Bukan Bubur Biasa! FerraCare Buatan Mahasiswa UNDIP Raih 3 Penghargaan Internasional

Must read

EDUCARE.CO.ID – Lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) membawa pulang tiga penghargaan dari ajang International Youth Conference (IYC) 2026 di Malaysia. Kompetisi tersebut berlangsung pada 27–28 Juni 2026.

Tim FK UNDIP memperkenalkan FerraCare, inovasi bubur instan berbahan bekatul, tepung ubi jalar oranye, dan ampas pepaya. Mereka mengembangkan produk ini sebagai alternatif pangan fungsional untuk membantu mencegah anemia pada balita sekaligus menerapkan konsep zero waste.

Berdasarkan sumber Universitas Diponegoro, FerraCare mengantarkan tim meraih Gold Medal, 1st Runner Up, dan Favorite Poster pada IYC 2026.

FerraCare Berangkat dari Dua Persoalan

Ketua tim, Fahmi Istikmal Akbar, menjelaskan alasan tim memilih anemia balita dan limbah pangan sebagai fokus inovasi.

Menurut Fahmi, anemia pada balita masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian. Pada saat yang sama, sejumlah bahan pangan seperti bekatul dan ampas pepaya belum banyak mendapat pemanfaatan optimal.

“Anemia pada balita masih menjadi salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Di sisi lain, limbah pangan seperti bekatul dan ampas pepaya masih belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Fahmi.

Tim melihat kedua persoalan tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan produk yang menggabungkan aspek kesehatan dan keberlanjutan.

FerraCare kemudian hadir dalam bentuk bubur instan. Tim memanfaatkan bahan pangan yang memiliki kandungan gizi dan senyawa bioaktif sebagai bagian dari formulasi produk.

Fahmi juga mengacu pada data World Health Organization (WHO). Data tersebut menunjukkan prevalensi anemia pada anak usia 6–59 bulan di Indonesia mencapai 38,4 persen.

Angka tersebut semakin menguatkan alasan tim untuk mencari pendekatan inovatif dalam mendukung upaya pencegahan anemia pada balita.

Lima Mahasiswa Bawa Inovasi ke Kompetisi Internasional

Tim delegasi FK UNDIP beranggotakan lima mahasiswa dari Program Studi Kedokteran angkatan 2023 dan 2024.

Mereka terdiri atas:

  • Fahmi Istikmal Akbar, Kedokteran UNDIP 2023, selaku ketua.
  • Alia Nurhaliza Hadari, Kedokteran UNDIP 2023.
  • Widiana Harrista, Kedokteran UNDIP 2024.
  • Naura Shafa Anindya, Kedokteran UNDIP 2024.
  • Natasya Marianda, Kedokteran UNDIP 2024.

Kelima mahasiswa tersebut mengembangkan FerraCare sejak tahap awal kompetisi. Mereka memulai proses dengan memilih subtema pangan yang sesuai dengan fokus IYC.

Setelah itu, tim melakukan kajian literatur untuk menemukan persoalan kesehatan yang relevan. Hasil kajian kemudian menjadi dasar dalam menyusun konsep FerraCare.

Prototipe FerraCare Lahir dari Laboratorium Gizi

Perjalanan FerraCare berlanjut setelah karya ilmiah tim lolos menuju babak final. Tim kemudian menyiapkan prototipe produk di Laboratorium Gizi FK UNDIP.

Mereka juga menyusun poster ilmiah dan materi presentasi untuk kebutuhan kompetisi. Seluruh materi tersebut menjadi bagian dari penilaian juri di Malaysia.

Persiapan menuju final menghadirkan tantangan tersendiri. Tim harus menyelesaikan prototipe dan berbagai kebutuhan lomba dalam waktu yang terbatas.

Fahmi mengatakan jarak waktu antara proses persiapan dan keberangkatan membuat tim harus membagi pekerjaan dengan cermat.

