EDUCARE.CO.ID – Satu per satu tawaran kuliah dari kampus luar negeri datang kepada Azizah Jihan Madina, lulusan MAN 4 Jakarta. Total ada 14 Letter of Acceptance (LoA) yang berhasil ia kantongi dari perguruan tinggi di berbagai negara.
Dari belasan pilihan tersebut, Azizah akhirnya memilih University of Toronto, Kanada. Ia akan menempuh studi sarjana International Relations (Hubungan Internasional) melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama (Kemenag).
Pilihan itu tidak lepas dari cita-citanya menjadi diplomat. Azizah juga ingin menggunakan ilmu yang diperoleh untuk berkontribusi pada kebijakan publik, khususnya terkait perlindungan dan kesejahteraan pekerja migran Indonesia.
Berdasarkan sumber berita Internasional Kemenag, pencapaian tersebut lahir dari persiapan yang ia lakukan sejak kelas 11.
14 LoA Datang dari Kampus di Berbagai Negara
Ke-14 LoA yang diterima Azizah berasal dari universitas di Kanada, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Hong Kong.
Daftarnya meliputi:
- Chinese University of Hong Kong, Shenzhen
- University of Canterbury
- North Park University
- Graceland University
- University of Otago
- Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT)
- Adelaide University
- University of Western Australia
- University of Alberta
- Monash University
- New York Touro College & University System
- University of Auckland
- University of Toronto St. George
- University of Toronto Mississauga
Beberapa kampus bahkan memberikan tawaran beasiswa kepada Azizah.
North Park University memberikan International Student Grant sebesar USD22.000. University of Otago menawarkan Global Scholarship NZ$15.000, sedangkan University of Alberta memberikan beasiswa CA$8.000.
Persiapan Dimulai Sejak Kelas 11
Azizah mengatakan keberhasilan mendapatkan 14 LoA tidak terjadi secara instan. Ia menyiapkan proses pendaftaran secara bertahap, mulai dari IELTS, dokumen, aplikasi, hingga pengiriman berkas ke universitas tujuan.
Ia juga membuat daftar kampus dan beasiswa yang ingin dituju sejak akhir kelas 11.
“Yang pasti harus planning dengan matang. Dari akhir kelas 11, saya membuat rencana yang detail tentang berbagai kampus dan beasiswa yang saya ingin mendaftar, mulai dari negara, jurusan, kualitas universitas, persyaratan, lingkungan, prospek kerja, dan lain-lain,” ujar Azizah.
Persiapan akademiknya juga cukup kuat. Ia memiliki nilai rapor rata-rata di atas 91 serta skor IELTS di atas 7.
Menurut Azizah, capaian akademik dan kemampuan bahasa menjadi modal penting ketika mendaftar ke perguruan tinggi luar negeri.
Sempat Tak Mendapat Izin Kuliah ke Luar Negeri
Keinginan Azizah untuk kuliah di luar negeri ternyata baru muncul ketika ia berada di kelas 11.
Pada awalnya, orang tua belum memberikan izin. Faktor biaya dan kehidupan di luar negeri yang belum familier menjadi pertimbangan keluarga.
Situasi tersebut berubah setelah Azizah berdiskusi dengan orang tua dan mendapat dukungan dari guru-guru Cambridge di MAN 4 Jakarta.
“Sejujurnya baru di kelas 11 akhir. Awalnya, orang tua saya belum merestui untuk berkuliah di luar negeri karena pertimbangan biaya dan kehidupan di sana yang sangat tidak familier,” ungkapnya.
Setelah melalui berbagai diskusi, Azizah akhirnya mendapat izin dengan satu syarat: ia harus memperoleh beasiswa penuh atau fully funded scholarship.
Guru MAN 4 Jakarta Dorong Azizah Aktif di Banyak Bidang
Selain mendukung secara akademik, guru-guru MAN 4 Jakarta juga mendorong Azizah mengembangkan pengalaman di luar kelas.
Ia aktif dalam organisasi, kepanitiaan, dan berbagai kompetisi. Pada saat yang sama, guru tetap mengingatkannya untuk menjaga prestasi akademik.
“Guru-guru saya di MAN 4 Jakarta sangat mendukung untuk menekuni bidang yang saya suka seperti organisasi, kepanitiaan, dan lomba. Namun tentunya, mereka terus mengingatkan saya kepada tujuan utama untuk meraih kampus impian dan menyokong saya secara akademis,” kata Azizah.

Selama bersekolah, Azizah pernah menjadi Duta Inisiator Muda Moderasi Beragama 2024 yang diselenggarakan Direktorat KSKK Madrasah Kementerian Agama.
Ia juga mewakili MAN 4 Jakarta dalam Workshop Moderasi Beragama bagi Pelajar Lintas Negara MABIMS pada 25–31 Oktober 2024. Program tersebut melibatkan pelajar dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Debat, MUN, hingga Bahasa Mandarin Jadi Bekal
Prestasi Azizah juga datang dari berbagai bidang.
Ia dua kali meraih Juara 2 Lomba Debat Bahasa Indonesia tingkat nasional. Prestasi tersebut diraih di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada 2023 dan Universitas Pradita pada 2024.
Pada 2025, ia meraih Juara 3 Lomba Menyanyi Bahasa Mandarin di Universitas Al Azhar Indonesia.
Azizah juga aktif mengikuti forum Model United Nations (MUN), antara lain HIMUN Universitas Indonesia, MISJMUN, dan BINTAROMUN.
Kemampuan bahasa Mandarinnya turut teruji. Ia meraih skor 200/200 pada ujian HSK tingkat 1.
Di bidang organisasi, Azizah pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Cambridge Club dan Sekretaris Seksi 5 OSIS MAN 4 Jakarta.
Tinggalkan Jalur SNBT UI demi Beasiswa ke Toronto
Sebelum memilih University of Toronto, Azizah sebenarnya telah diterima di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia melalui jalur SNBT pada Mei 2026.
Namun, ia memutuskan mengundurkan diri setelah lolos seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit Kementerian Agama untuk melanjutkan studi di Kanada.
Dari 14 LoA yang diterimanya, University of Toronto menjadi pilihan utama karena memiliki keterkaitan kuat dengan rencana karier Azizah sebagai diplomat.
“Pertimbangan utama saya memilih University of Toronto adalah karena cita-cita saya sebagai diplomat selinear dengan jurusan International Relations (Hubungan Internasional) yang mengharuskan saya membangun perspektif, paparan, dan koneksi internasional,” katanya.
Azizah juga melihat lingkungan akademik University of Toronto dapat mendukung minatnya terhadap isu lokal dan global.
“University of Toronto di Kanada menjadi pilihan saya di antara 14 LoA lainnya karena berbagai kesempatan yang tersedia di negara, kota, dan kampus,” tambahnya.
Ia secara khusus ingin mempelajari isu perlindungan pekerja migran Indonesia melalui kebijakan publik dan hubungan antarnegara.
Target Jadi Diplomat, Siapkan Alternatif sebagai Analis Kebijakan
Setelah menyelesaikan pendidikan, Azizah menargetkan karier sebagai diplomat.
Namun, ia juga menyiapkan pilihan lain yang masih berkaitan dengan isu pekerja migran Indonesia.
“Untuk saat ini saya yakin dengan plan A untuk menjadi diplomat, namun jika memang saya masih berproses merealisasikan hal tersebut, saya akan menjadi analis dan pembuat kebijakan publik mengenai kesejahteraan pekerja migran Indonesia,” ujarnya.
Dengan rencana tersebut, studi Hubungan Internasional di University of Toronto menjadi bagian dari persiapan Azizah untuk memahami isu global sekaligus persoalan yang dihadapi Indonesia.
Bawa Nilai Moderasi ke Lingkungan Internasional
Pengalaman sebagai Duta Inisiator Muda Moderasi Beragama juga ingin Azizah bawa ke Kanada.
Ia melihat lingkungan kampus internasional sebagai ruang untuk berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam.
“Prinsip utama yang akan saya bawa sebagai ikon dari karakter moderat adalah yang pertama, inklusifitas: saya menghargai setiap keragaman dan perbedaan yang ada, terutama dalam lingkup internasional,” katanya.
Selain inklusif, Azizah menekankan pentingnya sikap adaptif. Ia ingin belajar memahami dunia dari perspektif yang lebih luas dan tidak hanya melihat persoalan berdasarkan sudut pandang pribadi.
Punya Sistem Sendiri untuk Mengatur Aktivitas
Padatnya kegiatan akademik dan organisasi membuat Azizah harus memiliki cara khusus untuk mengatur waktu.
Ia menggunakan skala prioritas dan tracker untuk memastikan berbagai kewajiban tetap berjalan.
“Satu hal yang mungkin membedakan saya dengan orang lain adalah sistem untuk mengorganisir kegiatan sehari-hari. Saya menerapkan skala prioritas dan menggunakan tracker untuk memastikan semua kewajiban dan tujuan saya berjalan beriringan,” jelasnya.
Perjalanan Azizah menunjukkan bahwa persiapan kuliah luar negeri membutuhkan lebih dari sekadar nilai akademik.
Kemampuan bahasa, pengalaman organisasi, kompetisi, kelengkapan dokumen, perencanaan kampus, serta informasi mengenai beasiswa ikut menentukan kesiapan calon mahasiswa.
Kini, Azizah bersiap memulai perjalanan akademiknya di University of Toronto. Ia membawa satu tujuan yang lebih besar: mengembangkan kemampuan dan pengalaman untuk kemudian berkontribusi bagi Indonesia, terutama dalam isu perlindungan dan kesejahteraan pekerja migran.

