EDUCARE.CO.ID – Tahu dan tempe menjadi dua sumber protein nabati yang populer di Indonesia. Keduanya sama-sama berbahan dasar kedelai.
Namun, produsen mengolah keduanya dengan cara berbeda. Perbedaan itu memengaruhi tekstur, rasa, dan kandungan gizinya.
Lantas, tahu atau tempe, mana yang memiliki protein lebih tinggi?
Jawabannya bergantung pada jenis produk dan kadar airnya. Secara umum, tempe memiliki kandungan protein lebih tinggi daripada tahu.
Tahu dan Tempe Sama-Sama Berasal dari Kedelai
Tahu dan tempe sudah lama hadir dalam menu masyarakat Indonesia. Keduanya juga mudah ditemukan di pasar tradisional dan modern.
Selain itu, harga tahu dan tempe relatif terjangkau. Karena itu, banyak keluarga memilih keduanya sebagai sumber protein sehari-hari.
Tahu berasal dari sari kedelai. Produsen mengolah sari tersebut hingga membentuk tekstur yang padat.
Sementara itu, tempe menggunakan biji kedelai utuh. Produsen kemudian melakukan proses fermentasi dengan bantuan kapang.
Perbedaan bahan dan proses tersebut membuat karakter keduanya berbeda. Kandungan protein juga ikut berubah setelah proses pengolahan.
Berapa Protein dalam Tahu dan Tempe?
Kandungan protein setiap produk bisa berbeda. Kadar air dan cara pengolahan turut memengaruhi nilai gizinya.
Secara umum, 100 gram tempe mengandung sekitar 18–21 gram protein. Sementara itu, 100 gram tahu mengandung sekitar 8–17 gram protein.
Tahu padat biasanya memiliki kandungan protein yang lebih tinggi. Namun, nilainya tetap dapat berbeda antarproduk.
Tempe menggunakan kedelai utuh dalam proses pembuatannya. Karena itu, kandungan zat gizi dalam setiap berat tempe cenderung lebih padat.
Sebaliknya, tahu berasal dari sari kedelai. Proses tersebut membuat kandungan air tahu relatif lebih tinggi.
Akibatnya, jumlah protein per 100 gram tahu biasanya lebih rendah daripada tempe. Meski begitu, jenis dan merek produk tetap dapat menghasilkan angka yang berbeda.
Mengapa Tempe Bisa Lebih Tinggi Protein?
Perbedaan tersebut berkaitan dengan bahan utama dan proses produksinya. Tempe menggunakan seluruh biji kedelai dalam proses pembuatan.
Dengan begitu, produsen tetap mempertahankan bagian padat kedelai yang kaya zat gizi. Proses fermentasi kemudian mengubah karakteristik kedelai tersebut.
Fermentasi juga dapat membantu memecah sebagian komponen kedelai. Proses ini dapat meningkatkan kemudahan tubuh dalam mencerna beberapa zat gizi.
Selain itu, fermentasi dapat menurunkan sebagian antinutrien alami kedelai. Salah satunya adalah fitat yang dapat mengikat mineral tertentu.
Karena itu, tempe memiliki keunggulan dari sisi kepadatan nutrisi. Kandungan kedelai utuh juga membuat tempe terasa lebih padat dibandingkan tahu.
Apakah Protein Tempe Lebih Berkualitas?
Jumlah protein bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Kualitas protein juga memiliki peran penting dalam pola makan.
Kedelai termasuk sumber protein nabati dengan profil asam amino esensial yang lengkap. Karena itu, tubuh dapat memperoleh berbagai asam amino penting dari produk kedelai.
Baik tahu maupun tempe sama-sama berasal dari kedelai. Keduanya pun dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Namun, fermentasi memberi tempe karakteristik tambahan. Proses tersebut dapat meningkatkan kecernaan protein dan membantu tubuh memanfaatkan zat gizi.
Jadi, tempe memiliki keunggulan dalam jumlah protein dan proses pengolahannya. Meski begitu, tahu tetap menjadi pilihan sumber protein nabati yang baik.
Tahu Cocok untuk Menu Rendah Kalori
Tahu memiliki kandungan air yang cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat kandungan protein per 100 gramnya lebih rendah daripada tempe.
Namun, karakter tersebut juga dapat menjadi kelebihan dalam menu tertentu. Tahu dapat membantu menambah protein tanpa memberikan kepadatan energi sebesar beberapa produk kedelai yang lebih padat.
Karena itu, banyak orang memasukkan tahu ke dalam menu sehari-hari. Pilihan tersebut juga dapat menyesuaikan kebutuhan kalori dan cara memasaknya.
Perlu diperhatikan, metode memasak turut memengaruhi kandungan energi makanan. Tahu goreng tentu memiliki kandungan lemak yang berbeda dari tahu kukus atau rebus.
Tempe Bisa Jadi Pilihan untuk Asupan Protein Lebih Padat
Tempe dapat menjadi pilihan bagi orang yang ingin meningkatkan asupan protein nabati. Kandungan proteinnya per 100 gram umumnya lebih tinggi daripada tahu.
Selain itu, tempe juga mengandung serat dan berbagai zat gizi lain dari kedelai. Proses fermentasi memberikan karakteristik nutrisi yang berbeda dari tahu.
Meski begitu, kebutuhan protein setiap orang tidak sama. Usia, aktivitas fisik, kondisi tubuh, dan kebutuhan energi dapat memengaruhi kebutuhan tersebut.
Karena itu, seseorang tidak perlu memilih hanya satu jenis makanan. Tempe dan tahu dapat hadir secara bergantian dalam menu harian.
Tahu atau Tempe, Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Jika melihat kandungan protein per 100 gram, tempe umumnya memiliki jumlah protein lebih tinggi. Namun, tahu tetap memiliki nilai gizi dan manfaat dalam pola makan sehari-hari.
Pilihan juga dapat menyesuaikan tujuan makan. Tempe dapat menjadi pilihan ketika seseorang membutuhkan sumber protein nabati yang lebih padat.
Sementara itu, tahu dapat menjadi pilihan ketika seseorang menginginkan makanan berbahan kedelai dengan kandungan air lebih tinggi. Cara memasak juga perlu menjadi pertimbangan.
Pada akhirnya, konsumsi keduanya secara bergantian dapat memberikan variasi dalam menu. Pola tersebut juga membantu menjaga keberagaman sumber zat gizi.
Keduanya Tetap Bisa Masuk Menu Seimbang
Tahu dan tempe sama-sama menawarkan protein nabati yang mudah ditemukan. Harganya pun relatif terjangkau bagi masyarakat Indonesia.
Tempe unggul dalam jumlah protein per 100 gram pada banyak produk. Sementara itu, tahu menawarkan tekstur dan karakter nutrisi yang berbeda.
Jadi, tidak ada alasan untuk menganggap salah satunya sebagai pilihan mutlak. Keduanya dapat saling melengkapi dalam menu harian.
Dengan porsi yang sesuai dan cara memasak yang tepat, tahu dan tempe dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Penulis: Meilia Dewi Pertiwi

