EDUCARE.CO.ID – Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) berhasil meraih medali emas dalam ajang International Innovation and Invention Competition (IIICe) 2026. Mereka membawa inovasi bernama StetoShare, perangkat yang mengembangkan fungsi stetoskop konvensional menjadi lebih digital.
Ketiga mahasiswa tersebut berasal dari Program Studi Teknologi Rekayasa Elektromedis (D4) UMP. Mereka adalah Bagus Satrio Wibowo, Satula Alfihkri, dan Dedi Pangat Saputra.
Tim UMP mengembangkan StetoShare untuk menjawab keterbatasan keluaran stetoskop konvensional. Selain mendukung proses pemeriksaan, mereka juga melihat peluang pemanfaatannya dalam pembelajaran bidang kesehatan.
StetoShare Bawa Stetoskop ke Format Digital
Ide StetoShare berangkat dari pengalaman tim melihat keterbatasan stetoskop konvensional. Mereka kemudian mencari cara untuk mengembangkan perangkat tersebut agar dapat memberikan pengalaman penggunaan yang lebih nyaman.
Tim juga mengarahkan inovasi tersebut untuk mendukung kebutuhan akademik. Dengan pendekatan digital, StetoShare memiliki peluang untuk membantu proses pembelajaran mahasiswa di bidang kesehatan.
Satula melihat potensi penggunaan StetoShare dalam pendidikan kedokteran dan keperawatan.
“Dari segi akademik juga saya melihat bahwa stetoskop ini dapat digunakan nantinya untuk jurusan kedokteran atau keperawatan,” ujar Satula.
Pengembangan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana mahasiswa Teknologi Rekayasa Elektromedis dapat menggabungkan pengetahuan teknologi dengan kebutuhan tenaga kesehatan.
Tiga Mahasiswa UMP Bersaing dengan Peserta dari 7 Negara
Prestasi StetoShare lahir dalam kompetisi IIICe 2026 yang diselenggarakan oleh Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) pada Agustus 2026.
Kompetisi internasional tersebut mempertemukan peserta dari tujuh negara, yaitu Malaysia, Indonesia, Pakistan, China, Singapura, Arab Saudi, dan India.
Persaingan internasional itu memberi kesempatan bagi mahasiswa UMP untuk menguji gagasan mereka di hadapan peserta dari berbagai negara.
Medali emas yang mereka raih sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan inovasi berbasis kebutuhan nyata.
Empat Bulan Kembangkan StetoShare
Tim membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk mengembangkan StetoShare.
Proses tersebut mereka mulai dari merancang ide. Selanjutnya, mereka mengembangkan konsep hingga menghasilkan produk akhir yang siap mengikuti kompetisi.
Proses pengembangan juga mendapat pendampingan dari dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Elektromedis, Abdul Latif dan Kusnanto Mukti Wibowo.
Bimbingan dosen membantu mahasiswa mengembangkan gagasan sekaligus menyelesaikan berbagai tahapan dalam proses pembuatan produk.
Ketiga mahasiswa juga menyampaikan apresiasi kepada UMP atas dukungan yang mereka terima selama mengembangkan inovasi.
StetoShare Punya Peluang di Bidang Akademik dan Kesehatan
Tim tidak hanya melihat StetoShare sebagai karya untuk kompetisi. Mereka juga ingin mengembangkan manfaatnya agar dapat digunakan dalam lingkungan akademik maupun bidang kesehatan.
Dedi berharap inovasi tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Untuk alat ini sendiri bisa mungkin saya manfaatkan dengan baik, mungkin ke depannya bisa dimanfaatkan di bidang akademik atau di bidang kesehatan,” kata Dedi.
Peluang tersebut sejalan dengan latar belakang ketiga mahasiswa. Mereka mempelajari teknologi elektromedis yang mempertemukan aspek teknologi dengan kebutuhan layanan kesehatan.
Karena itu, pengembangan StetoShare dapat menjadi ruang bagi mereka untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah ke dalam sebuah produk.
Tim Siapkan Pendaftaran HAKI
Setelah meraih medali emas, tim StetoShare masih memiliki target berikutnya. Mereka berencana mendaftarkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk inovasi tersebut.
Langkah itu penting agar karya mahasiswa memiliki perlindungan kekayaan intelektual sekaligus membuka peluang pengembangan produk pada tahap berikutnya.
Tim juga berencana kembali mengikuti kompetisi inovasi pada Desember 2026.
Dengan rencana tersebut, perjalanan StetoShare tidak berhenti setelah meraih penghargaan di IIICe. Tim masih memiliki ruang untuk menyempurnakan produk, mengembangkan manfaat, serta menguji inovasinya dalam kompetisi berikutnya.
Inovasi Mahasiswa UMP Berangkat dari Kebutuhan Nyata
StetoShare menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat mengembangkan inovasi dari persoalan yang mereka temui dalam proses pembelajaran.
Tim tidak hanya mengandalkan teori. Mereka membutuhkan waktu empat bulan untuk mengubah gagasan menjadi produk dan kemudian mengujinya melalui kompetisi internasional.
Medali emas IIICe 2026 menjadi salah satu hasil dari proses tersebut. Selanjutnya, tim ingin membawa StetoShare menuju tahap perlindungan HAKI dan pemanfaatan yang lebih luas.
Pengembangan ini juga memperlihatkan peran pendidikan tinggi dalam mendorong mahasiswa menghasilkan teknologi yang memiliki kaitan langsung dengan kebutuhan akademik dan kesehatan.

