Wamen Fajar: Budaya Literasi Dapat Membantu Pulihkan Kesehatan Mental Murid
EDUCARE.CO.ID, Bogor – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa budaya literasi memiliki peran penting dalam memulihkan kesehatan mental peserta didik. Pernyataan ini ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam rangkaian kegiatan Pertemuan Pembelajaran Sebaya: Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang berlangsung di Bogor.
Literasi Lebih dari Sekadar Membaca
Dalam pidatonya, Wamen Fajar menyampaikan apresiasinya kepada ratusan relawan literasi dari berbagai daerah di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kegiatan literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca, menulis, atau memahami teks.
“Aktivitas literasi yang dilakukan dengan baik dan benar dapat membantu murid memulihkan kesehatan mental mereka,” ujar Fajar.
Menurutnya, literasi dapat menjadi ruang aman bagi anak untuk berekspresi, memahami emosi, dan mengembangkan identitas diri. Buku dan aktivitas literasi membantu murid mengalihkan tekanan sosial, menenangkan pikiran, serta meningkatkan kemampuan refleksi diri.
Tantangan Era Media Sosial
Wamen Fajar juga menyoroti kondisi peserta didik yang saat ini terus terpapar pesan dari media sosial. Arus informasi yang deras, tanpa filter, dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak dan remaja.
Dalam konteks ini, kehadiran Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dinilai sangat penting. Para relawan diharapkan mampu:
-
menghadirkan kegiatan literasi yang menyenangkan,
-
mengajak murid membaca langsung dari buku,
-
serta mengajak mereka menggali makna positif dari bacaan.
“Ketika interaksi sosial mulai pudar karena media sosial, komunitas seperti Relima sangat diperlukan untuk menjembatani sekolah dan masyarakat,” lanjut Fajar.
Ia menekankan bahwa budaya literasi tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk manusia yang bermakna dan memiliki daya empati tinggi.
Harapan bagi Relawan Literasi
Di hadapan para peserta pembekalan, Wamen Fajar berharap Relima dapat menjadi motor penggerak literasi di berbagai daerah.
“Mari kita bersama membangun budaya literasi yang mampu menguatkan kognitif peserta didik dan masyarakat Indonesia. Selamat berjuang para pegiat literasi,” ujarnya.
Keterlibatan Perpustakaan Nasional dan Berbagai Kementerian
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz, yang menjelaskan bahwa pertemuan tersebut diikuti oleh 180 relawan dari 177 kabupaten/kota serta 34 fasilitator daerah program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.
Aminudin menambahkan bahwa kegiatan ini turut melibatkan pembina dari berbagai kementerian, termasuk:
-
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,
-
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal,
-
Kementerian Dalam Negeri.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan gagasan baru dalam memperkuat budaya literasi di masyarakat.
“Kami berharap paparan dari Kemendikdasmen dapat menghadirkan ide konkret untuk membangun budaya literasi di lingkungan masyarakat dan peserta didik,” tutupnya.
