Bantu Petani Senggi, UNDIP Kembangkan Irigasi Hemat Air di Perbatasan Papua

Must read

EDUCARE.CO.ID – Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, menyimpan potensi besar untuk pengembangan pertanian. Namun, petani setempat masih menghadapi persoalan pasokan air, terutama saat musim kemarau.

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) turun langsung untuk membantu menjawab persoalan tersebut. Tim mengembangkan sistem irigasi berbasis masyarakat sekaligus membangun demplot pertanian di kawasan transmigrasi Senggi.

Berdasarkan sumber Universitas Diponegoro, kegiatan ini menjadi bagian dari Program Transmigrasi Patriot 2026 Kementerian Transmigrasi RI. Program tersebut melibatkan akademisi, alumni, dan tenaga ahli untuk mendampingi masyarakat di kawasan transmigrasi.

Program TEP 2026 melanjutkan kegiatan yang telah berjalan pada 2025. Tahun sebelumnya, tim mengumpulkan data dan memetakan berbagai persoalan kawasan. Tahun ini, tim mulai menerapkan solusi teknis sesuai kebutuhan petani.

Tim UNDIP Fokus Atasi Keterbatasan Air

Tim 17 TEP UNDIP mengusung program “Penyediaan dan Optimalisasi Air Irigasi Berbasis Masyarakat untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi Senggi”.

Program tersebut dipimpin Septrial Arafat, S.P., M.P., bersama Nok Ayu Nurasih, S.Pi., M.Pi., Risa Nurhaliza, S.I.Kom., Amelia Shafa Salsabila, S.P., Riko Iqbal Allatif, S.Pd., dan Alfian Nur Setiawan, S.P.W.K.

Dalam pelaksanaannya, kelompok tersebut menggandeng Tim 5 Ekspedisi Patriot serta melibatkan masyarakat sebagai penggerak utama program.

Senggi memiliki tujuh kampung dalam kawasan transmigrasinya. Salah satunya ialah Kampung Woslay yang berasal dari eks Satuan Permukiman (SP) 1 dan SP 2.

Masyarakat transmigran dan Orang Asli Papua (OAP) hidup berdampingan di kawasan tersebut. Mereka juga bekerja sama dalam mengolah lahan pertanian.

Namun, kondisi pertanian masih menghadapi sejumlah kendala. Sibur, Ketua Kelompok Tani Satu Hati, menyebut pasokan air menjadi salah satu persoalan utama.

Sebagian besar lahan pertanian di Senggi masih bergantung pada air hujan. Pola tersebut membuat petani rentan terhadap perubahan cuaca.

“Senggi memiliki lahan pertanian potensial yang cukup luas, namun produktivitas pertanian di Distrik Senggi masih menghadapi kendala klasik berupa keterbatasan ketersediaan air pertanian,” ujar Sibur.

Ia menjelaskan bahwa kondisi lahan yang masih tadah hujan membuat kegiatan budidaya sangat bergantung pada curah hujan musiman.

Demplot Jadi Lahan Percontohan

Selain masalah air, petani juga menghadapi kondisi tanah yang cukup masam. Rata-rata pH tanah di kawasan tersebut berada di angka 5.

Kondisi itu dapat memengaruhi penyerapan unsur hara oleh tanaman. Karena itu, tim TEP UNDIP juga memasukkan pengelolaan tanah dalam program pendampingan.

Tim 17 TEP UNDIP dan Tim 5 kemudian membangun demplot pertanian seluas 50 x 45 meter di kawasan SP2.

Tim menggunakan lahan milik Sibur untuk kegiatan tersebut. Sibur menjalin kerja sama bagi hasil dengan seorang Ondoafi, tokoh adat atau kepala suku setempat.

Ketua Tim 17 TEP UNDIP, Septrial Arafat, mengatakan tim ingin mengajak petani menerapkan Good Agriculture Practices (GAP).

