EDUCARE.CO.ID – Universitas Samudra menghadirkan teknologi filtrasi air bersih untuk membantu pemulihan masyarakat pascabanjir bandang di Desa Aras Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Inovasi tersebut menjadi bagian dari Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026.
Berdasarkan sumber rilis Kemdiktisaintek, tim Universitas Samudra juga mempresentasikan hasil program tersebut dalam Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak yang digelar Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di Universitas Prima Indonesia, Medan.
Desa Aras Sembilan Jadi Lokasi Prioritas
Tim Universitas Samudra memilih Desa Aras Sembilan karena wilayah tersebut mengalami dampak paling berat akibat banjir bandang. Bencana itu memutus jembatan penghubung antarwilayah, menghambat distribusi air bersih, merusak fasilitas sanitasi, dan melemahkan aktivitas ekonomi warga.
Dosen pembimbing lapangan Universitas Samudra, Taufan Arif Adlie, mengatakan hasil survei menunjukkan masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. Selain itu, fasilitas umum seperti masjid dan sekolah juga mengalami kerusakan akibat lumpur serta genangan banjir.
“Kami menemukan keterbatasan akses air bersih, terutama di fasilitas umum seperti masjid, sekolah dasar, dan permukiman warga. Sanitasi juga memburuk setelah banjir, sementara aktivitas ekonomi masyarakat ikut menurun,” jelas Taufan.
Teknologi Filtrasi Air Bersih Jadi Solusi
Tim kemudian merancang sistem penyediaan air bersih berbasis filtrasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Air baku berasal dari Sungai Aceh Tamiang, kemudian melewati proses pengendapan sebelum masuk ke media penyaring berbahan mangan dan karbon aktif.
Selanjutnya, sistem menyalurkan air hasil penyaringan ke menara penampungan. Dari sana, air mengalir menuju masjid, tempat wudu, kamar mandi, toilet, sekolah, dan sejumlah fasilitas umum lainnya.
Melalui sistem tersebut, warga kembali memperoleh akses air bersih. Karena itu, aktivitas belajar di sekolah serta kegiatan ibadah masyarakat dapat berlangsung lebih nyaman.
Pulihkan Ekonomi Lewat Peternakan Kambing
Selain menyediakan akses air bersih, Universitas Samudra juga membantu pemulihan ekonomi masyarakat. Tim membangun kandang ternak kambing sekaligus memberikan pelatihan mengenai pengelolaan peternakan yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Menurut Taufan, teknologi yang diterapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Tim juga membekali masyarakat dengan pengetahuan agar mereka mampu mengoperasikan dan merawat sistem tersebut secara mandiri.
“Kami berharap teknologi ini membantu masyarakat bangkit setelah terdampak banjir. Selain membangun instalasi, kami juga mengajarkan cara mengelola dan merawatnya,” ujarnya.
Mahasiswa Turun Langsung Mendampingi Warga
Sebanyak 50 mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Samudra ikut menjalankan program tersebut. Mereka terlibat sejak tahap survei, penyusunan rencana, pembangunan fasilitas, hingga penyelesaian pekerjaan di lapangan.
Selama program berlangsung, para mahasiswa tinggal bersama masyarakat desa. Dengan cara itu, mereka dapat memahami kebutuhan warga sekaligus mempercepat proses pemulihan.
Ketua mahasiswa pelaksana program, Ferdinand, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya merasakan langsung kondisi masyarakat setelah bencana. Melalui program ini, kami berusaha menjalankan setiap rencana agar benar-benar memberi manfaat bagi warga Desa Aras Sembilan,” kata Ferdinand.
Selain bekerja di lapangan, tim mahasiswa juga menyusun sistem distribusi air menggunakan aplikasi EPANET. Perencanaan tersebut mempertimbangkan jaringan distribusi air yang sudah ada sehingga dapat mendukung pengembangan layanan air bersih pada masa mendatang.
Raih Penghargaan Tingkat Nasional
Program pengabdian tersebut juga membawa prestasi bagi Universitas Samudra. Taufan Arif Adlie meraih penghargaan Golden Winner pada kategori Dosen Pendamping Inspiratif berkat keberhasilannya membimbing tim mahasiswa selama menjalankan program.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek terus mendorong perguruan tinggi agar menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara kampus dan warga diharapkan mampu memperkuat ketahanan daerah terdampak bencana sekaligus mempercepat pemulihan sosial serta ekonomi secara berkelanjutan.




