Mahasiswa Unigoro Kembangkan Bioplastik Antibakteri dari Kulit Singkong dan Daun Sirih

Must read

EDUCARE.CO.ID – Limbah kulit singkong dan daun sirih kini mendapat sentuhan inovasi dari mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro). Melalui riset Manihot Betle Activepack, mahasiswa Program Studi Kimia mengolah kedua bahan tersebut menjadi bioplastik dengan kemampuan antibakteri.

Tim mengembangkan bioplastik dari pati kulit singkong dan ekstrak daun sirih. Mereka ingin menghasilkan material ramah lingkungan yang sekaligus dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri.

Riset tersebut mengusung judul “Kemasan Aktif Berbasis Bioplastik Limbah Kulit Singkong Terimobilisasi Ekstrak Daun Sirih sebagai Agen Antibakteri dalam Upaya Reduksi Limbah Pangan.”

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) RI memberikan pendanaan untuk riset tersebut.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Bojonegoro, tim melihat dua persoalan yang dapat mereka jawab melalui penelitian ini. Pertama, masyarakat masih membuang banyak limbah kulit singkong. Kedua, limbah pangan terus bertambah dan membutuhkan berbagai solusi pengelolaan.

Kulit Singkong Punya Potensi Jadi Bahan Bioplastik

Ide penelitian berawal dari pengamatan tim terhadap limbah kulit singkong.

Mahasiswa melihat bagian kulit berwarna putih masih mengandung pati. Kandungan tersebut kemudian mereka manfaatkan sebagai bahan dasar bioplastik.

Anggota Manihot Betle Activepack, Nessa Eka Nazarena P., menjelaskan alasan tim memilih kulit singkong sebagai bahan penelitian.

“Kita lihat banyak limbah kulit singkong yang terbuang. Padahal kulit singkong yang berwarna putih mengandung pati. Di sisi lain, jumlah limbah pangan lainnya juga bertambah banyak. Ekstrak daun sirih memiliki kandungan antibakteri,” tutur Nessa, Selasa (29/9/2026).

Tim kemudian memadukan pati kulit singkong dengan ekstrak daun sirih. Mereka mengandalkan kandungan antibakteri pada daun sirih untuk memberikan fungsi tambahan pada material.

Dengan pendekatan tersebut, bioplastik tidak hanya berfungsi sebagai material pengganti plastik. Tim juga mengarahkannya sebagai kemasan aktif yang dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri.

Empat Bulan Tim Kembangkan Bioplastik

Tim Manihot Betle Activepack membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk menjalankan seluruh rangkaian riset.

Tahap pertama dimulai dengan membersihkan kulit singkong berwarna putih. Setelah itu, mahasiswa memblender kulit singkong bersama air menggunakan perbandingan 1:1.

Campuran tersebut kemudian mereka endapkan. Dari proses itu, tim memperoleh pati yang nantinya menjadi bahan utama bioplastik.

Mahasiswa selanjutnya mengeringkan endapan pati menggunakan oven. Setelah kering, mereka mengayaknya hingga berubah menjadi tepung pati singkong.

Proses berikutnya masuk ke tahap pembuatan bioplastik. Tim mencampurkan tepung pati dengan aquadest, lalu memanaskan campuran tersebut.

Ketika campuran mulai mengental, mahasiswa menambahkan gliserol dan ekstrak daun sirih.

Tim juga menjalankan proses khusus untuk memperoleh ekstrak daun sirih. Mereka menggunakan etanol selama 24 jam untuk mengekstrak senyawa dari daun tersebut.

Setelah proses ekstraksi selesai, mahasiswa menggunakan rotary evaporator untuk menghasilkan ekstrak yang lebih kental.

Tim Uji Bioplastik pada Dua Jenis Bakteri

Setelah menghasilkan material, tim menguji kemampuan antibakterinya.

Mereka menggunakan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus sebagai bakteri uji. Tim menempatkan bioplastik pada media agar untuk melihat kemampuan material dalam menghambat pertumbuhan bakteri.

Mahasiswa menggunakan tiga konsentrasi ekstrak daun sirih, yaitu 10 persen, 20 persen, dan 30 persen.

