Psikolog UPH Beri Lima Tips Bijak Orang Tua dalam Menghadapi Remaja Jatuh Cinta
educare.co.id, Tangerang – Masa remaja sering kali menjadi periode penuh gejolak emosi dan pencarian jati diri, termasuk pengalaman jatuh cinta untuk pertama kalinya. Di usia ini, rasa ingin tahu yang tinggi kerap tidak sejalan dengan kematangan emosi, menjadikan relasi romantis sebagai tantangan tersendiri—baik bagi remaja maupun orang tuanya.
Data Indeks Ketahanan Remaja 2024 dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa 45,5% remaja Indonesia usia 11–24 tahun pernah berpacaran. Tak sedikit dari mereka bahkan telah menjalin relasi fisik (physical touch). Fakta ini menegaskan bahwa hubungan anak muda saat ini semakin kompleks, dan kehadiran orang tua sebagai pendamping bijak menjadi sangat krusial.
Menanggapi fenomena tersebut, dosen sekaligus psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH), Allessandra Theresia, M.Psi., berbagi lima langkah praktis bagi orang tua dalam mendampingi anak menghadapi fase cinta pertamanya. Materi ini disampaikan dalam seminar daring bertajuk “Love, Trust, and Honest Talks: Parenting Teens in Their Romantic Years” yang digelar pada 5 Juli 2025 oleh UPH.
1. Dengarkan, Bukan Langsung Menghakimi
Saat anak mulai membuka diri dan bercerita tentang orang yang mereka sukai, respons awal orang tua sangat menentukan kelanjutan komunikasi.
“Remaja butuh tempat aman untuk mengekspresikan perasaan mereka. Kalau setiap kali cerita langsung disambut dengan ceramah atau kritik, mereka bisa kapok dan akhirnya memilih untuk menyembunyikan banyak hal dari orang tuanya,” jelas Allessandra, dalam siaran tertulis uph (24/7).
Ia menyarankan agar orang tua memberi respons terbuka dan tidak menghakimi, misalnya dengan bertanya penuh rasa ingin tahu, seperti “Oh ya? Kamu suka dia karena apa?” alih-alih langsung melarang.
2. Ajukan Pertanyaan Reflektif, Bukan Interogatif
Nada menyelidik seperti “Kamu pacaran ya?” dapat memicu sikap defensif. Sebaliknya, gunakan pertanyaan terbuka dan reflektif untuk membangun percakapan yang sehat. Misalnya: “Menurut kamu, pacaran sehat itu seperti apa?” atau “Kamu nyaman ngobrol sama dia karena apa?”
Tujuannya bukan hanya menggali informasi, tetapi menciptakan ruang dialog yang aman dan penuh kepercayaan.
3. Bantu Anak Memahami Emosinya
Emosi cinta, kagum, tertarik, atau sayang sering kali membaur dan membingungkan bagi remaja. Orang tua dapat berperan sebagai pendamping dalam membantu anak mengenali perasaan-perasaan ini dan mengelolanya dengan sehat.
Menurut Allessandra, cinta yang sehat dibangun atas dasar saling menghargai dan mendukung, bukan paksaan atau ketergantungan. “Bimbinglah mereka dengan empati, bukan dengan kontrol,” sarannya.
4. Jadilah Kompas Emosional Anak
Setiap orang tua memiliki gaya pengasuhan yang berbeda—ibu mungkin cenderung aktif dan penuh perhatian, sementara ayah tampak lebih santai atau bahkan kurang terlibat. Namun, bagi anak, kedua sosok ini dibutuhkan secara seimbang.
“Karena itu kuncinya adalah satu suara dalam pengasuhan. Anak belajar memahami dunia dari bagaimana orang tuanya merespons situasi. Maka, jadilah kompas emosional yang stabil, yang menunjukkan arah, bukan membingungkan,” ujar Allessandra.
5. Saat Anak Terjebak dalam Relasi yang Tidak Sehat
Cinta pertama tidak selalu berjalan mulus. Terkadang, anak terlibat dalam hubungan yang tidak sehat, ditandai dengan perubahan sikap seperti menarik diri, mudah marah, atau kehilangan minat pada hal yang biasanya disukai.
Jika ini terjadi, Allessandra menekankan pentingnya pendekatan empatik. Orang tua perlu menciptakan ruang dialog yang terbuka dan menghindari sikap menghakimi. “Pertanyaan ringan seperti ini bisa membuka ruang aman untuk anak bercerita. Di sinilah peran orang tua penting. Orangtua bukan hadir untuk mengontrol, tapi membimbing. Bantu anak mengenali perasaan, memahami batasan, serta arti hubungan sehat dan tanggung jawab,” tambahnya.
Salah satu pendekatan yang disarankan adalah mengobrol santai melalui film atau cerita fiksi yang relevan. Misalnya, dengan bertanya: “Menurut kamu, hubungan di film ini sehat nggak?”—sebagai pemantik diskusi yang tidak mengintimidasi.
UPH Dorong Peran Keluarga dalam Pengasuhan Emosional Remaja
Seminar ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Pelita Harapan dalam mendukung pengasuhan yang utuh, tidak hanya secara akademis, tetapi juga secara mental, emosional, dan spiritual. UPH percaya bahwa pendidikan karakter dimulai dari keluarga, dan orang tua memiliki peran strategis dalam membentuk remaja yang tangguh dan sehat secara psikis.
Melalui program-program edukatif seperti ini, UPH terus berkontribusi membina generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas, peka secara sosial, dan siap menjalankan panggilan hidup mereka dengan penuh tanggung jawab.
