Umsura dan Singapore Polytechnic Kembangkan Inovasi UMKM Surabaya Lewat LeX 2026

Must read

EDUCARE.CO.ID – Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) kembali memperluas kerja sama internasional bersama Singapore Polytechnic melalui program Learning Express (LeX) 2026.

Memasuki tahun keempat, kolaborasi tersebut mengajak mahasiswa dari kedua perguruan tinggi turun langsung ke masyarakat. Mereka mempelajari persoalan usaha lokal sekaligus mencari gagasan untuk mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan warga Surabaya.

Sebanyak 40 mahasiswa dari masing-masing perguruan tinggi mengikuti program selama dua minggu. Mereka menggunakan pendekatan design thinking untuk memahami persoalan, menggali kebutuhan, dan merancang solusi bersama masyarakat.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Muhammadiyah Surabaya, kegiatan LeX 2026 mengambil lokasi di Kampung Semanggi, Sememi, Benowo, dan Jago Karah Farm, Karah, Jambangan, Surabaya.

Mahasiswa Dalami Potensi Pecel Semanggi

Kampung Semanggi menjadi salah satu fokus utama kegiatan. Di kawasan ini, mahasiswa mempelajari budidaya tanaman semanggi sekaligus usaha pecel semanggi yang menjadi bagian dari kuliner khas Surabaya.

Mahasiswa mengamati berbagai tahapan usaha. Mereka mempelajari sistem irigasi, proses panen, pengolahan hasil, efisiensi produksi, akses pasar, serta aspek kesehatan dan keselamatan kerja petani.

Kampung Semanggi juga memiliki cukup banyak pelaku usaha. Proposal program mencatat sekitar 120 pelaku usaha pecel semanggi dan 35 petani di kawasan tersebut.

Namun, para petani masih menghadapi sejumlah kendala.

Teknologi irigasi belum bekerja secara optimal. Sebagian sumber air juga belum melalui proses penyaringan yang memadai. Selain itu, pengetahuan budidaya masih perlu berkembang dan petani masih mengandalkan proses panen manual.

Mahasiswa kemudian melihat persoalan setelah panen. Mereka mempelajari akses pasar, keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, serta peluang pengembangan rantai nilai produk.

Program ini pun tidak hanya mencari solusi berbasis teknologi. Mahasiswa juga mendorong peningkatan kapasitas masyarakat dan penguatan kelembagaan agar inovasi dapat berjalan dalam jangka panjang.

Jago Karah Farm Hadapi Tantangan Peternakan Perkotaan

Setelah mempelajari ekosistem pecel semanggi, mahasiswa melanjutkan kegiatan di Jago Karah Farm.

Peternakan ayam yang berada di kawasan Karah, Jambangan, Surabaya, tersebut menggunakan sistem closed-house. Sistem ini membantu pengelola mengatur kondisi kandang, menjaga kebersihan, mengendalikan suhu, dan mengurangi dampak lingkungan.

Pengelola juga menerapkan prinsip biosecurity. Selain itu, mereka mengatur pemberian pakan serta menjaga kesehatan ternak.

Meski menggunakan sistem tersebut, peternakan tetap menghadapi tantangan. Keterbatasan ruang menjadi salah satu persoalan. Penataan kandang juga membutuhkan perhatian agar aktivitas peternakan tetap berjalan secara efektif.

Mahasiswa turut mengamati proses pembersihan kandang. Keterbatasan waktu membuat pengelola perlu mencari cara yang lebih efisien. Di sisi lain, peternak masih melakukan pemberian pakan secara manual.

Lingkungan perkotaan menghadirkan persoalan tambahan. Kebisingan di sekitar peternakan dapat mengganggu kenyamanan dan berpotensi memengaruhi produktivitas ayam.

Melalui observasi tersebut, mahasiswa berusaha memahami kebutuhan peternak sebelum menyusun gagasan solusi.

Dosen Umsura Beri Perspektif Lintas Keilmuan

LeX 2026 juga melibatkan dosen Umsura. Mereka memberikan perspektif akademik untuk membantu mahasiswa menganalisis persoalan di lapangan.

Beberapa bidang turut mendukung proses tersebut, antara lain higiene dan sanitasi, pengelolaan limbah, sistem produksi berkelanjutan, serta pengembangan dan evaluasi prototipe.

Proposal program mencatat keterlibatan dosen dari bidang Teknik Industri serta Parasitologi dan Mikologi Umsura.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut membantu mahasiswa melihat persoalan dari berbagai sisi. Mereka tidak hanya mempertimbangkan aspek produksi, tetapi juga kesehatan, lingkungan, efisiensi, dan keberlanjutan.

