EDUCARE.CO.ID – Banyak orang memulai hari dengan secangkir teh hangat. Selain menawarkan rasa dan aroma yang khas, teh mengandung senyawa alami yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh. Namun, cara menikmati teh juga menarik perhatian peneliti, terutama suhu saat minum dan tingkat kekentalan seduhannya.
Penelitian dalam The Journal of Internal Medicine melibatkan 485.934 peserta selama hampir satu dekade. Tim peneliti mengamati kebiasaan minum teh, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan kejadian penyakit pembuluh darah.
Hasil pengamatan menunjukkan hubungan antara konsumsi teh secara rutin dan lebih rendahnya kejadian penyakit pembuluh darah. Pola hidup sehat, termasuk rutin berolahraga dan tidak merokok, juga menjadi bagian penting dalam temuan tersebut.
Meski demikian, penelitian ini tidak membuktikan bahwa teh secara langsung mencegah penyakit jantung. Hasilnya menunjukkan hubungan statistik, bukan kepastian sebab-akibat.
Polifenol dalam Teh Berpotensi Mendukung Kesehatan Pembuluh Darah
Teh mengandung polifenol, yaitu senyawa alami dari tumbuhan yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa ini juga berpotensi membantu mengurangi peradangan dalam tubuh.
Lauri Wright, direktur Program Nutrisi sekaligus profesor di Fakultas Kesehatan Masyarakat University of South Florida, menjelaskan bahwa polifenol dapat membantu melindungi pembuluh darah dari kerusakan akibat stres oksidatif dan peradangan.
Polifenol juga berpotensi mendukung fungsi endotel, yaitu lapisan sel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah. Lapisan ini membantu mengatur aliran darah dan menjaga fungsi pembuluh darah.
Namun, teh bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kesehatan jantung. Pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan kondisi kesehatan turut menentukan risiko penyakit kardiovaskular.
Minum Teh saat Masih Terlalu Panas Perlu Dihindari
Suhu teh saat diminum menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian peneliti. Peserta yang terbiasa minum teh dalam kondisi sangat panas menunjukkan risiko penyakit kardiovaskular 16 persen lebih tinggi dibandingkan peserta yang memilih suhu lebih rendah.
Angka tersebut menggambarkan hubungan statistik dalam penelitian. Hasil itu tidak membuktikan bahwa suhu teh secara langsung menyebabkan penyakit jantung. Faktor lain juga mungkin memengaruhi hasil pengamatan.
Karena itu, masyarakat tetap boleh menyeduh teh menggunakan air panas. Air panas membantu mengekstraksi senyawa dari daun teh selama proses penyeduhan.
Hal yang perlu diperhatikan ialah suhu teh ketika diminum. Tunggu beberapa saat setelah menyeduh agar suhunya turun dan terasa nyaman saat masuk ke mulut.
Kebiasaan ini membantu menghindari paparan minuman yang terlalu panas. Jadi, kamu tidak perlu meninggalkan teh panas sepenuhnya, tetapi sebaiknya tidak langsung meminumnya saat masih mengepul.
Seduhan Teh Sedang Menunjukkan Hasil yang Menarik
Selain suhu, penelitian tersebut juga mengamati tingkat kekentalan seduhan teh. Peserta yang memilih seduhan berkekuatan sedang menunjukkan kejadian kardiovaskular lebih rendah dibandingkan kelompok yang memilih seduhan ringan atau sangat pekat.
Namun, temuan ini tidak berarti seduhan sedang pasti memiliki kandungan antioksidan paling ideal. Tim peneliti mengandalkan laporan peserta mengenai kebiasaan mereka dan tidak menggunakan standar universal untuk mengukur kekentalan teh.
Proses penyeduhan melepaskan berbagai senyawa dari daun teh, termasuk polifenol, kafein, dan tanin. Jumlah senyawa yang terlarut bergantung pada jenis teh, suhu air, dan lama penyeduhan.
Seduhan yang lebih lama juga tidak otomatis memberikan manfaat kesehatan lebih besar. Teh yang terlalu pekat dapat menghasilkan rasa pahit dan sepat, bergantung pada jenis daun dan cara penyajiannya.
Wright menyarankan masyarakat mengikuti petunjuk penyeduhan pada kemasan. Cara ini membantu menghasilkan seduhan sesuai rekomendasi untuk produk yang digunakan.
Seberapa Sering Sebaiknya Minum Teh?
Frekuensi konsumsi teh juga menunjukkan hubungan dengan kejadian penyakit pembuluh darah. Peserta yang melaporkan minum teh setidaknya tiga kali seminggu memiliki risiko 11 persen lebih rendah dibandingkan kelompok pembanding.
Sementara itu, peserta yang melaporkan konsumsi enam hingga delapan cangkir sehari menunjukkan angka kejadian penyakit pembuluh darah terendah dalam penelitian tersebut.
Namun, hasil itu bukan anjuran agar semua orang minum teh sebanyak itu. Penelitian observasional tidak dapat memastikan bahwa frekuensi konsumsi tersebut menjadi penyebab rendahnya risiko penyakit.
Setiap orang memiliki kebutuhan dan toleransi yang berbeda. Kandungan kafein, kondisi kesehatan, serta pengaruhnya terhadap kualitas tidur perlu menjadi pertimbangan saat menentukan jumlah teh harian.
Kamu dapat menikmati teh secara wajar tanpa harus mengejar jumlah cangkir tertentu. Menjaga pola makan, berolahraga, dan menghindari rokok tetap menjadi bagian penting dari upaya memelihara kesehatan jantung.
Teh Hitam dan Teh Hijau Sama-Sama Memiliki Potensi Manfaat
Penelitian tersebut menunjukkan hubungan kardiovaskular yang lebih konsisten pada peserta yang rutin minum teh hitam dibandingkan peminum teh hijau. Namun, hasil ini tidak membuktikan bahwa teh hitam lebih sehat daripada teh hijau.
Kedua jenis teh berasal dari tanaman yang sama, yaitu Camellia sinensis. Perbedaan proses pengolahan menghasilkan karakteristik rasa dan komposisi senyawa yang berbeda.
Produsen mengolah teh hitam melalui proses oksidasi yang lebih lanjut. Sebaliknya, proses pengolahan teh hijau membantu mempertahankan karakteristik senyawa khasnya. Perbedaan ini memengaruhi profil polifenol pada kedua jenis teh.
Penelitian lain juga mengkaji potensi teh hitam dan teh hijau dalam mendukung kesehatan kardiovaskular. Hasil penelitian dapat berbeda karena setiap studi menggunakan populasi dan metode yang berlainan.
Karena itu, kamu tidak perlu mengganti jenis teh favorit hanya berdasarkan satu penelitian. Pilih teh sesuai selera dan kebiasaan, lalu perhatikan jumlah konsumsi serta cara penyajiannya.
Gaya Hidup Sehat Tetap Menjadi Kunci Kesehatan Jantung
Penelitian ini menyoroti hubungan antara kebiasaan minum teh dan kesehatan pembuluh darah. Namun, konsumsi teh tidak menggantikan kebiasaan sehat lainnya.
Wright menegaskan bahwa tidak ada satu jenis minuman yang dapat menjadi solusi tunggal untuk menjaga kesehatan jantung. Konsumsi teh perlu berjalan bersama pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan kebiasaan menghindari rokok.
Perhatikan pula respons tubuh terhadap kafein. Bagi orang yang sensitif, konsumsi teh dalam jumlah besar atau menjelang waktu tidur dapat mengganggu kualitas istirahat.
Berdasarkan penelitian dalam The Journal of Internal Medicine dan penjelasan pakar nutrisi Lauri Wright, kebiasaan minum teh memiliki hubungan dengan sejumlah indikator kesehatan pembuluh darah. Peneliti juga mengamati perbedaan berdasarkan suhu, kekentalan, dan frekuensi konsumsi.
Meski demikian, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa faktor-faktor itu secara langsung menyebabkan penurunan atau peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Masyarakat dapat menikmati teh sebagai bagian dari rutinitas harian sambil menjaga pola makan, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehat lainnya.