“Melalui demplot ini, kami hadir membersamai petani di ujung timur Indonesia untuk menerapkan GAP (Good Agriculture Practices) dengan pendekatan sederhana dan adaptif,” kata Septrial.

Tim menggunakan alat sederhana untuk mengukur pH dan mengenali unsur hara makro. Mereka juga menyesuaikan teknik budidaya dengan kondisi iklim mikro dan bahan lokal.

Menurut Septrial, efisiensi air menjadi salah satu fokus utama program. Tim berharap sistem tersebut dapat membantu petani menghadapi perubahan iklim.

Padi, Jagung, dan Hortikultura Diuji

Demplot tersebut tidak hanya menanam satu jenis tanaman. Tim mencoba beberapa komoditas untuk melihat kemampuan adaptasinya.

Padi Mentik Wangi mendapat campuran sekam bakar dan kapur dolomit. Perlakuan ini bertujuan meningkatkan pH tanah dan memperbaiki strukturnya.

Tim juga menanam jagung manis dan cabai keriting merah. Kedua tanaman tersebut mendapat pupuk kompos organik dan dukungan irigasi hemat air.

Sementara itu, terong ungu, kacang panjang, dan kangkung menggunakan kombinasi pupuk kompos dan NPK.

Tim memilih jagung manis karena tanaman tersebut memiliki kemampuan adaptasi pada lahan kering. Mereka juga menguji tanaman hortikultura untuk melihat responsnya terhadap kondisi air yang terbatas.

Pengujian tersebut menggunakan pendekatan learning by doing. Petani ikut mempraktikkan teknik budidaya dan pengelolaan irigasi secara langsung.

Petani Belajar Mengelola Irigasi

Tim TEP UNDIP tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Mereka juga memberikan pendampingan kepada kelompok tani.

Petani belajar menggunakan sistem irigasi dan menerapkan teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan. Pendampingan ini bertujuan membangun kemampuan teknis masyarakat.

Dengan cara tersebut, petani dapat melanjutkan pengelolaan fasilitas setelah masa penugasan ekspedisi selesai.

Program demplot juga membuka ruang untuk mencoba pola tanam yang lebih beragam. Sebelumnya, lahan tersebut lebih banyak digunakan untuk budidaya padi secara monokultur.

Pola tanam yang lebih beragam dapat membantu masyarakat menguji berbagai komoditas. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lahan.

Perkuat Kolaborasi di Kawasan Perbatasan

Program irigasi dan demplot di Senggi menunjukkan pentingnya pendekatan lokal dalam pembangunan kawasan perbatasan.

Petani tidak hanya membutuhkan lahan produktif. Mereka juga membutuhkan akses air, pengetahuan teknis, dan pendampingan yang sesuai dengan kondisi setempat.

Kolaborasi TEP UNDIP dengan masyarakat menjadi salah satu bentuk penerapan pengetahuan perguruan tinggi secara langsung. Tim membawa pendekatan akademik ke lapangan dan mengujinya bersama petani.

Program ini juga memperkuat hubungan antara masyarakat transmigran dan masyarakat adat Papua. Kerja sama tersebut dapat menjadi modal sosial dalam pengembangan kawasan.

Dukung Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan

Pengembangan irigasi berbasis masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan petani pada curah hujan. Demplot juga memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mencoba teknik budidaya yang lebih efisien.

Program tersebut turut mendukung beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs).

Dari sisi ketahanan pangan, kegiatan ini mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan. Pengelolaan irigasi berkelanjutan juga sejalan dengan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak.

Sementara itu, upaya menjaga kesuburan tanah dan mendorong pertanian ramah lingkungan mendukung SDG 15: Ekosistem Daratan.

Kehadiran TEP UNDIP di Distrik Senggi menjadi bagian dari upaya memperkuat pertanian di wilayah perbatasan. Melalui irigasi, demplot, dan pendampingan, petani mendapat ruang untuk meningkatkan keterampilan sekaligus mengembangkan lahan secara lebih berkelanjutan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article