayaan RI memperkuat kerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Kedua lembaga ini ingin menjaga arsip bersejarah sekaligus mendorong pemulangan dokumen yang berkaitan dengan sejarah Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon membahas agenda tersebut bersama Kepala ANRI Mego Pinandito dan jajaran. Pertemuan berlangsung di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, pada 5 Oktober 2026.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas sejumlah agenda strategis. Topiknya mencakup repatriasi arsip dan manuskrip, pengelolaan arsip sejarah, serta pemanfaatan dokumen untuk memperkuat narasi museum. Mereka juga membicarakan rencana pembangunan Pusat Arsip Khasanah Budaya Melayu di Pekanbaru.
Berdasarkan siaran pers Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, kepala ANRI Mego Pinandito menilai arsip memiliki nilai penting bagi bangsa. Menurutnya, masyarakat dapat memanfaatkan arsip untuk memahami sejarah dan kekayaan budaya Indonesia secara lebih luas.
Fadli Zon Dorong Pemulangan Arsip Sejarah
Repatriasi atau pemulangan arsip menjadi salah satu fokus pembahasan. Kementerian Kebudayaan terus mendorong agenda ini melalui komunikasi dengan pemerintah Belanda.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia perlu memperoleh kembali arsip yang secara historis menjadi miliknya. Ia juga menyoroti dokumen yang berasal dari penyitaan atau rampasan perang.
“Apabila arsip tersebut memang merupakan milik kita, prinsipnya harus dikembalikan kepada Indonesia. Arsip-arsip yang merupakan hasil sitaan atau rampasan perang semestinya dapat dikembalikan kepada Indonesia, termasuk dalam bentuk fisiknya,” ungkap Menbud Fadli Zon.
Upaya tersebut bertujuan menjaga warisan dokumenter Indonesia. Arsip sejarah juga dapat membantu peneliti, pendidik, dan masyarakat memahami perjalanan bangsa.
Arsip Perkuat Narasi dan Cerita Museum
Kementerian Kebudayaan juga ingin memperluas penggunaan arsip untuk mendukung penyajian sejarah di museum. Langkah ini sejalan dengan program revitalisasi museum dan situs budaya di berbagai daerah.
Fadli Zon menyebut pemerintah tengah menjalankan revitalisasi di sekitar 206 titik. Program tersebut mencakup keraton dan istana. Ia menilai ANRI dapat membantu menyediakan informasi arsip untuk memperkaya cerita dan konteks sejarah di setiap lokasi.
“Kita sedang melakukan juga revitalisasi di sekitar 206 titik, mulai dari keraton, istana. Saya yakin kita perlu banyak bekerja sama dengan ANRI terkait dengan arsip-arsip yang ada di berbagai tempat itu untuk memperkuat narasi storyline dari museum,” jelas Menbud.
Melalui kolaborasi ini, pengelola museum dapat menyajikan sejarah dengan dukungan dokumen yang relevan. Pengunjung pun berpeluang memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang koleksi dan situs budaya.
ANRI Dukung Rencana Museum Film di Kota Tua
Kementerian Kebudayaan dan ANRI turut membahas rencana pengembangan Museum Film di kawasan Kota Tua, Jakarta. Salah satu potensinya terletak pada pemanfaatan arsip digital film yang tersimpan di ANRI.
Arsip tersebut dapat membantu mendokumentasikan perjalanan perfilman Indonesia. Materi sejarah film juga berpotensi memperkaya koleksi dan informasi yang nantinya tersedia bagi pengunjung museum.
Selain itu, kedua lembaga ingin memperkuat pendataan dan perlindungan naskah serta dokumen bersejarah. Mereka menaruh perhatian pada dokumen terkait sidang-sidang BPUPKI dan Perjanjian Giyanti.
Dokumen semacam ini memiliki nilai penting dalam merekam perjalanan bangsa. Karena itu, upaya pendataan dan pelestarian perlu berjalan agar generasi mendatang tetap dapat mengakses sumber sejarah tersebut.
Pejabat Kementerian Kebudayaan dan ANRI Hadiri Pertemuan
Sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan turut mengikuti pertemuan tersebut. Mereka antara lain Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri, serta Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis.
Hadir pula Direktur Film, Musik, dan Seni Irini Dewi Wanti serta Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko.
Dari pihak ANRI, hadir Deputi Bidang Penyelamatan, Pelestarian, dan Pelindungan Arsip Mira Puspita Rini. Pertemuan itu juga diikuti Plt. Direktur Penyelamatan Arsip Yosep Nusantara Danang Saputra dan Direktur Pengolahan Arsip Nadia Fauziah Dwiandari.
Jajaran ANRI lainnya meliputi Direktur Pelestarian dan Pelindungan Arsip Afrizal Zurman, Direktur Layanan dan Pemanfaatan Arsip Eli Ruliawati, Kepala Biro Kepegawaian dan Umum Poppy Alia, serta Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Humas M. Sumitro.
Melalui kerja sama ini, Kementerian Kebudayaan dan ANRI ingin memperkuat pelindungan arsip serta melanjutkan upaya repatriasi arsip dan manuskrip. Kedua lembaga juga mendorong pemanfaatan dokumen sejarah untuk museum, pendidikan, dan penelitian.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga memori kolektif bangsa sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap warisan sejarah Indonesia.

