UGM Ubah Limbah Tahu Jadi Biogas, Bangun Desa Sambak Menuju Agrowisata Hijau

EduNews

educare.co.id – Universitas Gadjah Mada (UGM) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan masyarakat desa melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif. Salah satu bentuk nyata kontribusi tersebut terlihat di Desa Sambak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah—desa sentra produksi tahu yang kini bertransformasi menuju desa agrowisata berkelanjutan.

Berawal dari permasalahan lingkungan akibat limbah industri tahu, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM bersama Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA) dari Jepang berhasil menghadirkan solusi inovatif: mengolah limbah tahu menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat sebagai bahan bakar. Tak hanya itu, FTP UGM juga mendampingi warga dalam pengembangan perkebunan buah sebagai bagian dari transformasi desa.

Dekan FTP UGM, Prof. Eni Harmayani, menyampaikan kebanggaannya atas capaian tersebut. Ia menilai bahwa kolaborasi lintas pihak seperti ini adalah bentuk nyata dari hilirisasi ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat.

“Ini bukti bahwa ilmu harus terhilirkan ke masyarakat untuk menjawab tantangan yang ada hingga kemudian dapat menjadi pembelajaran bagi pembangunan desa lainnya,” katanya dalam siaran tertulis UGM (29/7).

FTP UGM juga telah menggandeng Fakultas Peternakan, Fakultas Teknik, dan Sekolah Vokasi UGM untuk turut serta memperkuat pembangunan Desa Sambak dari berbagai aspek keilmuan.

Dalam acara bertajuk “From Zero to Hero: Perjalanan Kolaborasi FTP UGM–YESSA” yang digelar pada Kamis (24/7) di Desa Sambak, perwakilan YESSA Jepang, Morio Tsukada, Ph.D., menilai kerja sama yang telah berlangsung selama empat tahun ini sangat bermakna dan membawa dampak besar bagi masyarakat setempat.

Ia mengapresiasi transformasi Sambak menuju desa yang menerapkan prinsip climate smart agrotourism, yakni pengembangan potensi alam dengan memperhatikan aspek kelestarian dan isu perubahan iklim.

BACA JUGA:  Mahasiswa UGM Raih Juara Dua dalam Kompetisi Desain Jembatan Internasional

Dukungan terhadap inisiatif ini juga datang dari pemerintah daerah. Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menyampaikan apresiasinya atas pendekatan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan yang diterapkan di Sambak.

“Desa Sambak menjadi contoh bagi warga Kabupaten Magelang yang dapat berkembang di desa lain,” ujarnya.

Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM, Prof. Lilik Sutiarso, menjelaskan bahwa transformasi Sambak menuju desa agrowisata diawali dengan mengidentifikasi potensi unik yang dimiliki desa tersebut. Ia menegaskan pentingnya pendekatan berbeda agar desa memiliki daya tarik tersendiri dibanding desa wisata lainnya.

“Nantinya pengunjung yang datang dapat merasakan langsung pengalaman memetik buah dan mengkonsumsinya di tempat. Kebun buah ini juga turut disertai sistem perairan dan integrasi dengan peternakan,” paparnya.

Sejumlah upaya telah dilakukan, di antaranya penerapan steam boiler bagi produsen tahu untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Desa Sambak juga tengah diarahkan menjadi destinasi agrowisata berbasis pendidikan, dengan sejumlah mahasiswa dari Malaysia dan Belgia telah datang untuk belajar langsung dari alam.

Kepala Desa Sambak, Dahlan, turut membagikan pengalamannya dalam mengawal proses perubahan tersebut. Ia menilai kehadiran FTP UGM dan YESSA memberi solusi nyata bagi pelaku industri tahu di desanya.

“Untuk itu, kami berterima kasih kepada UGM dan YESSA dan kami berharap supaya pendampingan ini dapat terus berlangsung,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *