Bangga! Indonesia Raih Perak, 2 Perunggu, dan 6 Medallion di WorldSkills Shanghai 2026

Must read

EDUCARE.CO.ID – Talenta vokasi Indonesia membawa pulang sembilan penghargaan dari WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026.

Capaian tersebut terdiri atas satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyambut langsung kepulangan kontingen Indonesia di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Ia mengapresiasi para kompetitor dan expert yang telah menjalani proses panjang sebelum tampil di Shanghai.

“Pertama, saya menyampaikan selamat atas prestasi yang sudah diraih oleh kontingen Indonesia di WorldSkills 2026. Kami juga menyampaikan terima kasih atas dedikasi dan juga atas komitmen saudara-saudara sekalian untuk mengikuti program WorldSkills itu dengan sebaik-baiknya,” ujar Abdul Mu’ti.

Indonesia Kirim 20 Kompetitor ke Shanghai

WorldSkills Competition Shanghai 2026 berlangsung pada 22–27 September 2026 di Shanghai, Tiongkok.

Ajang tersebut mempertemukan sekitar 1.400 kompetitor dari 68 negara dan wilayah dalam 64 bidang keterampilan.

Indonesia mengirim 20 kompetitor untuk bertanding pada 17 bidang. Mereka mendapat pendampingan dari 17 expert dan technical delegate.

Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), komposisi tersebut menjadi delegasi terbesar Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan di WorldSkills.

Menariknya, jumlah bidang yang berhasil meraih penghargaan juga meningkat. Indonesia sebelumnya meraih prestasi di empat bidang pada WorldSkills Lyon 2024. Kini, jumlahnya bertambah menjadi sembilan bidang.

Edsel Raih Medali Perak Software Applications Development

Medali perak menjadi salah satu capaian utama Indonesia di Shanghai.

Edsel Parama Mustapa meraih penghargaan tersebut melalui bidang Software Applications Development.

Edsel menjalani latihan selama sekitar enam bulan. Selama masa persiapan, ia mengerjakan soal-soal baru setiap hari.

Ia juga berlatih mengembangkan aplikasi dari berbagai skenario yang menyerupai tantangan kompetisi.

“Dari awal saya tidak berekspektasi untuk mendapatkan. Tapi, alhamdulillah, saya bisa dapat,” ungkap Edsel.

Dalam kompetisi, Edsel mengerjakan berbagai tahap pengembangan perangkat lunak. Proses tersebut mencakup perencanaan, pembuatan aplikasi, hingga pengujian.

Aplikasi yang ia kembangkan menggunakan platform Android. Menurut Edsel, hasil pengembangan tersebut juga memiliki peluang penerapan di dunia usaha dan industri.

Dua Medali Perunggu untuk Restaurant Service dan IT Network Systems

Selain perak, Indonesia meraih dua medali perunggu.

Fatima Rani Al Husna Prameswara meraih perunggu pada bidang Restaurant Service. Sementara itu, Rash Asyari Amyris Thalib meraih perunggu pada bidang IT Network Systems Administration.

Keduanya menempuh proses persiapan yang cukup panjang sebelum berangkat ke Shanghai.

Fatima Berlatih hingga 2,5 Tahun

Fatima menjalani latihan sekitar dua setengah tahun. Perjalanannya bermula dari Lomba Kompetensi Siswa (LKS).

Setelah itu, ia mengikuti berbagai tahapan kompetisi dan seleksi. Perjalanannya berlanjut ke kompetisi tingkat ASEAN, seleksi daerah, seleksi nasional, hingga masuk training center WorldSkills Shanghai 2026.

Namun, latihan Fatima tidak hanya berlangsung di pusat pelatihan.

Ia juga beberapa kali berlatih langsung di lingkungan industri. Pengalaman tersebut membantunya menghadapi tamu serta berinteraksi dengan tenaga profesional di bidang layanan restoran.

“Saya selalu berprinsip bahwa saya ingin memberikan yang terbaik. Alhamdulillah, mungkin ini bonus yang saya dapatkan,” ujarnya.

Bagi Fatima, pengalaman industri menjadi bagian penting dalam persiapannya. Pasalnya, bidang Restaurant Service menuntut kemampuan teknis sekaligus kemampuan menghadapi situasi kerja secara profesional.

Rash Sempat Mengira Gagal

Sementara itu, perjalanan Rash di Shanghai berlangsung dengan cerita berbeda.

Setelah melewati beberapa hari kompetisi, ia sempat merasa peluang meraih medali sudah tertutup.

Ada sejumlah bagian pertandingan yang tidak berjalan sesuai harapannya. Karena itu, Rash sempat menurunkan ekspektasi.

Namun, hasil akhir justru membawa namanya masuk tiga besar.

“Saya sempat sudah merasa tidak akan dapat medali. Tapi ternyata setelah pengumuman dan masuk tiga besar, tentunya sangat senang sekali,” kata Rash.

Medali perunggu tersebut menjadi hasil dari proses panjang yang telah ia jalani bersama tim pembinaan.

Enam Medallion for Excellence Melengkapi Capaian

Selain tiga medali, kontingen Indonesia juga meraih enam Medallion for Excellence.

Penghargaan tersebut datang dari enam bidang keterampilan, yaitu:

  • Web Technologies
  • Industrial Control
  • Electronics
  • Mechatronics
  • Refrigeration and Air Conditioning
  • Automobile Technology

Beberapa peraih penghargaan tersebut antara lain Andi Ahmad Yusup pada Web Technologies, Galang Zaki Arkana pada Industrial Control, serta Novanda Putra Widya Ardhi pada Electronics.

Kemudian, Reno Surya Permana dan Rouf Aufa Rifqi meraih Medallion for Excellence pada Mechatronics. Sementara itu, Togar Andreas Silaban meraihnya pada Refrigeration and Air Conditioning dan Eka Anwar Fauzi pada Automobile Technology.

Dengan tambahan tersebut, Indonesia mencatat penghargaan pada sembilan bidang keterampilan.

Expert Tekankan Pentingnya Kepercayaan Diri

Prestasi di Shanghai juga memberikan pelajaran bagi para pendamping kontingen.

Salah satunya datang dari Angga Friyanto, expert yang mendampingi Rash dalam kompetisi.

Angga pernah menjadi kompetitor WorldSkills pada 2013. Saat itu, ia belum berhasil meraih penghargaan.

Setelah itu, Angga mendapat kesempatan menjadi expert dalam sejumlah penyelenggaraan WorldSkills berikutnya.

Menurut Angga, kemampuan teknis peserta Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan peserta dari negara lain.

Namun, peserta masih perlu memperkuat kepercayaan diri ketika berhadapan dengan kompetitor dari berbagai negara.

Pengalaman tersebut menjadi catatan penting bagi proses pembinaan talenta vokasi Indonesia.

Pengalaman WorldSkills Akan Dibawa ke Sekolah

Bagi Kemendikdasmen, penghargaan di Shanghai bukan menjadi tujuan akhir.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan pengalaman para kompetitor perlu kembali ke lingkungan pendidikan vokasi.

Karena itu, Kemendikdasmen menyiapkan sejumlah langkah tindak lanjut.

Salah satunya melalui penyelarasan Lomba Kompetensi Siswa (LKS). Pemerintah juga akan memperkuat pusat pelatihan mitra.

Selain itu, Kemendikdasmen menyiapkan buku mengenai pengalaman Indonesia tampil di panggung keterampilan dunia.

Langkah tersebut bertujuan agar pengalaman para kompetitor tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Sekolah dan lembaga pendidikan vokasi juga dapat memanfaatkan pengalaman tersebut sebagai bahan pembelajaran.

Abdul Mu’ti: Prestasi Bukan Titik Akhir

Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa pencapaian di Shanghai harus menjadi bagian dari perjalanan pendidikan vokasi yang lebih panjang.

Menurutnya, para peserta tidak cukup hanya membawa pulang penghargaan. Mereka juga perlu membawa pengalaman, keterampilan, dan pembelajaran dari kompetisi tingkat dunia.

“Capaian ini bukan akhir dari perjalanan panjang kita untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua dan bukan bagian akhir dari komitmen kita untuk terus mencerdaskan bangsa dan memajukan bangsa dan negara dengan pendidikan dan prestasi yang kalian dapat,” kata Abdul Mu’ti.

Pesan tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan vokasi. Prestasi kompetisi perlu terhubung dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Dengan begitu, pengalaman WorldSkills dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi ekosistem pendidikan kejuruan.

Sembilan Penghargaan Jadi Modal Penguatan Pendidikan Vokasi

Kontingen Indonesia memang telah menyelesaikan pertandingan di Shanghai. Namun, perjalanan pembinaan talenta vokasi belum berakhir.

Sembilan penghargaan menjadi salah satu hasil dari latihan panjang para kompetitor. Di balik capaian tersebut, mereka juga membawa pengalaman menghadapi standar keterampilan internasional.

Pengalaman itu dapat kembali ke sekolah, lembaga pelatihan, perguruan tinggi, dan dunia industri.

Pada akhirnya, keberhasilan di WorldSkills Shanghai 2026 tidak hanya berbicara tentang medali. Capaian tersebut juga menunjukkan pentingnya latihan terarah, pengalaman industri, kepercayaan diri, serta hubungan erat antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article