Singapore Polytechnic Apresiasi Persiapan Umsura

Fasilitator Singapore Polytechnic, Lee Yoke King, mengapresiasi persiapan Umsura dalam menjalankan program LeX 2026.

“Terima kasih kepada tim Umsura yang telah mempersiapkan program ini dengan sangat baik sehingga dapat berjalan lancar. Pengalaman ini sangat bermakna dan menyenangkan. Kami berterima kasih kepada seluruh panitia dari berbagai divisi atas kerja kerasnya. Kami juga bersyukur dapat bekerja berdampingan dengan mahasiswa dan fasilitator Umsura sehingga dapat belajar dan berkarya bersama,” ujarnya.

Menurut Lee, LeX memberi pengalaman belajar yang lebih luas bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar melalui materi perkuliahan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Pengalaman tersebut sekaligus mendorong mahasiswa membangun kepedulian terhadap lingkungan sosial. Mereka belajar memahami persoalan lokal sambil bertukar pengetahuan dengan mahasiswa dari negara lain.

Design Thinking Ajak Mahasiswa Pahami Masalah dari Akar

Kepala Lembaga Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRIPM) Umsura, Arin Setyowati, mengatakan KKN LeX menjadi bagian dari kolaborasi lintas negara yang ingin memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

“Program KKN LeX ini bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi merupakan wujud nyata kolaborasi lintas negara yang dirancang untuk memberikan dampak positif secara langsung kepada masyarakat,” kata Arin.

Menurut Arin, pendekatan design thinking membantu mahasiswa memahami persoalan sebelum menentukan solusi.

Mahasiswa terlebih dahulu mengamati kondisi lapangan. Mereka kemudian menggali pengalaman masyarakat dan pelaku usaha untuk menemukan kebutuhan yang paling mendesak.

“Melalui pendekatan design thinking, mahasiswa tidak sekadar datang untuk mengamati persoalan, tetapi diajak memahami tantangan nyata masyarakat dan pelaku usaha, kemudian bersama-sama menciptakan solusi inovatif,” ujarnya.

Pendekatan tersebut juga mendorong mahasiswa berdiskusi langsung dengan komunitas. Dengan cara ini, mereka dapat mengembangkan solusi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Rektor Umsura Dorong Pengalaman Belajar Lintas Negara

Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Mundakir, mengatakan kerja sama dengan Singapore Polytechnic menjadi bagian dari strategi Umsura memperluas pengalaman belajar mahasiswa.

“Kolaborasi Umsura dengan Singapore Polytechnic melalui program LeX menjadi bagian dari komitmen kami untuk memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui kerja sama internasional. Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berkolaborasi lintas budaya dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.

Menurut Mundakir, interaksi langsung dengan masyarakat dapat melatih mahasiswa menghadapi persoalan nyata. Pengalaman tersebut juga mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan di lapangan.

Ia menilai kerja sama internasional tidak harus berhenti di lingkungan kampus.

“Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi internasional tidak harus berhenti di lingkungan kampus. Mahasiswa dari Umsura dan Singapore Polytechnic dapat belajar bersama, memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, kemudian mengembangkan gagasan inovatif yang relevan dengan kebutuhan lokal,” pungkasnya.

Gagasan dan Prototipe Akan Tampil di Gallery Walk

Selama program berlangsung, mahasiswa mengikuti sejumlah tahapan design thinking. Mereka memulai proses dengan memahami persoalan masyarakat, melakukan kunjungan lapangan, dan membangun empati.

Selanjutnya, mahasiswa berdiskusi dengan komunitas untuk merumuskan kebutuhan. Mereka kemudian mengembangkan gagasan melalui proses co-creation.

Akademisi dan masyarakat turut memberikan masukan selama proses tersebut. Mahasiswa menggunakan masukan itu untuk memperbaiki gagasan dan mengembangkan prototipe.

Pada akhir program, mahasiswa akan mempresentasikan hasil gagasan dan prototipe melalui Gallery Walk.

Program LeX 2026 pun mempertemukan pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat secara langsung. Mahasiswa Umsura dan Singapore Polytechnic tidak hanya bertukar pengalaman lintas budaya, tetapi juga belajar mencari solusi untuk persoalan lokal.

Dari budidaya tanaman semanggi hingga peternakan ayam, mereka melihat bahwa persoalan sehari-hari dapat menjadi ruang belajar sekaligus sumber inspirasi untuk melahirkan inovasi.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article