EDUCARE.CO.ID – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Departemen Sosiologi FISIP UNAIR menggelar Lokakarya Sinergi Pentahelix: Optimalisasi Kolaborasi Pemda, KemenPPPA, dan Perguruan Tinggi dalam Akselerasi SDGs Poin 1, 4, dan 5 pada Kamis (10/9/2026).
Kegiatan berlangsung di Hall A, Gedung Soetandyo, FISIP UNAIR. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas langkah konkret menuju pembangunan yang lebih inklusif.
Berdasarkan rilis FISIP UNAIR, lokakarya tersebut secara khusus membahas tiga agenda SDGs. Ketiganya mencakup pengentasan kemiskinan (No Poverty), pendidikan berkualitas (Quality Education), dan kesetaraan gender (Gender Equality).

Menteri PPPA Hadiri Lokakarya FISIP UNAIR
Lokakarya tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia Arifah Fauzi turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Selain itu, hadir pula Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., perwakilan Bappeda Provinsi Jawa Timur, sivitas akademika UNAIR, serta sejumlah pihak terkait lainnya.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperkuat konsep pentahelix yang menjadi fokus utama lokakarya. Model ini mendorong berbagai pihak untuk menggabungkan peran dan sumber daya dalam menjawab persoalan pembangunan.
Karena itu, forum tidak hanya membahas gagasan akademik. Para peserta juga membicarakan peluang kerja sama yang dapat menghasilkan langkah nyata.
Jawa Timur Jadi Pilot Project Komisi Pentahelix
Salah satu agenda penting dalam lokakarya membahas rencana pembentukan Komisi Pentahelix untuk Percepatan Pencapaian SDGs Poin 1, 4, dan 5.
Dalam forum tersebut, DP3AK Provinsi Jawa Timur menyampaikan kesepakatan bersama terkait rencana pembentukan komisi tersebut di setiap provinsi di Indonesia.
Jawa Timur rencananya menjadi pilot project untuk pembentukan komisi pentahelix tersebut.
Langkah ini membuka peluang bagi pemerintah daerah, kementerian, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun koordinasi yang lebih terarah.
Dengan adanya komisi, kolaborasi untuk mencapai target SDGs diharapkan memiliki arah kerja yang lebih konkret dan berkelanjutan.
FISIP UNAIR Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor
Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA. menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mendorong pencapaian SDGs secara nyata.
Menurutnya, persoalan kemiskinan, pendidikan, dan kesetaraan gender membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam menyediakan pengetahuan dan hasil riset untuk mendukung kebijakan.
“Lokakarya ini menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi pentahelix dalam mempercepat pencapaian SDGs, khususnya pada isu kemiskinan, pendidikan, dan kesetaraan gender,” ujar Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA.
Melalui pendekatan tersebut, FISIP UNAIR ingin memperkuat hubungan antara dunia akademik dan kebutuhan pembangunan di masyarakat.
Bahas Pemberdayaan Perempuan dan SDM
Lokakarya juga menghadirkan agenda yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan pengembangan sumber daya manusia.
Pada sesi kedua, Prof. Dr. Tuti Budirahayu, Dra., M.Si. dan Dr. Nur Ainy Fardana Nawangsari, S.Psi., M.Si., Psikolog memperkenalkan peminatan pemberdayaan perempuan dan pengembangan sumber daya manusia di Sekolah Pascasarjana UNAIR.
Selain itu, peserta mendapat pemaparan mengenai program Female Future Leader.
Sesi tersebut juga membahas kerja sama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan XL.
Agenda ini memperluas pembahasan lokakarya dari isu pembangunan makro menuju penguatan kapasitas perempuan dan sumber daya manusia.
Perguruan Tinggi Punya Peran Strategis
FISIP UNAIR menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan. Kampus juga dapat menjadi penghubung antara riset, inovasi, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.
Melalui kolaborasi pentahelix, perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi berbasis pengetahuan. Pemerintah daerah dan kementerian kemudian dapat menghubungkan kontribusi tersebut dengan kebutuhan pembangunan.
Sementara itu, sektor lain dapat mendukung implementasi program melalui sumber daya, inovasi, maupun jejaring yang mereka miliki.
Dengan pola tersebut, kolaborasi tidak berhenti pada pertukaran gagasan. Setiap pihak dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya.
Dorong Kerja Sama yang Berkelanjutan
Lokakarya Sinergi Pentahelix FISIP UNAIR menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu agenda pembangunan.
Selain membahas SDGs poin 1, 4, dan 5, forum tersebut juga membuka peluang pembentukan mekanisme kolaborasi yang lebih terstruktur.
FISIP UNAIR berharap sinergi tersebut dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama dan program nyata. Dengan begitu, kolaborasi antarpihak dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Pada akhirnya, pencapaian SDGs membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan perlu bergerak dalam arah yang sama.
Melalui sinergi pentahelix, FISIP UNAIR mendorong pembangunan yang tidak hanya mengejar target. Kolaborasi juga perlu menghasilkan perubahan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.