Tim memotong bioplastik menjadi bentuk bulat. Selanjutnya, mereka menempatkan potongan tersebut pada media agar dan menginkubasinya selama 24 jam.

Hasil pengujian menunjukkan perbedaan yang cukup jelas.

Konsentrasi ekstrak daun sirih sebesar 10 persen dan 20 persen belum mampu menghambat pertumbuhan bakteri dalam pengujian.

Sebaliknya, konsentrasi 30 persen menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri.

Tim melihat indikasi tersebut melalui zona bening di sekitar potongan bioplastik. Zona tersebut menunjukkan area yang tidak mengalami pertumbuhan bakteri di sekitar material.

“Ternyata ekstrak 10 persen dan 20 persen tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Kalau ekstraknya 30 persen terbukti bisa menghambat bakteri,” ungkap Nessa.

Temuan tersebut memberi gambaran awal mengenai pengaruh konsentrasi ekstrak daun sirih terhadap kemampuan antibakteri bioplastik.

Tim Temukan Tantangan pada Kekuatan Material

Hasil riset memang menunjukkan potensi antibakteri. Namun, tim masih menghadapi tantangan pada karakteristik material bioplastik.

Nessa menjelaskan bahwa jumlah pati yang mereka peroleh dari kulit singkong belum cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat material belum memiliki kekuatan yang optimal sebagai plastik.

Tim juga melihat peluang untuk meningkatkan konsentrasi ekstrak daun sirih.

Mereka ingin menguji konsentrasi di atas 30 persen dalam penelitian lanjutan. Langkah tersebut bertujuan melihat kemungkinan peningkatan kemampuan bioplastik dalam menghambat bakteri.

Meski begitu, tim tetap perlu melakukan pengujian lebih lanjut. Mereka perlu melihat hubungan antara penambahan ekstrak, kekuatan material, karakteristik bioplastik, dan kemampuan antibakterinya.

Targetkan Bioplastik untuk Kemasan Makanan

Manihot Betle Activepack tidak ingin berhenti pada tahap penelitian laboratorium.

Tim memiliki target jangka panjang untuk mengembangkan bioplastik tersebut sebagai material pembungkus makanan.

Target itu tentu membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Tim perlu meningkatkan kekuatan material sekaligus memastikan karakteristik bioplastik sesuai dengan kebutuhan kemasan pangan.

“Kandungan pati kulit singkong ternyata tidak banyak jumlahnya, sehingga kurang kuat untuk menjadi material plastik. Lalu ekstrak sirihnya bisa ditambah di atas 30 persen agar kemampuan menghambat bakterinya lebih kuat. Sedangkan untuk jangka panjangnya, kami berharap bioplastik ini benar-benar bisa menjadi plastik pembungkus makanan,” pungkas Nessa.

Jika penelitian lanjutan menghasilkan formulasi yang lebih optimal, inovasi tersebut dapat membuka peluang pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai bahan alternatif bioplastik.

Pada saat yang sama, daun sirih dapat memberikan fungsi tambahan melalui aktivitas antibakterinya.

Limbah Lokal Jadi Bahan Inovasi Mahasiswa

Riset Manihot Betle Activepack memperlihatkan cara mahasiswa memanfaatkan bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kulit singkong yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat menjadi sumber pati untuk pengembangan bioplastik. Daun sirih pun memiliki potensi sebagai bahan tambahan dengan fungsi antibakteri.

Pendekatan tersebut membuka peluang baru dalam pengembangan material ramah lingkungan.

Selain menghasilkan produk penelitian, mahasiswa juga mendapat pengalaman dalam mengolah bahan, menjalankan eksperimen, melakukan pengujian mikrobiologi, serta menganalisis hasil.

Ke depan, tim masih perlu mengembangkan formulasi agar bioplastik memiliki kekuatan yang lebih baik. Mereka juga perlu menguji efektivitas antibakteri pada berbagai kondisi.

Dengan pengembangan tersebut, Manihot Betle Activepack berpeluang membawa limbah kulit singkong dari sekadar bahan buangan menjadi bagian dari inovasi kemasan ramah lingkungan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article