“Tantangan terbesar kami adalah menyelesaikan pembuatan prototipe beserta seluruh perlengkapan lomba dalam waktu yang sangat singkat karena berdekatan dengan jadwal keberangkatan,” katanya.

Pembagian tugas membantu setiap anggota fokus pada tanggung jawab masing-masing. Mereka juga menjaga komunikasi agar seluruh kebutuhan kompetisi dapat selesai sesuai jadwal.

Kolaborasi Mahasiswa dan Dosen Jadi Kunci

Tim FerraCare mendapat dukungan dari dosen pembimbing dan FK UNDIP selama proses persiapan kompetisi.

Dr. Fitriyono Ayustaningwarno, S.TP., M.Si. mendampingi tim dalam proses praktikum pembuatan prototipe di Laboratorium Gizi FK UNDIP.

Sementara itu, mahasiswa menangani proses identifikasi masalah, kajian literatur, penyusunan konsep, serta penulisan karya ilmiah.

FK UNDIP juga membantu kebutuhan administratif dan proses pendelegasian tim menuju IYC 2026.

Fahmi menilai dukungan tersebut membantu tim menjaga kualitas persiapan hingga tahap kompetisi.

“Kolaborasi yang baik antara seluruh anggota tim, dosen pembimbing, dan fakultas menjadi kekuatan utama kami,” ujar Fahmi.

Menurutnya, kerja sama tersebut juga membantu tim mengembangkan karya dari sekadar gagasan menjadi prototipe yang dapat mereka presentasikan di tingkat internasional.

Tiga Penghargaan Jadi Bukti Kerja Keras Tim

Perjuangan tim akhirnya membuahkan tiga penghargaan. Gold Medal menjadi salah satu pencapaian utama FerraCare di IYC 2026.

Selain itu, tim juga meraih 1st Runner Up dan Favorite Poster. Tiga penghargaan tersebut memperkuat capaian mahasiswa FK UNDIP dalam kompetisi inovasi tingkat internasional.

Keberhasilan tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran dapat mengembangkan gagasan di luar ruang pembelajaran klinis. Mereka menggabungkan pengetahuan kesehatan, riset pangan, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu inovasi.

FerraCare Ingin Dikembangkan Lebih Jauh

Tim tidak ingin FerraCare berhenti sebagai karya untuk kompetisi. Mereka memiliki rencana untuk membawa inovasi tersebut ke tahap pengembangan produk.

Fahmi berharap FerraCare dapat menjadi alternatif pangan fungsional yang membantu mendukung upaya pencegahan anemia pada balita.

Namun, tim masih perlu melakukan berbagai pengujian sebelum produk dapat masuk ke tahap produksi dan pemasaran. Tahapan tersebut mencakup penyempurnaan formulasi, pengujian kandungan gizi, keamanan, mutu, stabilitas, serta uji efektivitas.

“Kami berharap FerraCare dapat terus dikembangkan menjadi produk yang layak diproduksi secara massal sebagai alternatif pangan fungsional untuk membantu pencegahan anemia pada balita,” tutur Fahmi.

Pengembangan lebih lanjut juga penting untuk memastikan produk memenuhi standar keamanan dan kualitas yang berlaku.

Gabungkan Isu Kesehatan dan Lingkungan

FerraCare memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat mengangkat persoalan kesehatan masyarakat melalui inovasi berbasis riset. Tim tidak hanya melihat anemia sebagai persoalan medis, tetapi juga menghubungkannya dengan potensi pemanfaatan bahan pangan yang belum optimal.

Prestasi di Malaysia menjadi salah satu hasil dari proses tersebut. Tiga penghargaan yang mereka raih sekaligus membuka peluang bagi pengembangan FerraCare pada tahap berikutnya.

Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, inovasi tersebut dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. FerraCare juga berpotensi memperkuat peran mahasiswa dalam menghadirkan solusi yang menggabungkan kesehatan, pangan, dan keberlanjutan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article