Tiongkok Batasi Impor Film Hollywood, AS Hadapi Ancaman Kehilangan Pasar Budaya

EduNews

educare.co.id, Surabaya – Ketegangan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Pemerintah Tiongkok resmi mengumumkan pembatasan impor film Hollywood sebagai respons terhadap kebijakan tarif tambahan yang diberlakukan AS terhadap produk asal Tiongkok. Kebijakan ini diumumkan oleh Badan Perfilman Nasional Tiongkok dan langsung memicu diskusi luas, termasuk dari kalangan akademisi.

Menanggapi langkah tersebut, Guru Besar Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga, Prof. Rachmah Ida, Dra., M.Com., Ph.D., menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk melindungi dan mendorong kemajuan industri film dalam negeri.

Menurutnya, pengurangan distribusi film Hollywood ke Tiongkok dapat membuka ruang lebih besar bagi film lokal untuk berkembang dan bersaing secara sehat di pasar domestik. Selain itu, kebijakan ini juga dinilai sebagai strategi balasan yang seimbang terhadap kebijakan dagang AS.

“Selama ini kita melihat bahwa film AS mendominasi tayangan di platform-platform, seperti Netflix, Apple TV, dan sebagainya. Menurut saya, upaya ini menghentikan konsep imperialisme budaya dari AS yang selama ini dilakukan melalui film-film Hollywood pada negara-negara lain, termasuk Tiongkok,” jelas Prof. Rachmah.

Ia juga menyoroti pentingnya aspek kedekatan (proximity) dalam perfilman. Dengan film-film lokal yang lebih mencerminkan bahasa, budaya, dan isu-isu domestik, masyarakat Tiongkok diyakini akan memiliki keterikatan yang lebih kuat terhadap produk budaya negaranya sendiri.

Lebih jauh, Prof. Rachmah mengkritik kebijakan dagang AS yang dinilai egois dalam konteks diplomasi budaya. Ia menilai bahwa tindakan tersebut justru bisa menjadi bumerang bagi AS, karena membatasi jangkauan industri filmnya di pasar internasional.

“Dalam hal ini, AS yang rugi karena tidak bisa memperluas jaringan cultural production-nya dan produksi film di Tiongkok tidak mati. Kerugian ini adalah konsekuensi dari egoisme AS. Ini mengulang romantisme AS sebagai satu-satunya negara adidaya pasca Perang Dingin. Padahal, sekarang banyak negara yang muak dengan egoisme dan arogansi AS,” tegasnya.

BACA JUGA:  Menkomdigi RI Tinjau Pemasangan VSAT di Malang, Dorong Akses Internet untuk Pendidikan

Dengan semakin banyaknya negara yang mulai menumbuhkan industri perfilman lokal yang kuat, Prof. Rachmah meyakini bahwa ketidakhadiran Hollywood tidak akan berdampak signifikan terhadap dinamika sinema global. Sebaliknya, situasi ini justru membuka peluang bagi keberagaman narasi dan budaya dalam lanskap perfilman internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *