EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, mengembangkan sendok elektronik yang dapat menghadirkan sensasi rasa manis tanpa menggunakan gula maupun pemanis buatan.
Tim mahasiswa UB menamai inovasi tersebut SiManis (Sendok Pintar Perisa Manis Virtual). Teknologi ini menawarkan pendekatan baru bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula, termasuk penderita diabetes melitus dan obesitas.
SiManis tidak memasukkan gula ke dalam tubuh. Sebaliknya, perangkat memanfaatkan stimulasi pada reseptor rasa di lidah untuk menciptakan persepsi rasa manis.
SiManis Gunakan Stimulasi Termal dan Arus Mikro
Ketua Tim Inovasi SiManis, Malfino Altara Satyaraka, menjelaskan mekanisme kerja perangkat tersebut.
SiManis memadukan stimulasi termal dengan arus mikro berintensitas rendah. Kedua rangsangan itu bekerja pada reseptor rasa manis yang terdapat di permukaan lidah.
“Cara kerjanya memadukan stimulasi termal dan arus mikro berintensitas rendah secara aman pada reseptor rasa manis di lidah. Otak akan menerima sinyal persepsi manis tanpa ada molekul gula yang masuk ke tubuh,” kata Malfino.
Dengan pendekatan tersebut, perangkat tidak perlu membawa gula atau pemanis ke dalam makanan. Teknologi ini berusaha memberikan sensasi manis melalui stimulasi sensorik.
Begini Cara Kerja Sendok Pintar SiManis
SiManis memberikan stimulasi suhu hangat pada rentang 25–35 derajat Celsius. Pada waktu yang sama, perangkat mengalirkan arus mikro dengan intensitas 20–200 mikroampere (μA).
Stimulasi tersebut menyasar reseptor rasa manis T1R2/T1R3 pada permukaan lidah. Reseptor kemudian meneruskan sinyal yang otak persepsikan sebagai rasa manis.
Karena itu, pengguna dapat merasakan sensasi manis tanpa memasukkan molekul gula ke dalam tubuh melalui perangkat tersebut.
Tim juga memperhatikan aspek keamanan selama mengembangkan SiManis. Perangkat memiliki sistem pembatas arus otomatis untuk mengendalikan aliran listrik.
Selain itu, SiManis menggunakan fitur thermal cut-off. Fitur tersebut akan memutus arus ketika suhu perangkat melewati 40 derajat Celsius.
Berangkat dari Masalah Konsumsi Gula
Tim mahasiswa UB mengembangkan SiManis setelah melihat tingginya konsumsi gula harian masyarakat Indonesia.
Konsumsi gula yang berlebihan dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, termasuk risiko diabetes. Kondisi tersebut mendorong tim mencari pendekatan yang memungkinkan seseorang tetap merasakan sensasi manis tanpa menambahkan gula.
Tim juga melihat sejumlah keterbatasan pada penggunaan pemanis buatan dan alternatif rendah kalori seperti stevia.
Salah satu persoalan yang mereka pertimbangkan ialah munculnya rasa after-taste pada beberapa pemanis. Tim juga mempertimbangkan kekhawatiran masyarakat mengenai penggunaan pemanis tertentu dalam jangka panjang.
Dari pertimbangan tersebut, tim kemudian mengembangkan teknologi e-taste melalui SiManis.
Desain Ringkas dengan Baterai Isi Ulang
Selain mengembangkan sistem elektroniknya, tim juga memperhatikan bentuk perangkat.
SiManis menggunakan casing hasil cetak tiga dimensi (3D) dengan desain yang ringkas. Perangkat tersebut juga memakai baterai isi ulang berkapasitas 1.600 mAh.
Desain tersebut membantu tim membuat perangkat yang lebih praktis untuk penggunaan sehari-hari. Ke depan, tim masih ingin menyempurnakan bentuk SiManis agar semakin ergonomis.
Libatkan Mahasiswa dari Tiga Fakultas
Pengembangan SiManis melibatkan mahasiswa dari beberapa bidang keilmuan di Universitas Brawijaya.
Tim utama terdiri atas Malfino Altara Satyaraka, Vika Nur Ristiana, dan Irsyad Annafi Nurhikmah dari Fakultas Teknik (FT).
Tim kemudian melibatkan Malikah Nurbaiti Balenzya dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Aisa Yoshinta Maharani dari Fakultas Kedokteran (FK).
Dosen Eka Maulana memberikan bimbingan selama proses pengembangan inovasi tersebut.
Kolaborasi lintas fakultas ini membantu tim menggabungkan aspek teknologi dengan pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan dan sistem indera pengecap.
SiManis Raih Pendanaan PKM-KI 2026
Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Brawijaya (UB), SiManis berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karya Inovatif (PKM-KI) 2026.
Pendanaan tersebut mendukung tim untuk melanjutkan pengembangan teknologi e-taste yang mereka rancang.
Saat ini, tim masih perlu melakukan sejumlah pengembangan sebelum SiManis dapat digunakan secara lebih luas.
Tim Siapkan Pengujian dan Pengembangan Lanjutan
Ke depan, tim SiManis berencana melakukan pengujian klinis lanjutan. Tahap tersebut penting untuk mengevaluasi kinerja dan keamanan teknologi secara lebih menyeluruh.
Tim juga akan menyempurnakan desain perangkat agar lebih ergonomis dan nyaman digunakan.
Selain itu, mereka berencana mengintegrasikan fitur pemantauan melalui aplikasi. Fitur tersebut nantinya dapat memperluas kemampuan SiManis dalam memantau penggunaan perangkat.
Dalam jangka panjang, tim menargetkan pengembangan SiManis hingga siap untuk produksi massal.
Jika seluruh tahap pengembangan berjalan sesuai rencana, SiManis berpotensi menjadi salah satu inovasi teknologi pangan dan kesehatan yang menawarkan cara berbeda untuk menghadirkan sensasi rasa manis tanpa gula.
SiManis Buka Peluang Baru untuk Teknologi E-Taste
SiManis menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menggabungkan teknologi dan ilmu kesehatan untuk menjawab persoalan sehari-hari.
Alih-alih menambahkan gula atau pemanis, tim mencoba memanfaatkan stimulasi sensorik untuk menciptakan persepsi rasa manis. Pendekatan ini menjadi bagian dari perkembangan teknologi e-taste yang terus dikembangkan dalam berbagai penelitian.
Meski begitu, tim masih perlu menjalani pengujian dan penyempurnaan sebelum SiManis dapat digunakan secara luas.
Penulis: Andini Namira Saskirana


