EDUCARE.CO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan akses pendidikan. Menurutnya, Indonesia juga perlu memperkuat relevansi pendidikan, karakter kebangsaan, dan nilai budaya lokal untuk menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan rilis resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menyampaikan gagasan tersebut saat menghadiri Seminar Nasional Pekan Gawai Dayak 2026 bertema Pemberdayaan Masyarakat Dayak dalam Arus Globalisasi: Strategi Pembangunan Manusia Berbasis Pendidikan di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (19/5/2026).
Pendidikan Tinggi Masih Hadapi Tantangan Akses dan Relevansi
Fauzan menjelaskan bahwa Indonesia sedang menghadapi momentum bonus demografi dengan dominasi usia produktif. Namun, tantangan pembangunan manusia masih cukup besar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi nasional baru mencapai 32,89 persen. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata global yang mencapai 40 persen.
Di Kalimantan Barat, APK perguruan tinggi tercatat sebesar 24,99 persen dan menempatkan provinsi tersebut pada posisi ke-34 dari 38 provinsi.
Selain itu, tingkat pengangguran nasional masih berada pada angka 4,76 persen atau sekitar 7,28 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,01 juta merupakan lulusan sarjana yang belum bekerja sesuai bidang keahliannya.
Menurut Fauzan, kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan harus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara ilmu yang jauh dari realitas sosial, tetapi harus hadir sebagai solusi atas persoalan bangsa,” ujarnya.
Kemdiktisaintek Dorong Konsorsium Perguruan Tinggi
Untuk memperkuat peran pendidikan tinggi, Kemdiktisaintek mendorong pembentukan konsorsium perguruan tinggi di berbagai daerah.
Fauzan mencontohkan model yang sudah berjalan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Program tersebut melibatkan 27 perguruan tinggi untuk menangani persoalan stunting, kemiskinan, dan pengangguran.
Kemdiktisaintek juga menjalankan program KKN Tematik yang berfokus pada pendampingan masyarakat secara langsung di berbagai daerah.
Melihat hasil tersebut, Kemdiktisaintek mulai menjajaki pembentukan konsorsium serupa di Kalimantan Barat dengan melibatkan 41 perguruan tinggi.
Kearifan Lokal Jadi Fondasi Masa Depan Indonesia
Selain pendidikan, Fauzan menekankan pentingnya menjaga nilai budaya lokal sebagai fondasi pembangunan manusia.
Dalam forum tersebut, ia menyoroti filosofi masyarakat Dayak yang mencakup Huma Betang, Jaga Alam, dan Belom Bahadat.
Menurutnya, nilai tersebut mengajarkan gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, serta pentingnya ilmu pengetahuan dan karakter.
Ia menegaskan bahwa kemajuan tidak harus menghapus identitas budaya.
“Kemajuan tidak harus meninggalkan tradisi, dan modernitas tidak harus menghilangkan identitas,” kata Fauzan.
Ia berharap sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan budaya lokal dapat melahirkan generasi Indonesia yang unggul secara intelektual, matang secara emosional, dan kuat secara sosial menuju Indonesia Emas 2045.



