Bukan Cuma Bawa 2 Emas, Siswa RI Kenalkan Tradisi Ronda ke Dunia di IGeo 2026

Must read

EDUCARE.CO.ID – Siswa Indonesia kembali menorehkan prestasi di panggung internasional. Tim Indonesia berhasil membawa pulang dua medali emas, satu medali perunggu, serta penghargaan Honorable Mention untuk Poster Presentation dalam International Geography Olympiad (IGeo) 2026 di Istanbul, Turki.

IGeo 2026 berlangsung pada 11–17 Agustus 2026 dan mempertemukan 184 peserta dari 50 negara. Kompetisi tersebut menjadi salah satu ajang bergengsi bagi pelajar yang memiliki kemampuan dan minat di bidang geografi.

Berdasarkan sumber Puspresnas Kemendikdasmen melalui unggahan resminya yang dikutip pada Kamis (20/8/2026), menilai prestasi tersebut menunjukkan kemampuan siswa Indonesia mengangkat isu dan tradisi lokal ke panggung internasional.

Dua Siswa Indonesia Raih Medali Emas

Dua siswa dari sekolah berbeda berhasil membawa pulang medali emas.

Kaleb Lash Elnathan Naibaho dari SMA Labschool Kebayoran, DKI Jakarta, berhasil meraih medali emas. Rafif Adinata Ramadhan dari MAN 1 Pekanbaru, Riau, juga meraih medali emas.

Sementara itu, Arkha Enzi Anagi dari SMA Labschool Kebayoran, DKI Jakarta, membawa pulang medali perunggu.

Tim Indonesia juga memperoleh Honorable Mention Poster Presentation melalui karya berjudul:

“The Ronda System: The Indonesian Tradition to Keep Communities Safe.”

Penghargaan tersebut menjadi bagian menarik dari keikutsertaan Indonesia karena peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik, tetapi juga memperkenalkan salah satu tradisi masyarakat Indonesia kepada peserta dari berbagai negara.

Luminaire Tetap Dapat Apresiasi

Selain para peraih medali, Puspresnas juga memberikan apresiasi kepada Luminaire Tribuana Celmira dari SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan, Banten.

Meski belum meraih medali, Luminaire tetap memberikan penampilan terbaik dan turut membawa nama Indonesia dalam kompetisi internasional tersebut.

Prestasi tim Indonesia juga tidak lepas dari proses seleksi dan pembinaan sebelum keberangkatan ke Turki.

Para peserta sebelumnya merupakan talenta yang berhasil menorehkan prestasi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Geografi. Setelah itu, Puspresnas Kemendikdasmen menyeleksi dan membina mereka sebelum berangkat ke Istanbul.

Selama kompetisi di Istanbul, tim Indonesia mendapat pendampingan dari Prof. Dewayany dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Asri Oktavioni Indraswari dari Universitas Indonesia (UI).

Siswa Indonesia Kenalkan Sistem Ronda di Istanbul

Tidak hanya berkompetisi dalam bidang geografi, tim Indonesia juga membawa cerita tentang budaya dan kehidupan masyarakat Tanah Air.

Melalui kategori poster presentation, mereka memperkenalkan sistem ronda sebagai tradisi masyarakat Indonesia dalam menjaga keamanan lingkungan.

Poster tersebut mengulas sejarah ronda, unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, hingga perkembangan sistem ronda dari masa ke masa.

Tim juga mengangkat praktik ronda di Nglanjaran, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai salah satu contoh penerapan tradisi tersebut di masyarakat.

Unsur budaya lokal turut mereka tampilkan melalui gambaran “anomali tung-tung sahur” yang merepresentasikan suara kentongan dari pos ronda.

Ronda Tidak Hanya Tradisi, tetapi Bisa Beradaptasi dengan Teknologi

Dalam karya tersebut, tim Indonesia tidak berhenti pada pembahasan sejarah ronda.

Mereka juga menunjukkan bagaimana tradisi menjaga keamanan lingkungan dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

Tim Indonesia juga memperkenalkan E-Ronda, konsep berbasis aplikasi yang membantu masyarakat mengatur jadwal ronda dan mengelola kegiatan keamanan lingkungan.

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lokal tidak harus hilang ketika masyarakat memasuki era digital. Teknologi justru dapat membantu masyarakat mengelola praktik sosial yang sudah berkembang agar berjalan lebih mudah dan teratur.

Prestasi Geografi Sekaligus Promosi Budaya Indonesia

Keberhasilan tim Indonesia di IGeo 2026 tidak hanya terlihat dari perolehan medali.

Dua emas dan satu perunggu menunjukkan kemampuan akademik siswa Indonesia dalam bidang geografi. Sementara itu, penghargaan poster menjadi kesempatan bagi mereka untuk memperkenalkan tradisi Indonesia kepada komunitas internasional.

Melalui sistem ronda, para siswa menunjukkan bahwa pengetahuan geografi juga dapat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, budaya, lingkungan, serta cara sebuah komunitas membangun rasa aman.

Prestasi tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa kompetisi internasional dapat menjadi ruang bagi pelajar Indonesia untuk membawa prestasi sekaligus identitas budaya ke tingkat dunia.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article